| I
N D O N E S I A N-----I D L E
alias Riwayat
Seni Rupa Bob ‘Sick’ Yudhita Agung,
dengan aksiden S. Teddy D. &
Ugo Untoro
1991 – 2005

1.
Adat Rimba Raya: Bob, Gerombolan, Seniman, Realisme, Sosialisme
Saat
ini umat manusia terbagi secara politis menjadi seperti ini:
satu orang bijak, sembilan penjahat, dan sembilan puluh orang
pandir, per 100 KK. Itu pun menurut hitungan pengamat yang optimis.
(T.H.
White, The Book Of Merlyn, 1977)
“Aku
cuma pengen jadi seniman,” kata Bob.
Kalimat
semacam itu sudah rutin diluncurkannya.
Selama
14 tahun saya mengenalnya, kira-kira sudah tiga triliun kali dia
mengucapkan kalimat yang sama; sejak 1991. Waktu itu dia masih
muda.
“Memangnya
mau apa kalau kamu sudah jadi seniman?” tanya saya. Waktu
masih muda, biasanya saya bertanya.
“Mmmm.....yah.....entahlah.....Aku
akan melakukan sesuatu,” jawabnya.
Orang-orang
yang Melakukan Sesuatu umumnya termasuk golongan yang tak tertahankan
kecuali kalau Anda sedang siap-siap melangsungkan upacara pernikahan
yang gilang-gemilang – kalau sudah begitu, kebanyakan dari
mereka akan mendadak berubah menjadi Orang-orang yang Mengacaukan
Sesuatu, selamanya saling meniadakan, umpamanya Orang-orang yang
Mengerjakan Dekorasi merusak segalanya yang dilakukan oleh Orang-orang
yang Mengurus Piranti Listrik, and semuanya berpuncak pada pembatalan
pesta itu sendiri gara-gara Orang-orang yang Mengurus Katering.
Saya
kira Bob tak punya pilihan lain. Satu-satunya jalan supaya kelihatan
seperti orang yang Melakukan Sesuatu padahal sebenarnya menganggur,
dan biar tampak menganggur sementara sesungguhnya Melakukan Sesuatu,
memang dengan cara dikenal sebagai seniman.
Segala
jenis manusia diasuh oleh masyarakat supaya mencibir pada orang
yang Tidak Melakukan Apa-apa. Mereka tak pernah mau tahu bahwa
segala jenis prestasi manusia selama ini dicapai manakala orang
sedang menganggur. Bukan hanya penemuan tapi juga penelitian berakhir
dengan Tidak Melakukan Apa-apa, dan hasil akhirnya semata-mata
kebetulan saja. Columbus berlayar ke India tapi menemukan Amerika.
Fleming mendapat penisilin hanya karena malasnya. Kita berangkat
mencari sesuatu dan pulang mencangking sesuatu yang lain; saya
pernah mengetik esai tentang keshogunan Tokugawa dan yang rampung
adalah artikel tentang peternakan.
Seniman
adalah orang yang Melakukan Sesuatu, meskipun ibu mertuanya mati-matian
membantah gagasan ini dengan mengemukakan bukti-bukti seperti
atap yang bocor tak tertambal sejak 1971, dan timbunan rekening
tak terbayar yang entah bagaimana selalu saja berdatangan. Sebagian
seniman juga bakal menolak gagasan itu, dan mereka ini berusaha
keras supaya semua orang tahu bahwa yang mereka lakukan hanyalah
menjadi diri mereka sendiri. Itulah realisme sosial versus humanisme
universal menurut orang awam seperti saya.
Persoalannya,
buat Bob, terletak pada kata-kata ‘dikenal sebagai‘,
bukan pada ‘seniman’. Namun pertanyaan terdini yang
serta-merta mengemuka adalah, apa itu seniman?
Hegel
barangkali akan berkata “Orang-orang yang Melakukan Hal-hal
Kelas Kambing” – di bawah Orang-orang yang Berfilsafat
dan Orang-orang yang Berkutat dengan Masalah-masalah Keagamaan
– tapi definisi ini akan membawa-bawa perusahaan-perusahaan
penerbangan tertentu, jadi tak bisa saya gunakan. Penyair Arthur
Thomson akan berucap, “Makhluk-makhluk yang berkecenderungan
untuk menaiki kapal yang sedang tenggelam”, namun pemerian
ini terlalu luas – yang direngkuhnya bukan cuma seniman,
tapi juga segenap warganegara Republik Indonesia. Sumber-sumber
adiluhung seperti Kamus Besar memberi batasan seperti “orang
yang panggilan hidup atau mata pencahariannya dalam kesenian”,
tapi definisi seperti ini akan meniscayakan pencarian makna kata-kata
seperti ‘panggilan hidup’ dan ‘mata pencaharian’,
sebab mereka yang di sekitar Bob agak sulit menelan kata-kata
bersuku lebih dari dua.
Sebenarnya
definisi yang diwariskan oleh nenek saya paling afdol, tetapi
luar biasa luas cakupannya hingga seplanet penuh akan termasuk
seluruhnya: “Seniman adalah seseorang yang melakukan sesuatu
walaupun tidak ada seorang atau sesuatu pun yang menyuruhnya melakukan
sesuatu itu, yang akan tetap dilakukannya karena dia tak bisa
menahan diri untuk tidak melakukannya” (sekarang Anda tahu
mengapa cara bicara saya seperti ini; ini perkara DNA). Dalam
jabaran nenek, segala jenis orang bisa masuk, misalnya sepupu
saya Dessy, yang selalu terbirit-birit ke kamar mandi ke mana
pun dia pergi, tepat pada saat tiba di sana. Sangat mirip dengan
anjing piaraan adik saya.
Jadi
tidak ada definisi kebal-gugatan tentang apa yang menjadikan seorang
seniman seorang seniman, kecuali bahwa mereka ini terus-terusan
melakukan sesuatu, membuat sesuatu, merusak sesuatu, membuat sesuatu
dari sesuatu yang sudah dirusak tadi, atau tidak melakukan apa-apa
sama sekali menurut orang-orang lain. Untuk mendapatkan definisi
yang agak praktis kita terpaksa merujuk pada kegiatan-kegiatan
seperti pencemaran kanvas perawan dengan cat, pemenggalan batang-batang
kayu yang kemudian dijadikan sesuatu yang tak pernah diniatkan
oleh Tuhan atas batang kayu, menaruh barang-barang secara tak
pada tempatnya, dan sebagainya. Seniman itu seperti itu orangnya.
Toh
‘apa itu seniman’ tetap saja masuk ke gelanggang perdebatan
di Planet Seni. Satu-satunya fungsi diskusi di situ, saya kira,
adalah untuk membangunkan orang, supaya tidak disangka sebagai
Orang-orang yang Tidak Melakukan Apa-apa. Sedangkan Tidak Melakukan
Apa-apa adalah dosa sosial sekarang ini. Maka kita pun sering
mendengar beberapa seniman dibantai secara verbal lantaran mereka
itu formalis, lalu mereka membalas dengan penggebukan verbal atas
seniman-seniman lain yang kata mereka kapitalis, sementara para
seniman lain lagi gencar terlibat huru-hara verbal mengenai siapa
yang berseni untuk rakyat dan siapa yang terimbas Sindrom Menara
Gading. Mereka juga saling tikam secara verbal tentang perkara-perkara
dasar visual, umpamanya garis dan warna dan tekstur, gaya dan
tema dan guna dan harga (yang terakhir ini membangunkan lebih
banyak orang yang semula ketiduran selama diskusi). Istilah-istilah
yang dibongkar di pabean dari antara petikemas barang impor, kata-kata
yang baru keluar dari bengkel ‘kata-kata sulit’, dan
yang digubah sendiri oleh orang-orang tertentu dan karenanya kikuk
dan ajaib di telinga, beterbangan ke segala penjuru selama diskusi
seni berlangsung. Kata-kata dan istilah-istilah itu sendiri juga
menjadi bahan perdebatan tersendiri. Dari teritis orang awam sih,
tak terlihat apa pun yang baru.
Baru-baru
ini saya kebetulan menguping sebuah perdebatan semacam itu, antara
seorang seniman dan seorang kritikus senirupa (oh ya, saya kebetulan
punya stok definisi ‘kritikus senirupa’ yang lumayan
gemuknya – silakan kirim surat digital kalau berminat).
Topik debat itu adalah “apakah seni yang bermanfaat itu?”
Pertanyaan
yang suam-suam kuku takkan mendapat jawaban yang matang, dan pertanyaan
yang keliru tidak bakal pernah memperoleh jawaban yang benar.
Apakah
seni yang bermanfaat itu? Anda pasti bergurau. Iya, kan? Mengaku
sajalah bahwa Anda cuma guyon. Mustahil Anda lontarkan pertanyaan
semacam itu kecuali kalau cuma bercanda. ANDA TAK MUNGKIN SERIUS,
KAN?
Nun
jauh di masa penciptaan jagat raya, ketika belum ada korupsi alam
semesta semisal limbah bahan-bahan kimia, Istana Kepresidenan,
jalan tol, dan lukisan yang harganya setara dengan penghasilan
nasional tiga negara digabung jadi satu, segala hal ada manfaatnya.
Tak seorang pun menamai sesuatu pun ‘seni’, dan jagat
jasmaniah serta kosakata yang tersedia waktu itu, yang memuat
kata-kata sifat, sungguh-sungguh tenteram adanya, karena belum
ada apa pun yang dikenai sebutan ‘artistik’. Mitos
dan cerita rakyat. Jimat dan rajah. Lambang-lambang dan sabda
para dewa. Sebut saja; segalanya punya kegunaan yang jelas, dan
fungsi ini praktis semua.
Ketidakbergunaan,
ketiadaan tujuan, kondisi tanpa arah, semua itu diciptakan dengan
sepenuh hati dan digarap secara serius dan dikampanyekan dengan
getol – jauh sesudah bumi menjadi makin panas dan sekte-sekte
Hari Kiamat merajalela.
Jadi,
pada mulanya dan sejatinya, tidak ada yang namanya ‘seni
yang bermanfaat’. Bahkan kredo sosialis-realis yang kira-kira
bunyinya “realisme itu bukan gaya, bukan musiman, melainkan
adidaya seni mendasar,” tergolong igauan semata.
Sepotong
kanvas yang diwarnai, umpamanya, yang digantungkan di dinding,
apa sih gunanya? Apa saja. Anda bisa memelototinya berjam-jam
dalam upaya yang salah kaprah untuk meneladani para bijak-bestari
Zen. Anda dapat merenung-renungi warna-warnanya dan bentuk-bentuknya
dan – renungan ini yang paling besar maslahatnya –
harganya. Anda mungkin bersibuk diri mencari-cari tempat yang
paling pas untuk memajang kanvas itu, yang cocok dengan pola dan
warna tirai ruangannya. Atau Anda dapat melempar saja kanvas itu
ke dalam api dan menganggapnya tak pernah ada.
Kadang,
buat orang awam seperti saya, berat nian menghindarkan gangguan
dari Planet Seni. Orang-orang yang Melakukan Sesuatu di sana menciptakan
apa yang sekarang sudah disepakati oleh seluruh penduduk Planet
Seni – ketidakbergunaan, dan sebagainya – lalu sekarang
mereka saling gempur tentang itu. Benar-benar ketidakbergunaan
yang luar biasa. Namun, tentu saja, keberadaan Planet Seni itu
sendiri tergantung pada perdebatan-perdebatan tak berujung semacam
itu. “Bila Anda tidak melukis, bikin ribut sajalah.”
Hanya di Planet Seni doktrin semacam ini mendapat pengikut. Seorang
tukang kayu tulen pasti menganggapnya edan dan tak praktis sama
sekali.
Realisme
apa, sih? Realitasnya siapa?
Orang-orang
awam itu nyata, dan tanpa banyak bunyi kami ini semuanya realis.
Kalau tidak, mana mungkin bertahan hidup. Itu sebabnya saya sulit
menganggap realisme sosialis di senirupa sebagai sesuatu yang
secara sosial mulia.
Ketika
Republik ini menjadi saksi jual-beli sebuah lukisan yang terus-terang
saja terlalu besar ukurannya untuk sesuatu yang warna-warnanya
mengingatkan saya pada kain lap di bengkel mobil, yang menggambarkan
seekor babi liar yang limbung kena tombak atau apa, yang katanya
melambangkan penyakit sosiopolitis negeri kita, apa yang didapat
oleh wilayah sosial dari penjualan spektakuler (angka nol-nya
banyak sekali!) itu? Mengapa saya tidak mendapat apa-apa? Dari
‘realisme sosial’, saya termasuk yang ‘sosial’nya,
kan? Kok cek-nya tidak terciprat ke sini?
Sejak
saya menulis beberapa potong esai yang isinya dianggap melecehkan
‘seni untuk rakyat’, ada beberapa orang yang mengira
saya ini pembela karya-karya seni yang laris dan promotor segala
sesuatu yang ringkasnya dinamakan ‘komersialisme seni’.
Ya
ampun. Coba tengok lagi riwayat seni itu.
Mula-mula,
tidak ada yang namanya ‘seni’. Lalu, apa yang kita
sebut ‘seni’ adalah segala sesuatu yang ada gunanya.
Lantas, semua itu jadi tak ada gunanya. Kemudian, ketidakbergunaan
seni entah bagaimana menghasilkan uang, dan terbentuklah segerombolan
penghasil karya-karya seni sebagai suatu profesi. Sesudah itu,
muncul kultus sesuatu yang namanya ‘seni’ tanpa ada
hubungannya dengan perkara finansial, dan ini pun banyak pengikutnya.
Sekarang golongan pembuat ketidakbergunaan yang menghasilkan uang
saling kepruk dengan para penghasil ketidakbergunaan yang tak
laku dijual. Terus bagaimana? Orang awam mah bilang, “emang
gue pikirin!”
Tiba-tiba
suatu hari si Bob mampir selepas kondangan pembukaan pameran seseorang
dan berkata, “Aku ini seniman biarpun nggak melukis. Aku
seniman rakyat.”
“Rakyat
yang mana?” tanya saya. Soalnya waktu itu saya masih muda.
“RAKYAT,”
jawab si Bob.
Dia
habis melalap bacaan wajib di gerombolan pengangguran Yogya yang
waktu itu dikuntitnya ke mana-mana, yang menyebut diri ‘komunitas’,
dan mengaku ideologis, sedangkan Bob agak repot kalau disuruh
menebak arti ‘komunitas’ dan ‘ideologi’,
karenanya dia merasa mendapat kawan yang hebat-hebat. Buku yang
baru dibacanya berjudul Realisme Sosialis, isinya pikiran-pikiran
Georg Lukacs. Sejak itu dia baptis dirinya dengan nama ‘Sick’.
Salah
satu kritik terhadap realisme sosialis, misalkan Anda pakai sudut
pandang humanisme universal atau apalah namanya, adalah bahwa
realisme sosialis terlampau gendut dengan muatan kekeliruan-kekeliruan
yang menyeramkan, umpamanya yang melibatkan Josef Stalin. Seni
di situ dianggap pendosa kelas kakap yang khas keluaran rezim
sosialis, yakni tiap orang punya Mandor, tiap orang musti mengikuti
aturan-aturan tertentu ketika Melakukan Sesuatu, dan diharapkan
menghasilkan sesuatu yang seragam dengan yang dibuat orang-orang
lain, sementara hasil ini sudah ditentukan bentuknya sejak sebelum
pembuatannya dimulai. Jadi, untuk melawan semua ini, slogan perangnya
adalah “Keseragaman itu Gombal!” atau “Persetan
dengan Komando!” atau semacam itulah.
Bagaimana
mungkin sebutir kepala yang benar-benar waras bisa antusias membebek
peneriakan semboyan semacam itu? Anti-komando? Anti-seragam? Yang
benar saja. Apa pun istilah yang dipakai untuk menamainya, bendanya
sendiri tetap saja sama: Anda butuh persetujuan kelompok, Anda
ikuti apa yang katanya ‘baik’ (‘nya’ di
sini mayoritas dalam kelompok, atau lebih parah lagi otoritas
dalam kelompok), baik Anda di sisi rezim yang menyeragamkan orang
itu ataupun berpihak pada yang memberontak terhadapnya. Sama saja.
Anda tetap ikut komando, Anda tetap berseragam.
Di
tiap kelompok, sudah takdirnya ada yang mencuat seperti bangau
di tengah kawanan bebek. Orang ini, apa pun yang terjadi, akan
otomatis menjadi ketua kelompok, secara resmi atau tidak resmi,
dan memborong semua penentuan keputusan di dalamnya. Mau realisme
sosial kek, komersialisme kek, sama saja.
Di
kelompok si Bob itu, umpamanya, tanpa garis komando yang jelas
pun, si X menentukan buku apa yang dibaca para pembebeknya, menetapkan
kegiatan apa yang akan diproposalkan dan dijajakan ke galeri-galeri
komersial yang mereka benci setengah mati itu (kecuali ketika
butuh sponsor), bahkan gaya rambut dan pakaian apa yang paling
pantas buat seorang realis-sosialis yang mengaku bekerja di senirupa.
Jadi,
siapa yang bisa mengelakkan komando? Di Planet Seni, dengan liga
yang kadar keterpencarannya terbatas dan jenis spesiesnya sangat
sedikit itu, di mana bertahta sosok-sosok bernama ‘kritikus
seni’ dan ‘kurator seni’ yang juga berseragam
dan bergerak menurut komando: dalam mimpi.
Bahkan
definisi dan manifestasi ‘sakit’ pun seragam di Planet
Seni Anda ini. Definisi dan manifestasi ‘gila’ juga
seragam.
Manusia
pada dasarnya tukang mengelompok, dan watak ini nyaris tak mungkin
disingkiri, bahkan pun pada saat pengejawantahan niat untuk tampil
otentik. Tak ada yang berdiri sendirian di Planet Seni. Tak ada
yang berani. Atau tak ada yang bekal dari sononya memungkinkan
itu.
‘Sickness’?
‘Madness’? Klaim bahwa seorang seniman sering melihat
hantu, mendambakan tindik di mana-mana dan lusinan tato dan literan
alkohol dan beberapa kilo pil penenang dan peristiwa-peristiwa
yang mematahkan hati dan tampilan-tampilan nyentrik – itu
seragam semuanya, biasa saja. Jatuh-bangun kena penyakit saraf
tiap tiga bulan sekali, atau digotong ke Rumah Sakit Jiwa acapkali
menjelang pameran tunggal? Seragam, biasa saja. Mabuk-mabukan
dan kecemplung sumur, menabrak truk yang diparkir, digebuki aparat,
dikerjai jago karate di jalanan sampai gigi rompal semua? Seragam,
biasa saja. Mengaku dibimbing kekuatan supernatural? Membakar,
menyobek kanvas sesudah lukisan selesai? Seragam, biasa saja.
Ngotot menjual lukisan seharga 666 dolar Amerika, tak boleh kurang,
tak boleh lebih, sehingga makelar lukisan jadi pusing tujuh keliling?
Seragam, biasa saja.
‘Sickness’
dan ‘madness’ di Planet Seni sangat tidak kreatif.
Semuanya didiktekan oleh Orang-orang ‘Sakit’ dan Orang-orang
‘Gila’ di atas planet itu. Dengan kata lain, oleh
kelompok. Seragam. Komando. Ada pelukis sekitar sini yang pameran
sambil peragaan melukis dengan tubuhnya sendiri, dalam posisi
sanggama dengan istrinya. Ini sesuatu yang baru? Hahahaha. Seragam,
biasa saja. Sudah jelas aksi semacam itu akan menimbulkan reaksi
seperti apa dan anggapan macam apa. Tak ada hebatnya. Mana lukisannya
jelek, pula, yang juga sudah bisa diduga karena kucing terpeleset
cat di atas kanvas pun akan menghasilkan ‘lukisan’
yang persis sama dengan pelukis bersanggama itu.
Begitu
rentan si Bob terhadap virus gerombolan dan begitu gampang dibuat
kagum oleh hal-hal yang tak ada nilainya. Sedangkan orang awam,
mereka hanya mengharap agar Orang-orang yang Melakukan Sesuatu
di Planet Seni mengerjakannya sebaik mungkin. Kalau harapan sederhana
ini pun tak bisa dipenuhi, sedikitnya jangan terlalu bising. Orang
awam itu kerja di sela-sela jam tidur, lho.
Dan
tentang apa guna seni atau bagaimana seharusnya seni – siapa
sih saya, siapa Anda, kok menentukan yang begituan?
Buat
orang awam, senirupa itu baik-baik saja, selama tak dilandasi
pikiran-pikiran yang secara filosofis jorok – artinya, yang
tak bermakna sama sekali buat siapa pun di dunia ini. Untuk orang
awam, kalau Anda Melakukan Sesuatu di kesenian, Anda seniman,
habis perkara. Mereka tidak berisik menyoal pekerjaan Anda; kenapa
Anda harus ribut mengenainya?
Dan
kalau orang awam tidak gegap-gempita menyambut karya seni Anda,
jangan sewot, jangan lantas menganggap orang awam tidak paham.
Sebagian besar kasus penolakan orang awam terjadi justru karena
paham betul apa yang Anda sodorkan.
Lagipula
‘memahami’ tidak pernah sinonim dengan ‘menerima’,
lebih-lebih dengan ‘menyukai’, bukan?
2.
Bersabung Asap: Bob, Nara, Nietzsche, Basquiat, Bob
Bob
bukan makhluk yang tanpa kedip memandang ke dalam, seperti Ugo
Untoro. Dia juga bukan orang yang tanpa akhir melihat ke luar,
seperti S. Teddy D. Jadinya dia tak tahu dirinya itu apa. “Aku
nggak tahu aku ini apa,” katanya.
Saya
beritahu, deh, Bob itu apa. Bob itu Melakukan Sesuatu.
Bob
itu melukis, menggambar, menulis, menjerit, meludah, memuakkan
(yang terakhir itu prerogatif saya).
Bob
Melakukan Sesuatu di luar kehendaknya sendiri.
Ada
istilah yang paling pas untuk membaptis fenomena semacam ini,
celakanya cuma ada di bahasa Jepang. Ini dia:

‘Manga’. Tak peduli seberapa mirip dengan tuturan
Klingon di telinga Anda, kata ini sudah lama menjadi bagian dari
kosakata global sedikit-dikitnya sejak 1990. Artinya ‘buku
komik’ (klik
di sini untuk sejarah komik dan animasi Jepang sejak tahun 600
sampai jam tujuh pagi tadi). Tapi bukan itu yang saya ingin
beberkan. Bukan ‘manga’ itu. Melainkan apa yang menjadikan
‘manga’ manga, alias esensinya dalam riwayatnya.
‘Man’
artinya ‘di luar kehendak sendiri’.
‘Ga’
artinya ‘gambar’.
Makna
istilah hibrida ‘manga’ ini adalah ‘gambar-gambar
yang dibuat orang di luar kehendaknya sendiri’, tanpa melibatkan
hal-hal seperti kesurupan dan sebagainya. Mau atau tidak mau,
mangaka tetap membuat manga. Jadi, ‘manga’ adalah
apa yang dibuat Bob tiap kali dia Melakukan Sesuatu.
Sebab,
kalau sedang musimnya, Bob tidak bisa berhenti menggambar. Bahkan
pun kala kondisi tubuhnya hanya sedikit lebih baik ketimbang kaleng
biskuit dilindas kereta api Jakarta-Malang. Dia terus menggambar
manakala terkungkung di ranjang rumah sakit, ketika segenap aparat
jasmaniahnya remuk-redam.
Modus
operandi yang seperti itu seirama dengan yang dilakoni banyak
seniman Jepang, seperti Yoshitomo Nara. Pameran-pameran Nara tak
pernah sok nyeni. Sudah terkenal sampai ke pelosok-pelosok planet
ini (dan dia tetap saja terkenal sampai ke pelosok-pelosok planet
ini sekalipun Anda mungkin belum pernah mendengar namanya sama
sekali), Nara tetap sama saja. “Aku tahu ini cuma coret-moret,”
tulisnya, “tapi aku menyukainya!”
Jauh
sebelum teoretisi mengais reruntuhan modernisme dan posmo dan
memaksakan istilah ‘seni kontemporer’, di 1980-an
Nara sudah menghalalkan segala cara – menabungi boneka-boneka
buatannya sendiri yang bagus-bagus (Ugo Untoro juga pamer boneka
di 2000-an), membuat keramiknya sendiri yang halus-halus (saking
halusnya sampai selicin benda-benda serat kaca Bunga Jeruk di
2000-an), menulis slogan-slogan konyol yang besar tapi tidak norak-norak
(Bunga Jeruk, S. Teddy D., Ugo Untoro, semua pernah melakukan
ini sejak akhir 1990-an), memasang sobekan-sobekan buku tulis
dan kartupos dan berbagai macam sampah kertas yang digambarinya
di galeri-galeri, yang semuanya bersih-bersih (Eddie HaRa juga
melakukan ini di awal 1990-an). Ini malah lebih halal ketimbang
umumnya, karena, sejauh yang teramati, Yoshitomo Nara bukan sekadar
ingin tampil beda. Dia ingin main-main, kadang-kadang, tapi mainnya
serius karena permainannya – senirupa -- juga serius. Dia
juga tak bisa berhenti menggambar kalau sedang musimnya.
Dan
gambar-gambar Nara amat-sangat khas, sehingga dengan mudah bisa
menjadi ikon populer sama seperti bikinan sejawatnya yang sewaktu,
Takashi Murakami. Hanya Murakami banyak mencomot yang sudah ada
dalam khasanah budaya hibrida Jepang-Cina, sementara Nara bikin
sendiri citra-citra yang kemudian identik dengan tandatangannya,
terutama sosok gadis balita yang agak jahat, domba kecil yang
secara umum malang dan anjing kecil yang biasanya agak sinis.

Meja
kerja & boneka-boneka buatan Yoshitomo Nara

Yoshitomo
Nara menjelang pameran |

Studio
Yoshitomo Nara

Yoshitomo
Nara kala melukis |
Berkat
pameran di Galeri Semarang pada tahun 2004, judul pamerannya No
Name, Anda bisa melihat sosok-sosok dan situasi-situasi kanvasiah
khas Yoshitomo Nara secara 'langsung', melalui lukisan-lukisan
alumnus Fakultas Seni Rupa ITB, Tennessee Caroline. Persis seperti
itulah ‘merk dagang’ Yoshitomo Nara yang orang sejagat
sudah hapal – kecuali Bob dan, mungkin, kurator pameran
di Galeri Semarang itu, karena tak ada disebut-sebut Yoshitomo
Nara sama sekali di sana, padahal gambar khas Nara, lewat lukisan
nona Caroline, dipajang tepat di sampul depan katalog pameran
itu.
Pameran
tunggal Bob yang kesekian, di Lembaga Indonesia-Prancis (dikuratorinya
sendiri) dan di Studio Tanah Liat (kuratornya Ugo Untoro), Yogyakarta,
keduanya hampir-hampir merupakan fotokopi pameran Nara yang kesekian
juga, yang judulnya I Don’t Mind, If You Forget Me
(2001). Tapi yang di’pinjam’nya dari Yoshitomo Nara
bukan bentuk, watak, warna, dan sikap seperti yang dilakukan Tennessee
Caroline, melainkan gagasan untuk pameran itu sendiri. Judul pameran
Nara yang cara pikirnya dipinjam ini tepat sekali. Bob juga tak
ambil pusing kalau dilupakan, meski cuma untuk sebelas menit.
Bahwa tak ada yang melupakan pameran Nara itu sementara tak ada
yang ingat pameran Bob, itu tak lain dan tak bukan Nasib namanya.
Seolah
sebagai pengimbang, Bob sendiri tak pernah bisa mengingat kata-kata
‘Yoshitomo Nara’ biarpun itu hanya nama yang pendek.
Dia tetap tak bisa ingat nama itu meski gagasan pamerannya dari
sana (“Saya mendapat ide untuk memasang gambar-gambar ini
dari....eh....siapa namanya itu....orang Jepang. Tokyo atau apa,”
ujarnya dalam pidato pembukaan pameran). Sampai sekarang dia tetap
tak ingat.
“X
bilang aku ini bego banget,” kata Bob, “soalnya aku
nggak ngerti siapa sih seniman-seniman Amerika yang mereka diskusikan.
Kata X, kalo’ nggak punya acuan, aku bakalan jadi seniman
kelas kambing.”
Saya
kenal si X ini. Dia sendiri tidak bakal bisa membedakan antara
George W. Bush dengan kambing. Itu menunjukkan cangkok apa yang
dia butuhkan, meskipun perbedaan antara dua hal yang saya contohkan
di atas memang tidak ada.
Terus-terang
saja, kapasitas intelektual Bob juga tak pernah membalap kemampuan
si X. Tapi dia masih muda.
Saya
kira saya mengerti mengapa orang bilang anak muda itu sungguh
malang nasibnya dalam hal ketiadaan panutan yang layak.
Kata
kuncinya 'layak’.
Anda
harus punya tokoh panutan yang layak, sebab bila tidak maka orang
bilang Anda ini sungguh malang tak ketulungan dan akan terjerembab
ke kelas kambing seperti Bob.
Ini
situasi yang agak mengerikan, dan Anda musti paham bahwa orang-orang
yang lebih tua memang sengaja menjebloskan Anda ke keadaan yang
demikian karena mereka sendiri terperangkap di dalamnya. Malah
lebih menyedihkan lagi, sebab mereka sudah telanjur muak dengan
segala-galanya untuk bisa mengangkat siapa pun juga sebagai panutan,
sementara mereka juga susah untuk hidup tanpa panutan sama sekali.
Saya
akan percaya saja seandainya Anda bilang tak punya tokoh panutan.
Banyak orang bisa bertahan hidup tanpa otak, karena itu tanpa
panutan pun pasti bisa. Sebagian orang yang tergolong ekstremis
juga hidup tanpa panutan. Soalnya mereka sendiri begitu digdaya
sehingga selalu terancam untuk dijadikan panutan orang lain.
Dan
saya memakai kata yang diskriminatif, ‘mereka’. Entitas
seperti itu bukan ‘kita’.
Masalah
yang dihadapi orang awam seperti saya dan mungkin tetangga Anda
adalah, kami diharapkan punya tokoh panutan yang layak. Sudah
terhampar sumber data nan luas di luar sana, dan yang harus Anda
lakukan (umpama Anda jadi orang awam seperti saya) adalah mencomot
salah satu nama dari sana, maka semua orang lain akan berhenti
merongrong Anda karena sejak saat itu rongrongan seperti yang
dihadapi Bob akan menjadi terlalu mesum untuk dilakukan.
Bilang
saja Einstein, misalnya. Einstein ini pilihan yang brilian. Tentu
saja tak seorang pun mengerti apa sih yang dikerjakan Einstein
untuk umat manusia, tapi tak akan ada yang merongrong Anda mengenai
itu, karena ketidakmengertian tentang dayaguna Einstein adalah
keteledoran tak terampunkan, maka Anda akan mendapat imunisasi
mental sekaligus sosok panutan yang meyakinkan.
Bahkan
orang seperti Immanuel Kant pun masih merupakan pilihan yang jitu.
Tidak semua orang kenal namanya, tapi ada beberapa yang tahu,
dan Anda selalu bisa mencerahkan kegelapan cakrawala orang-orang
yang tak tahu itu dengan membocorkan sekelumit pengetahuan mengenai
siapa Immanuel Kant (“Masyaallah.” + tatapan penuh
belas kasihan langsung ke mata orang yang bertanya itu). Itu sudah
bisa membungkam para calon interogator, yang akan merasa geblek
sekali karena telanjur bertanya.
Biasanya
ABG-lah yang paling gencar dirongrong lantaran mereka ini cenderung
menandatangani hidup dalam segala cara dan tak satu pun di antaranya
yang adem-ayem. Anak belasan tahun selalu merupakan kandidat pengadopsi
modus operandi yang paling geblek dalam hidup ini. Dan biasanya
nama-nama orang yang mereka puja tak bertahan lebih dari semalam
di puncak tangga lagu-lagu Billboard. Sebetulnya bahkan lebih
parah lagi. Nama apa pun yang mereka sebut, orang tua-tua otomatis
menganggapnya nama artis atau makhluk jejadian yang oleh televisi
Indonesia dinamakan ‘selebriti’. Jadi tak ada yang
serius menanggapi lontaran-lontaran ABG ini.
Intinya,
tua atau muda, semua orang sesungguhnya punya masalah tentang
tokoh panutan. Bukan hanya si Bob.
Tentu
saja ada aturan-aturan tertentu dalam menentukan tokoh panutan.
Sebagaimana
Anda mungkin sudah menyana, peraturan diciptakan dengan satu tujuan
mulia, yakni untuk menambah ruwet hidup Anda yang sudah dari sononya
centang-perenang ini.
Tokoh
panutan Anda harus dikenal namanya sedikitnya oleh sekelompok
manusia melek huruf, dan dikenal karya atau pekerjaannya oleh
sebagian orang yang sudah ‘mapan’. Contoh-contohnya
sudah saya berikan di muka. Tapi ada pilihan lain: Anda bisa menyebut
nama seseorang yang rute peredarannya hanya sebatas lingkup keluarga
Anda sendiri saja. Pasti orang-orang lain bakal berkerut-kening;
tapi mustahil ada yang mempersoalkan tokoh pilihan Anda itu, sebab
menyoal yang beginian sangatlah barbar.
Tokoh
panutan Anda akan lebih baik jika termasuk ‘benar secara
politis’; yaitu, dia sama ras dan kebangsaannya dengan Anda
sendiri, sehingga dengan begitu Anda adalah bagian dari ke’kita’an
ketimbang menjadi anggota ‘mereka’.
Tokoh
itu juga akan lebih afdol bila berkecimpung di bidang yang Anda
sendiri tekuni. Orang akan skeptis bila Anda seorang insinyur
nuklir sementara panutan Anda Anton Chekhov, atau Anda seorang
pelukis tetapi panutan Anda Red Hot Chilli Peppers. Itu tidak
akan mendiskon gengsi tokoh yang anda panuti, tapi mengisyaratkan
seolah-olah Anda tidak benar-benar memahami pekerjaan Anda sendiri.
Namun
bila kita bicara tentang panutan yang umum saja, kegemaran Anda
di waktu senggang adalah lahan panen panutan yang bisa diterima
oleh semua orang. Pemain sepakbola, petenis dari segala kelas
di atas RT, penyanyi yang muncul di televisi sedikitnya tiap Lebaran,
sudah oke. Hanya saja, hati-hatilah meniti perbedaan antara panutan
dengan kesayangan. Seorang panutan musti menyeluruh, kecuali bila
Anda mau bersusah-payah membuat daftar apanya yang Anda panuti
dari dia.
Pilihan
lain adalah, Anda bisa mengambil panutan yang benar-benar ‘membumi’,
yang akan mengangkat derajat Anda ke tingkat empu, karena, sesuai
dengan kadar kemunafikan sosial yang menjala masyarakat intelektual
di Indonesia ini, makin rendah pangkat sosial-ekonomi-politik
orang yang kata Anda merupakan sosok yang Anda teladani itu, kian
menjulang sakti citra Anda di mata mereka. “Panutan saya
adalah Pak Wongso, pensiunan tukang pijit di kampung,” adalah
proklamasi yang benar-benar sakti untuk mencapai derajat kemanusiaan
tertinggi seandainya Anda diwawancarai koran Minggu. Mempertanyakan
kesahihan panutan yang semacam ini akan merupakan tindakan tak
berkemanusiaan dan pretensius dan sebagainya.
Untuk
pilihan ini sebenarnya Bob punya kandidat di Yogya. Tukang sampah
yang datang untuk menguras bak di depan rumah neneknya tiap Minggu
pada jam-jam yang mustahil (enam tiga puluh). Itu, atau ibu tua
penjual buah-buahan di Beringharjo, yang pernah menyebut Bob ‘tampan’,
yang mana merupakan isyarat bahwa dia butuh dokter mata.
Semua
itu ampuh untuk konteks gerombolan ‘RAKYAT’-nya Bob.
Di
atas segalanya, kala menentukan tokoh panutan, Anda harus melalaikan
segenap naluri asli Anda.
Tokoh-tokoh
panutan tidak harus Anda sukai, tidak musti selaras dengan selera
Anda, dan tidak selalu merupakan manusia-manusia yang akan menyenangkan
Anda untuk dijadikan teman. Yang harus mereka penuhi adalah syarat
ini: mereka musti disukai atau disetujui oleh Semua Orang Selain
Anda.
Kredibilitas
Anda sepenuhnya tergantung kepada pendapat mereka tentang tokoh
panutan Anda.
Jadi,
bila Anda berkutat di senirupa, Anda bisa menyebut Frieda Kahlo
atau orang yang rambutnya awut-awutan itu, siapa namanya, Basquiat.
Mereka ini dijamin melumasi citra Anda, memberi paspor ke jagat
keterhormatan. Malah mungkin juga menghasilkan tepuk-tangan.
Basquiat
sudah jelas laku dijajakan di dunia ini pada saat Bob berada di
titik ini, ketika dia masih muda. Basquiat adalah produk yang
siap-saji, sudah dikemas baik-baik, dijuduli, dan segalanya telah
dikunyah lebih dulu di pabriknya, Anda tinggal telan saja. Kahlo
yang selalu murung dan tampangnya menakut-nakuti keponakan saya
itu adalah pilihan yang baik juga; di gudang persediaan tokoh-tokoh
yang sakit luar-dalam, dia akan nampak mentereng bertengger di
biografi Anda dalam katalog pameran.
Untuk
itu, pura-puralah tak tahu atau tak peduli bahwa semua seniman
lain di kota ini, bahkan mungkin di negeri ini, juga menyebut
tokoh-tokoh panutan yang sama, terutama dalam jajaran ‘konsep
artistik’ (entah apa ini, tentu saja saya tak tahu; nanti
saya tanyakan dulu pada Yang Berwenang). Pura-puralah belum pernah
mendengar bahwa ada seniman-seniman yang bahkan sebegitu jauh
melangkah sampai-sampai menuliskan ‘Frieda’ dan/atau
(‘dan’ lebih parah ketimbang ‘atau’) ‘Basquiat’
di atas kanvas mereka yang tadinya begitu indah halus-mulus tak
kurang suatu apa.
Basquiat
Anda bukan Basquiat mereka.
Kalau
dipikir-pikir, Basquiat Anda maupun Basquiat mereka juga bukan
Basquiat. Basquiat-nya Basquiat sendiri pun bukan Basquiat.
Sekali
Anda comot sesuatu dan menjadikannya milik Anda, ia milik Anda.
Jangan sampai ada yang mempersoalkannya. Jangan biarkan siapa
pun menuduh Anda salah memahami, keliru mengartikan, atau menyalahgunakan
entah Basquiat entah Kahlo entah tukang sampah dari Jalan Kaliurang
tadi.
Apa
sih yang mereka ketahui tentang Basquiat Anda, misalnya? Mereka
kan punya Basquiat-Basquiat sendiri.
Di
titik ini, dalam karier Bob yang sampai saat itu nir-panutan,
Ugo Untoro sudah menyajikan lukisan-lukisan ekspresionis-liris
yang musti dirasa-rasakan, sebab mustahil digagas-gagas.
Sedangkan
S. Teddy D. telah meluncurkan komposisi-komposisi piktorial yang
sarat dengan berbagai macam hal, terutama keresahan-keresahan
kiamatologis yang begitu digilai oleh orang-orang di zaman ini.
Bob?
Bob hanya memunculkan gambar-gambar.
Ugo
Untoro dan S. Teddy D. sama-sama punya daftar yang tegas untuk
menjawab pertanyaan seperti “Apa/siapa sih yang mempengaruhi
penciptaan karya ini?”.
Bob?
Bob cuma geleng kepala kalau ditanyai.
So
what?
Ada
seniman yang mendapat ilham dari kuda, ada yang terinspirasi oleh
Marcel Duchamp, ada yang tergerak untuk mencipta gara-gara wayang,
ada yang dimotori puisi.
Ada
pula yang sekadar menjadi pencipta sesuatu tanpa sumber dan akar
yang pasti.
Ada
juga yang mencipta diri mereka sendiri dan kemudian menyembah
para penciptanya itu.
Tapi
coba dengar. Adalah sepenuhnya waras untuk menjawab pertanyaan
“Siapa tokoh panutanmu?” dengan “Aku”.
Kenapa
tidak? Jujur sajalah. Bila Anda benar-benar yakin memang begitu
soalnya, buat apa buang napas dengan membantahnya demi kesopanan
dan kerendahan hati.
3.
Berdiang di Abu Dingin: Bob, Kurator, Aparat, Galeri
“Pemilik
galeri itu bilang aku nggak bisa pameran di sana,” kata
Bob, “soalnya lukisanku nggak laku, dan itu karena kata
Dr. XYZ lukisanku jelek. Dan lagi, kata Dr. XYZ, aku nggak produktif.
Maksudnya, nggak produktif bikin lukisan yang bener, yang di atas
kanvas.”
Dr.
XYZ adalah seorang kurator senirupa. Beliau juga seorang penjaja
obat penambah gairah seksual dari rumah ke rumah. Dan dari jam
lima sampai tujuh malam beliau beralih menjadi agen kredit sepeda
motor (bisa lewat SMS). Di hari Minggu, beliau (masih beliau yang
sama) kembali menjalani proses transformasi yang berujung pada
eksistensi warung tenda dengan menu bubur ayam. Hari Senin, beliau
menunggang mobil butut ke kampus untuk mengajar mahasiswa semester
lima. (Berat nian hidup di Indonesia Raya ini kalau hanya mengandalkan
satu macam jabatan.)
Lantaran
ketidakterspesialisasikannya Dr. XYZ, Bob tidak pernah benar-benar
menghargai apa vonis beliau, kecuali tentang jamu-jamuan pemacu
gairah seksual. Sialnya, pemilik galeri yang ditemuinya melekatkan
nilai mutlak pada sabda sang Dr. (selain juga memborong jamu penambah
gairah seks itu). Ini melukai Bob. Dia mencanangkan gerakan tertentu
yang bukan tak mirip dengan kucing bersin, lalu menyetel televisi.
Waktu
itu sedang diputar sebuah film kuno di mana seorang ‘ahli
fisika nuklir’ (ini diucapkan dengan gentar sepanjang film)
sedang diburu oleh sejumlah besar tenagakerja yang tergabung dalam
Yang Berwenang (juga diucapkan dengan genting setiap kali).
Orang
malang yang ahli fisika nuklir itu, yang bakat aktingnya sedikit
lebih baik ketimbang semua pelakon lainnya kecuali anjing milik
rekan sejawatnya dalam film ini, memilih untuk bermain petak-umpet
melawan Yang Berwenang karena dia menolak meneruskan penelitian
ilmiah yang bakal berakhir dengan penemuan sesuatu bahan menyeramkan
bernama ‘fusi hitam’ (apa pun maksudnya itu). Bahan
ini bila jatuh ke tangan Yang Berwenang akan memberi daya luarbiasa
kepada Amerika Serikat untuk menguasai seluruh sistem tatasurya
(mengapa pula, bahkan Amerika pun, sampai punya gagasan untuk
menguasai sesuatu yang seperti itu, tak ada dalam skenario).
Di
suatu saat sepanjang film ini, seorang Inspektur polisi yang diharapkan
berakting meyakinkan sebagai Orang Awam Yang Tak Tahu Apa-apa
bertanya pada para agen Badan Intelijen Amerika yang seram-seram
itu: “Kenapa sih orang itu musti dikejar-kejar hanya karena
nggak mau riset lagi? Kalau sudah tertangkap pun, dia tetap nggak
mau riset lagi, toh?”
Seorang
agen yang pirang sekali dan kelihatan cukup kejam menjawab, “Bisakah
kamu bayangkan Einstein mendadak mengunci laboratoriumnya, lalu
berkata ‘Udah ah, aku nggak mau nerusin ini, biar orang
lain aja yang menemukan teori relativitas’? Apa kamu pikir
kita akan membiarkan saja dia melakukan sesuatu yang tak bertanggung
jawab seperti itu?”
Inspektur,
yang masih diharuskan untuk menunjukkan kelakuan Orang Awam Yang
Tak Tahu Apa-apa, bergumam sendiri, “Memangnya siapa sih
yang butuh relativitas atau ‘fusi hitam’ atau apalah
namanya itu?”
Sang
agen yang sangat pirang melangkah mendekatinya dengan gaya mengancam,
dan berkata, “Dasar udik.”
Itu
katanya.
Saya
sependapat dengan Inspektur, biarpun masuk ke kategori Orang Awam
Yang Tak Tahu Apa-apa bukanlah sesuatu yang sangat menggiurkan.
Kenapa?
Sebab saya juga orang udik. Ke mana pun saya pergi, keudikan ini
saya bawa, dan saya pikir semua orang begitu juga, sebab tak peduli
seberapa luas cakrawala seseorang, tetap saja bagi yang bercakrawala
lain (tak perlu lebih luas, hanya ‘lain’ saja cukup)
dia itu udik.
Anda
dapat mengajukan argumen bahwa, umpamanya, apel-apel Newton mau
tak mau akan tetap mengilhami seseorang untuk menemukan sesuatu
‘demi kemaslahatan umat manusia’. Saya percaya bahwa
si agen yang sangat pirang dalam film tadi pasti akan berupaya
mencegah Newton bila dia ingin ke luar kota, malah mungkin akan
menjatuhi status tahanan rumah pada Newton sampai ‘tugas’
menemukan konsep abstrak yang ‘demi kemaslahatan umat manusia’
itu rampung. Mereka sudah pernah melakukan yang semacam itu, terhadap
para pengungsi Ibrani berbahasa Jerman yang akhirnya memproduksi
bom atom di awal 1940-an.
Mereka,
alias Yang Berwenang, hanya mampu mengenali dua hal sebagai tugas
mereka terhadap umat manusia: entah melarang orang menemukan sesuatu,
atau menjadikan penemuan sesuatu itu kewajiban seseorang. Dan
dua-duanya dikatakan sebagai ‘demi kemaslahatan umat manusia’.
Inilah
riwayat spesies kita.
Yang
menjambak kesadaran saya saat ini adalah kecenderungan yang kedua.
Kalau
saya mah, biar saja Einstein, Newton, Paijo, Bu Atmo, semuanya
pergi piknik ke Kaliurang. Kalau memang mereka maunya begitu,
kenapa tidak? Jika Shakespeare dan Picasso ingin menghabiskan
umur mereka mengejar-ngejar kupu-kupu, mengapa kita harus sewot?
Bermanfaat atau merugikan umat manusia dua-duanya konsep ciptaan
manusia. ‘Umat manusia’ itu sendiri cuma konsep, dan,
sejauh yang saya tahu, konsep yang ini bahkan belum ditemukan.
Kalau sudah, tentunya tak bakalan ada orang yang saling bunuh
berdasarkan agama atau suku atau ras atau yang sejenisnya.
‘Yang
Berwenang’ itu ada di mana-mana.
Mereka
membuat Anda jadi merasa bersalah bila berhenti melukis dan hanya
keluyuran saja.
Mereka
menjadikan seniman merasa berdosa bila tidak artistik dan membuat
penulis jadi apologetik kalau sedang kehabisan kata.
Mereka
ini biang impotensi.
Saya
percaya, mereka tak punya hak untuk melakukan itu atas nama ‘kemaslahatan
umat manusia’ pun. Lebih baik rehat bila sedang tak ingin
mengerjakan apa pun, ketimbang terus saja menggarapnya sepanjang
proses yang tak nyaman dilakoni dengan hasil yang tak memuaskan
diri sendiri.
Planet
Seni ini entah sadar atau tidak sebenarnya memakai seluruh isi
kamus istilah industri tahun 1920-an. Yang tak ‘produktif’
tak masuk hitungan.
Itu
jelas keliru, dan tak menyenangkan.
Bahkan
batang sungai pun kering saat bukan musim penghujan, dan Alkitab
bilang Tuhan pun pakai jeda saat merilis dunia.
Bahkan
badut pun kadang mengeluarkan airmata.
4.
Air Titik ke Batu: Bob, Tato, Hitler, Van Gogh
Bob
mencat rumah orang.
Adolf
Hitler juga.
“Ibuku
bilang dia senang akhirnya aku melakukan sesuatu yang berguna,”
kata Bob.
Senang
juga ibunya Hitler dulu.
Lebih
dari 200 puisi karangan Bob, dalam bahasa Indonesia dan Inggris,
sudah diterbitkan di internet sejak 1999 (sebagian di’kurator’i
pemusik Italia Marco Ambrosini), ketika nyaris tak satu pun seniman
Indonesia, kritikus seni, kurator senirupa, kolektor, pemilik
galeri, makelar, dan sebagainya, pernah dengar kata ‘internet’.
Dari kehadirannya di internet selama enam tahun ini, dia panen
fans dari mana-mana, termasuk dua atau tiga calon mantan pacar
(itu tadi bukan salah ketik).
Adolf
Hitler juga menulis beberapa kilo puisi, meskipun situsnya diblokir
secara permanen pada tahun 1999, para fans-nya dilarang menyentuh
komputer sama sekali, dan dia tak pernah dapat pacar dari sana.
Tapi,
menurut orang-orang, Bob seharusnya menjadi pelukis, bukan tukang
cat, dan bukan pelukis yang menyair (penyair itu pelit-pelit;
mana mau mengakui orang semacam Bob sebagai kaumnya). Para mahasiswa
yang ingin menjadi pelukis mengolok-oloknya lantaran semua itu.
Saya
pernah ketemu anjing bego, kucing bego, situs bego, fakultas bego,
kurator bego, bahkan piranti elektronik dan jam weker bego. Tapi
kandidat nomor satu untuk meraih gelar paling bego se-Bimasakti
adalah mahasiswa bego yang ingin jadi pelukis.
Penyair
bego mana pun masih lebih baik, seandainya Anda berdua saja yang
selamat saat kapal karam di Pasifik. Tapi bila orang lain yang
selamat itu mahasiswa bego yang ingin jadi pelukis, pasti terjadi
pembunuhan di pulau terpencil ke mana Anda berdua berenang dari
kepingan kapal karam itu. Hal pertama yang Anda ingin lakukan
sesudah menyelamatkan diri adalah mencekiknya.
Beberapa
tahun belakangan ini, di sela-sela migren dan cucian, saya kebetulan
kenal satu atau dua lusin mahasiswa yang ingin jadi pelukis; setidaknya
kenal nama dan wajah mereka.
Saat
saya katakan ‘wajah’, ini berarti dua mata, satu hidung,
satu mulut.
Yang
merisaukan saya adalah mulut itu.
Karena
dari situlah kata-kata berluncuran, dan kata-kata, sampai derajat
tertentu, termasuk daerah yurisdiksi saya, kalaupun gambar-gambar
sama sekali bukan.
Orang-orang
yang malang ini tahu segalanya tentang harga cat minyak dan siapa
yang menjual kanvas serta pigura termurah di dunia. Mereka juga
tahu apa yang paling modis dari saat ke saat – musim kemarau
ini, mereka semua cukur gundul dan membolongi tubuh di segala
tempat dan menguping sejenis bunyi-bunyian yang mengganggu telinga,
yang mereka namakan ‘musik alternatif’, yang, dari
sudut pandang saya (orang yang salah-asuhannya berlangsung pada
waktu Warkop sedang ngetop dan semua orang tergila-gila Betharia
Sonata) merupakan alternatif dari musik.
Musim
lalu, urusannya gaya rambut Rasta warna-warni yang panjang berjumbai-jumbai
atau dreadlocked, serta reggae dan grunge. Sebelum itu, musimnya
musim Suku-suku Asli Amerika dan thrash metal ditimpali aksesori
S&M (kalau lihat dua huruf dengan ‘&’ ini
di internet, jangan di-klik, kecuali bila Anda memang sedang kebelet
sadomasokisme) yang bergelantungan di segala penjuru pakaian.
Unsur-unsur
– bukan, emblem-emblem – yang tetap galak sepanjang
masa adalah tato, berbagai jenis cairan memabukkan seperti vodka
atau setidak-tidaknya bahan mudah terbakar yang rasanya seperti
bekas air pencuci motor, alkohol rumahan buatan Bekonang itu;
serta pil-pil beraneka-warna. Dan ribut-ribut yang melibatkan
pisau komando atau sejenisnya. Dan juga senantiasa modis, motor
besar (yang paling ditaksir adalah Harley Davidson, tapi bila
mereka tak mendapat pinjaman motor yang itu, apa pun boleh asalkan
besar dan STNK-nya atas nama orang lain). Motor ini gunanya untuk
dicongklang kencang-kencang di jalan raya, lalu ditabrakkan ke
truk, bus, atau pohon; ada kalanya kios rokok dan pejalan kaki
yang tak pernah mimpi bakal ketabrak sama sekali karena mereka
parkir sangat jauh dari jalanan.
Itulah
tanda-tanda yang digunakan oleh masyarakat Anda ini sedikitnya
sejak 1970 untuk membedakan orang-orang usia duapuluhan yang sedang
belajar pengelolaan perusahaan dengan orang-orang seumur mereka
yang tengah belajar senirupa, dan bukannya pembedaan berdasar
keahlian – yakni bahwa mahasiswa senirupa bisa membuat karya
seni dan yang lainnya tidak bisa. Masyarakat punya akal sehat,
jadi saya kira masyarakat melihat bahwa cara pemilahan berdasarkan
keahlian tak bisa diterapkan lantaran keahliannya ternyata tak
mesti ada.
Dan
Bob? Dia kuliah seni lukis, meskipun bagi dia sendiri tak begitu
jelas kenapa. Dia juga mahasiswa yang ingin jadi pelukis. Jadi
dia ada di antara para mahasiswa yang ingin jadi pelukis itu sampai
jauh sesudah berhenti bayar SPP. Dan para mahasiswa ini bukan
main kalau bersaing satu sama lain. Semangat kompetisi mereka
begitu tingginya hingga setiap minggu pasti ada yang diangkut
ke rumah sakit lantaran overdosis.
Sebuah
lukisan adalah sesuatu yang amat-sangat sial, karena dia itu kelihatan.
Tidak ada yang namanya lukisan yang ‘diam-diam’. Persaingan
antar-pelukis juga ke arah yang sama.
Ketika
adik saya masih dalam rangka melukis dalam damai (artinya, belum
ada kolektor di ufuknya), dia cuma sekadar jadi sasaran belas
kasihan. Tak seorang pun menilainya bakal jadi pelukis, dan kalau
ada yang tahu dia ingin jadi pelukis seumur hidupnya, pasti hingar-bingar
jadinya. Waktu itu dia bukan saingan siapa pun. Dia juga bukan
rival para ‘seniman intelek’ yang berkeliaran di kotanya,
karena tak betah membaca dan tak suka diskusi model apa pun, yang
dianggapnya buang waktu dan membosankan. Dia cuma mahasiswi biasa
yang ingin melukis dan mendapat nilai ‘A’ sebanyak
yang dapat dilepas oleh para dosennya.
Syahdan,
suatu hari lukisannya laku, dan ini kejadian yang kelihatan pula,
karena tetangga bisa menyaksikan alat-alat elektronik mengkilap
dan mobil yang bercokol di depan rumahnya. Anda bisa bayangkan
betapa menyebalkan ketika orang-orang merubung saya dan menginterogasi
berapa harga lukisannya. Kalau saya bilang tidak tahu (memang
tidak pernah tahu, kok!), mereka masih ngotot memaksa saya memberi
ancer-ancer. Buat apa? Untuk bahan kasak-kusuk saja.
Itu
masih mendingan dibanding pelukis perempuan lain, yang kala itu
konon harga karyanya benar-benar mencapai nirwana, dan secara
umum menjadi objek kejengkelan dan kesirikan sejawatnya, Erica
Hestu Wahyuni. Erica waktu itu sedang kolosal sinarnya, bahkan
media massa Indonesia mengenalnya hanya lewat satu kata saja (contoh
yang senada: ‘Madonna’), dan mustahil sampai ada yang
bertanya “Erica siapa?”
Kebetulan
saya dulu sempat menyukai lukisan-lukisan Erica ketika dia baru
saja terpelanting ke status ‘selebriti’ senirupa.
Jadi, kabar angin bahwa harga lukisannya selangit merupakan kabar
baik buat saya.
Lantaran
ada Erica, adik saya belum lagi menjadi papan tembak bagi para
mahasiswa yang ingin jadi pelukis pada masa itu. Tapi entah sampai
kapan konsep ‘hidup berdampingan secara damai’ ini
bakal berjalan, soalnya suatu hari adik saya juga sudah menuai
badai, katakanlah, karena dianggap ‘pelukis kaya’
– yang menyebabkan arus peminta-minta sumbangan buat pementasan
berbagai macam jenis teater yang tak ada penontonnya sampai sekarang.
Di
Planet Seni Indonesia, pelukis selalu dianggap makmur. Mungkin
memang makmur, dibanding penyair, penulis cerpen, novelis, teaterwan,
dan sebagainya. Yang lain-lain ini cepat sekali menyimpulkan seorang
pelukis ‘kaya’, dan secepat Nasirun atau Nyoman Masriadi
atau Agus Suwage mencetak skor finansial dalam suatu pameran,
secepat itu pula proposal tujuhbelasan dan sebagainya melayang
ke rumah-rumah mereka. Dan selalu ada orang-orang yang, sembari
minta sumbangan, mengatai mereka macam-macam karena ‘kaya’.
Seorang
pelukis tak boleh hidup berkat pekerjaannya? Mereka atau saya
yang gila? Ini tidak masuk akal saya, meski menurut para mahasiswa
yang ingin jadi pelukis sangat logis – karena mereka belum
jadi pelukis.
Salah
satu penyebab lain kericuhan di antara para mahasiswa yang ingin
jadi pelukis adalah perkara penjiplakan.
Jiplak-menjiplak
itu lumrah di Planet Seni, tapi para mahasiswa ini (mahasiswinya
hanya lima di antara seratus, jadi tak perlu saya rujuk tersendiri)
sungguh khawatir kalau-kalau ada rekannya yang ‘mencuri
start’. Seorang di antara mereka, yang menyebut pangkatnya
sebagai ‘instalator’, pernah mengomel berjam-jam di
teras rumah saya mengenai kasus semacam itu yang katanya menyebabkan
dia harus mabuk berminggu-minggu untuk melupakannya (meski dia
juga mabuk berminggu-minggu tanpa ada kasus apa pun).
Tentu
saja dalam sejarah dunia sudah biasa kalau ada dua penemu atau
pemikir yang memunculkan sesuatu yang sama meski kenal pun tidak,
dan jarak geografis antara mereka ribuan mil. Sama seperti Scott
dan Amundsen yang mencari malapetaka ke Kutub secara kebetulan
pada saat yang sama.
Saya
sendiri sering melihat yang semacam itu. Orang-orangan buntung
model kokeshi Jepang dari anyaman rotan atau bambu yang dibuat
Samuel Indratma pada akhir abad lalu, misalnya, nyaris persis
bikinan S. Teddy D pada tahun 1995. Lukisan kepala gundul dari
samping, yang ditaruh di atas perahu (kadang perahunya beroda),
yang khas S. Teddy D. sejak 1996, juga saya lihat di kanvas bertandatangan
Syah Fadil sesudah tahun 2000. Lainnya lagi buatan Jumaldy Alfi.
Rumah-rumah kukuh yang hanya terdiri dari satu blok warna, di
tengah-tengah ketiadaan yang diwarnai, yang dibuat Teddy sejak
1997, bisa dilihat juga di lukisan-lukisan Rudy Mantovani sesudah
2001. Tentu saja saya melihat pencitraan semacam itu pertama kali
buatan Teddy, dan yang lainnya baru tampil di tempat-tempat seperti
katalog Philip Morris Art Awards tiga sampai lima tahun sesudahnya,
tapi saya tidak serta-merta mengatai mereka menjiplak, kan?
Betapapun,
mimpi buruk para mahasiswa yang ingin jadi pelukis tadi tidak
menyebabkan mereka jadi over-protektif, sebab ada gejolak lain
yang lebih kuat: ingin pamer.
Mereka
tak tahan untuk tidak memamerkan karya-karya yang belum jadi,
setengah jadi, atau batal jadi, dan apa pun yang paling baru bikinan
mereka, kepada siapa saja yang kebetulan lewat.
Jadinya
serba salah.
Biasanya
paranoia menjangkiti orang-orang yang termasuk dalam suatu kelas
atau kelompok, dan sasarannya adalah sesama anggota kelompok yang
sama.
Ada
beberapa kelompok pelukis yang saya tahu. Klasifikasi ini semata-mata
berdasarkan cara mereka saling pandang.
Satu
kelompok di antaranya terdiri atas para seniman yang tak terlukiskan
– mereka ini secara metaforis maupun harfiah tak kelihatan.
Kelompok
kedua adalah orang-orang berbakat, yakni orang-orang yang benar-benar
bisa menciptakan karya seni yang bagus, tapi mereka tak pernah
pamer dan tak pernah menjajakan karya-karya itu sebagai karya-karya
senirupa; karena itu mereka bukan saingan siapa pun. Malah mereka
ini biasanya dengan senang hati membantu pengerjaan karya-karya
orang-orang lain – sesuatu yang niscaya lantaran orang-orang
lain itu tak mampu secara teknis, atau sekadar malas tak ketulungan.
Yang
ketiga adalah para ‘seniman murni’. Mereka ini dengan
lantang mengumumkan bahwa mereka lahir sudah dalam keadaan alergi
terhadap sistem moneter dan finansial, berdedikasi penuh pada
senirupa, ‘besar bersama rakyat’, atau semacam itulah,
pokoknya justifikasi atas ketiadaan transaksi keuangan di antara
mereka dengan makelar atau kolektor.
Kelompok
keempat sangat kecil ukurannya, meski sepintas seolah anggotanya
sangat banyak. Kelompok inilah yang dikerumuni kritikus, disambangi
kurator, dikontak pemilik galeri, dan ditraktir juragan tembakau,
pemilik pabrik tekstil, pengusaha ekspor mebel, atau apalah profesi
para kolektor senirupa Indonesia yang umum. Merekalah satu-satunya
kelompok yang dikenai pajak, satu-satunya yang punya rekening
bank, dan satu-satunya yang hilir-mudik ke ATM bukan untuk menarik
kiriman dari bapak mereka di kampung.
Kelompok
inilah yang bertengger tepat di pucuk piramida pelaku senirupa
Indonesia Raya.
Namun
yang paling kukuh adalah kelompok ketiga, karena yang keempat
itu paling longgar ikatannya – satu sama lain bisa jadi
ketemu pun belum pernah, rata-rata anggotanya sangat individualistis,
karena tidak pernah saling membutuhkan sama sekali. Simbiosis
mereka adalah dengan kurator, galeri, kritikus, wartawan, kolektor,
bukannya antar-anggota.
Sementara
kelompok ketiga, para ‘seniman murni’, hampir-hampir
sepadu peleton hansip.
Ada
ketuanya, ada wakil-wakilnya, ada juru bicaranya (ketiga jabatan
ini sering dirangkap oleh satu orang, tapi anggap saja tak semuanya
serakus itu). Dan ada para pengikutnya. Sang ketua didaulat secara
tidak resmi, atau mendaulat dirinya sendiri bila para pengikutnya
tak pernah cukup sadar untuk melakukannya. Ketua bukan berarti
yang paling berbakat atau paling bagus lukisannya. Karena minim
kerja intelek, para pengikut akan menempel ketat pada siapa pun
(biasanya jebolan universitas non-senirupa) yang paling lancar
goyang lidah, sekalipun mungkin ia tak kunjung bisa memegang kuas
dengan benar. Berdasar pengamatan selama ini saya kira cukup aman
untuk disimpulkan bahwa para ketua kelompok ini biasanya memiliki
kadar kecerdasan yang lebih tinggi dibanding segenap kapasitas
intelek seluruh pengikut mereka digabung jadi satu. Dan biasanya
istri-istri para ketua ini punya restoran atau warung, sehingga
kesejahteraan jasmaniah para pengikut kurang-lebih bisa terjamin.
Mereka
inilah yang kita jumpai tengah melempar preseden bagi seluruh
kelompok di luarnya, menciptakan tren yang lantas diikuti semua
orang, dan umumnya menjadi propagandis istilah-istilah ‘sulit’
yang kemudian menjejali tulisan-tulisan senirupa sehingga semuanya
seperti dibuat oleh penulis yang sama. Mereka bisa melakukan ini,
karena merekalah yang banyak bicara tiap kali ada diskusi senirupa,
dan merekalah yang tiap hari baca koran dan membedah esai-esai
orang.
Dalam
kosakata mereka pernah merajalela istilah-istilah seperti: 1).
posmodernisme; 2). pelacuran seni; 3). rakyat; 4). merdeka/bebas/kebebasan/kemerdekaan;
5.) kritik/realisme sosial; 6). Foucault; 7). seni kontemporer;
8.) anarkisme; 9.) archaic; 10.) Tarrantino.
Bila
menginginkan seutuh kamus, Anda riset sendiri saja. Untuk saat
ini hanya itu yang bisa saya cegat dari arus keluaran kelompok
‘seniman murni’ ini. Itu sudah cukup untuk sekarang
guna melihat wataknya.
Istilah
pertama (posmo) dan keenam (Foucault) barangkali merupakan pengulangan
yang tak perlu, tapi Anda harus mengerti bahwa menurut kelompok
di atas tidak demikian halnya.
Istilah
kedelapan (anarki) disebar begitu saja dalam segala macam kalimat
percakapan, di selebaran dan poster, atau – ini yang paling
parah – di atas kanvas.
Kian
kacau lagi, maknanya pun tak selalu jelas bagi si pembicara sendiri.
Yang
kesembilan (archaic) selalu dinyatakan dalam bahasa Inggris, dan
diterapkan pada apa saja, umpamanya (kutipan asli dari seorang
mahasiswa yang ingin jadi pelukis, yang menyebut konsep karyanya
‘posmo’): “Bagaimana lukisan ini menurut kamu?
Jangan archaic.” Atau (ini juga kutipan asli): "Lama-lama
benci betul aku sama Nyoman Gunarsa. Memangnya siapa dia? Siapa
yang memberinya hak untuk archaic hanya karena dia orang Bali?”
Kalau
Anda bingung mendengarnya, sama, dong, karena saya juga bingung.
Namun di kemudian hari saya jadi tahu bahwa bagi para mamalia
artistik sektarian ini ‘archaic’ (arti sesungguhnya:
‘kuno’) dan ‘sinis’ adalah sama. Hanya
Tuhan yang tahu bagaimana bisa begitu.
Sayang
sekali saya sama sekali tidak tahu mau diapakan istilah kesepuluh
(Tarrantino) itu, tapi Anda tak usah pusing. Para mahasiswa yang
ingin jadi pelukis itu sendiri tidak benar-benar paham juga, kok.
Di
kemudian hari, sesudah 2000, semua tulisan senirupa Indonesia
memuat dua kata ini: ‘sensitivity’ dan ‘sensibility’.
Entah
siapa yang pertama kali memakainya (Jim Supangkat, barangkali),
tahu-tahu semua orang tak bisa lagi menulis apa-apa dalam katalog
pameran dan di koran-koran bila dua kata itu tak termaktub. Sering
keduanya dijejalkan begitu saja tanpa ada perlunya, atau malah
tanpa ada maknanya. Yang penting harus ada dua kata itu.
Baru
setelah mereka melihat sendiri bahwa satu atau dua kurator tertentu
(dua) yang benar-benar bisa menulis, seperti misalnya Hendro Wiyanto,
ternyata kebal, sementara Aminuddin ‘Ucok’ Siregar
ternyata bisa hidup tanpa ‘sensitivity’ dan ‘sensibility’,
sedangkan honor kuratorial dan wesel dari koran ternyata tidak
terpengaruh oleh ketiadaan kata-kata itu, pelan-pelan kedua kata
itu luntur dari katalog-katalog pameran.
Sedang
saya memikir-mikirkan betapa heroiknya para penulis senirupa Indonesia
yang harus selalu siap-siaga menadah istilah-istilah tertentu
untuk dipakai terus-terusan sampai jebol dan sampai ada gantinya,
Bob memberitahu saya bahwa menurut Tommy F. Awuy ‘senirupa
kontemporer’ tidak ada di Indonesia.
Saya
tak punya waktu untuk baca koran, apalagi katalog pameran. Tapi
Bob sempat banget. Dia punya tukang cuci. Jadi mungkin dia kutip
itu apa adanya.
Dan
itu membingungkan saya. Apa bisa kekontemporeran tidak ada, di
senirupa atau di mana pun? Bukankah yang kontemporer itu yang
di sini dan sekarang? Bila Anda melakukan sesuatu saat ini dan
di sini, bukankah itu artinya Anda melakukan sesuatu yang kontemporer
bagi saya karena saya juga di sini sekarang? Asalkan kita berdua
memakai present-tense, kita ini kontemporer, kan?
(Ya
ampun, saya benar-benar mual tiap kali kata-kata yang tak bersalah
apa-apa tiba-tiba dimumikan jadi istilah-istilah.)
Maksud
saya adalah, Bob seharusnya jangan puyeng akibat simpang-siur
teori.
Teori
hanyalah kata-kata.
Dan
Bob, dalam status sebagai pelukis (bukan penulis puisi), seharusnya
tak ada urusan dengan kata-kata. Urusannya adalah yang visual,
yang bertekstur, yang berwarna. Bila dia repot-repot melakukan
konseptualisasi dan kemudian jengkel pada dirinya sendiri karena
belum apa-apa sudah macet pada ketidaktercernakannya kata ‘konseptualisasi’,
itu buang energi saja.
Apa
gunanya melukis kalau yang Anda ingin kemukakan masih harus ditulis
dan/atau diucapkan? Apa nilainya ‘bahasa rupa’ (ini
juga istilah modis bagi para kurator) yang Anda pakai, jika sesudah
lukisan selesai Anda masih harus mengetik penjelasan tentangnya?
Selain
sebagai jalan supaya kurator bisa makan, sebenarnya pameran senirupa
hanya bertambah ruwet atau malah sebaliknya kedodoran tanpa ada
perlunya bila ditingkahi tulisan panjang-lebar yang isinya sama
dengan apa yang dipamerkan. Saya sering sakit perut melihat betapa
banyak kertas diboroskan untuk tulisan-tulisan dalam katalog yang
isinya deskripsi tentang apa yang terlukis di atas kanvas, seolah-olah
pembaca katalog semuanya mengalami gangguan penglihatan yang parah
sehingga tak mampu menyaksikan sendiri foto-foto besar yang dipasang
di sana dan memperlihatkan lukisan-lukisan aslinya apa adanya.
Dan
kalau memang pemilik galeri mempekerjakan orang untuk menulis
penjelasan tentang lukisan atau patung atau instalasi atau objek
atau apa pun yang dipajangnya, berarti si Bob dan kawan-kawan
tidak perlu berceloteh tentang hal yang sama, bukan?
Mentalitas
anggota geng jangan sampai merasuk ke hulu kesenimanan. Bila sudah
telanjur, pokoknya ingat-ingat bahwa yang melukis itu Anda, bukan
mereka.
Bila
Anda buka telinga untuk mendengarkan hiruk-pikuk gosip dan teorisasi
dan istilah-istilah ‘sulit’ dan sebagainya itu, bisa-bisa
Anda akan kehilangan telinga itu, seperti Van Gogh.
Padahal
yang didengarkan Van Gogh hanya suara-suara di kepalanya sendiri
saja.
Alangkah
lebih parah kalau menguping semua kata orang lain juga.
5.
Bala Lalu Dibawa Singgah: Bob, Senirupa, Kontemporer, China
“Lukisan-lukisanku
sekarang indah, manis-manis,” kata Bob; “kelihatannya
aku sekarang berubah jadi lemah dan bodoh.”
“Kalau
kamu lemah dan bodoh,” kata saya, “itu bukan perubahan.”
Pada
waktu itu, Bob ada masalah dengan (atau lebih tepatnya melawan)
galeri-galeri senirupa. Meski lukisan-lukisan anyarnya ‘manis-manis’,
galeri-galeri itu tak mau memamerkan mereka. Karena itu dia terperosok
ke kancah peluncuran komentar-komentar ‘insensitive’
dan pernyataan-pernyataan ‘insensible’ (hehehe….)
tentang para pemilik galeri. Saya juga rutin melakukan yang seperti
itu, tapi saya kan tidak minta mereka memamerkan lukisan-lukisan
saya, jadinya tak apa-apa, sementara dalam kasus Bob keadaannya
jadi mengenaskan.
“Nah,
kan? Lukisan-lukisanku betul-betul manis. Kata pemilik galeri
(lain lagi) tidak kontemporer,” tambahnya sepulang dari
Jakarta.
Waktu
itu musim panen raya bagi galeri-galeri senirupa Indonesia.
Pada
tahun 2002, galeri yang barangkali tertua dan paling tahan banting,
Edwin’s di Kemang, Jakarta, memboyong lusinan karya senirupa
‘kontemporer’ dari China dan menggelar mereka di Galeri
Nasional.
Ini
membuat galeri-galeri lain se-Indonesia kalang-kabut menjadwalkan
pameran-pameran serupa.
Semua
orang jadi sibuk mengundang dan memamerkan karya-karya seniman
China, mengadakan seminar dan diskusi tentang mereka, dan sebagainya.
Yang paling tebal muka di antara para kurator, pemilik galeri
dan makelar lukisan bahkan melakukan pemulungan besar-besaran
atas karya-karya senirupa Indonesia yang ada kaitannya dengan
China, dan memajangnya sebagai ‘lukisan China kontemporer’
atau semacam itu.
Termasuk
karya-karya yang, bila diukur dengan skala yang lebih waras, merupakan
lukisan-lukisan bergaya China klasik. Anda tahu yang seperti apa
– gunung-gemunung berkabut, sungai-sungai berbusa, semak-semak
berbunga, awan-gemawan berdansa, ikan emas berenang-renang, dan
seterusnya, yang di zaman baheula memang mencirikan seni lukis
China (kira-kira pada zaman Tiga Kerajaan sampai dengan akhir
pemerintahan Maharani Tzu Hsi), tapi yang, sejak acara ‘bersih
negeri’ Mao di 1970-an, merupakan tampilan rutin warung-warung
cenderamata di sekitar Tembok Besar yang misinya adalah menguras
dompet wisatawan dari Indonesia.
Yang
terakhir inilah yang membuat Bob berang tak kepalang.
‘Lukisan-lukisan’
(gulungan) ‘kontemporer’ (klasik) ‘China’
(Indonesia) itu indah. Lantas kenapa gambar-gambar (lukisan) buatan
Bob yang ‘manis’ (berwarna pastel) dan ‘indah’
(cocok dengan tirai ruang tamu) tidak kontemporer?
Ketika
para seniman berhenti maraton ke arah Yang Indah dan mulai menyemai
ambisi untuk mengganggu pemandangan, Anda tahu pasti ada yang
amat-sangat tak beres.
Ada
masanya para seniman mengambil kuas dan meraih alat pemahat dan
memproduksi sesuatu – namun kemudian kiamat datang dan mereka
mengambil produk tanpa pernah meletakkannya lagi. Sungguh suatu
bencana bagi orang awam!
Pikiran
semacam itu dikunyah oleh otak saya saban kali bertemu secara
kebetulan dengan apa yang dinamakan ‘senirupa kontemporer’.
Padahal baru beberapa kali migren yang lalu ada Bad Art. Punk
Art. Stupid Art.
Pikiran
berikutnya yang melintas adalah: “Gombal.”
Saya
pernah melihat, di sebuah galeri, sebuah piyama koyak dan sepasang
sandal yang sama kusamnya dan sudah bolong tumitnya dijejalkan
begitu saja ke dalam sebuah mantan laci. Bila tidak ada secarik
kertas yang dilekatkan di situ, yang bertuliskan “Seni Instalasi
- The Misfit - Oleh: XYZ - 1999", bisa jadi saya sudah akan
mengajukan keluhan tentang betapa tak kompeten pembersih ruangan
yang dipekerjakan oleh galeri itu.
Di
dekat ‘instalasi’ tadi ada karya lain yang benar-benar
memaksa orang memandang. Ada beberapa ratus bongkah batu di lantai.
Dari langit-langit, terjulur ke bawah sebuah boneka plastik gundul
yang matanya hilang sebelah dan kakinya separoh terbakar, dan
semua ini oleh senimannya dijuduli “Under Tyranny”.
Saya tanya seseorang yang tampangnya seperti kurator yang kebetulan
ada di dekat situ, kenapa kok dibilang ‘under’ padahal
bonekanya kan jelas-jelas ‘above’. Jawab orang yang
seperti kurator itu, saya harus membalik sudut pandang.
Ada
juga karya yang saya pikir lukisan, karena terdiri dari kain tebal
kasar berlabur putih kesat yang biasanya dinamai ‘kanvas’,
yang direntang kuat-kuat di atas bingkai kayu murahan, dilumuri
cat minyak, kemudian keduanya dijepit oleh bingkai yang agak lebih
mahal dan berukir sedikit. Lukisan itu warnanya antara hijau kotor
dan hitam kusam, dan tidak ada apa-apanya lagi selain beberapa
garis tipis kehijauan serta kata-kata. “In”, bunyinya,
di sudut kanan atas; “Out”, di sudut kiri atas, dan
beberapa kata lagi dilempar ke sana-sini: "Conspiracy",
"Fear", "Power". Saya juga tak mengerti apa
maksud pelukisnya, tapi saya pura-pura mengerti sesudah melihat
dua orang laki-laki muda yang mengenakan aura reggae dan carut-marut
seperti laiknya mahasiswa yang ingin jadi pelukis mengangguk-angguk
di depan lukisan tadi. Kalau memang karya itu masuk akal di kepala-kepala
yang seperti itu – yang dimahkotai rambut rasta palsu dan
diwarnai dengan zat-zat kimia dari dalam botol – harusnya
kepala saya, dengan rambut asli yang kata Alkitab dibuat dan diwarnai
oleh Tuhan, juga bisa memahaminya.
Tapi
persoalannya tetap mengganggu saya sepanjang hari.
Tak
ada kata lain yang saya temukan. Cuma sampah. Sampah murni. Sampah
yang seharusnya berada di tempat lain dan jangan ke mana-mana
sebelum mandi.
Mengambil
barang-barang dari tong sampah dan menaruhnya di tempat lain bukanlah
displacement; melainkan benar-benar misplacement.
Orang
dilarang buang sampah sembarangan di tempat-tempat umum, namun
tampaknya Hukum lupa mencantumkan ketentuan yang mencakup galeri
senirupa.
Sementara
itu, Bob melabur kembali lukisan-lukisan ‘indah’nya
menjadi putih, kemudian ditorehkannya gambar-gambar yang tak keruan
di sana sebagai ganti.
“Kamu
nggak tahu sih apa yang dilakukan Ugo Untoro pada lukisan-lukisannya
yang indah,” katanya pada saat saya kerutkan kening.
6.
Tak Beban Batu Digalas: Bob, Gila, Sakit, Gila
Mustahil
saya bisa menyembah sesosok Tuhan pikun yang kerjanya berjalan-jalan
keliling taman dengan sebilah tongkat di tangannya, memasukkan
teman-temannya ke perut ikan paus, dan mati sambil menangis
memanggil-manggil BapakNya, lalu hidup kembali setelah tiga
hari; semua itu sama sekali tidak masuk akal, absurd, dan, lebih
parah lagi, berlawanan dengan segenap hukum ilmiah.....
(Gustave
Flaubert, Madame Bovary, 1857)
Di
jagat yang saya diami, ‘gila’, ‘edan’,
‘sinting’, ‘aneh’, ‘nyentrik’,
‘sakit’, dan seterusnya adalah kosakata sehari-hari.
Seniman-seniman di sekitar saya kelihatannya tak bisa berkomunikasi
tanpa kata-kata semacam itu untuk menggambarkan teman-teman mereka,
dan terutama untuk membuat potret diri.
Makin
‘gila’ seseorang di sana, makin bangga dia.
Saya
kira yang begini ini sudah kuno, sudah terlalu lama diadopsi sejak
zaman Sanggar Bambu, tapi sampai sekarang nyatanya masih dilakoni
dan dianut sekencang-kencangnya di luar sana.
Seorang
seniman yang saya kenal baru saja dilarikan ke Gawat Darurat gara-gara
membelah perutnya sendiri, katanya sih bukan dalam rangka percobaan
bunuh diri gaya Jepang tapi karena “Aku ingin tahu seperti
apa isi perutku”. Dokter-dokter serumah sakit itu tak ada
yang percaya padanya, tapi saya bisa karena saya kenal dia. Lukisan-lukisannya
belakangan ini disesaki sosok-sosok tembus-pandang yang isi perutnya
berkelakuan tak seperti jamaknya isi perut manusia.
Ada
lagi yang kerjanya keluar-masuk RSJ meski semua itu tak mengubah
apa pun selain saldo rekening bank ayahnya. Orangnya sendiri bilang
dirinya tak apa-apa. Cuma dia sering mendengar suara-suara tanpa
wujud, yang memberitahunya bagaimana cara membuat jembatan besi
– yang sebulan kemudian dipamerkannya di sebuah galeri.
Ada
juga yang belum pernah diapa-apakan sama sekali oleh aparat kesehatan
mental, meskipun hidupnya sangat tak biasa. Tiap Jumat, pelukis
ini tak mau mandi. Begitu juga tiap Selasa. Katanya, jiwanya akan
dirampas setan kalau berani mandi pada hari-hari itu. Setan ini
konon celingukan tiap jam 3:13 pagi di dekat kulkas.
Di
dekat situ ada pelukis lain lagi, yang mengumpulkan batu-batu
kasar berbagai ukuran di studionya. “Ini semua datang sendiri
padaku,” ujarnya, “terbang melalui udara, masuk ke
sini, dan minta disimpan. Biasanya pada jam 11 malam, tapi mereka
nggak mau datang kalau ada tamu.”
Tetangganya,
Bob, menambah tato baru tiap kali patah hati. Padahal dia patah
hati kira-kira tiap Kamis per minggu.
Masih
banyak lagi kasus di Yogya saja, belum lagi di Bandung, di Jakarta,
di Nusakambangan. Bisa ludes hutan se-Kalimantan kalau saya pakai
mencetak daftar semacam itu selengkapnya.
Buat
sebagian besar penghuni Planet Seni, Planet Waras itu sama sekali
tak menarik, membosankan, omongannya tanpa logat dan pemandangannya
tanpa karakter. Karenanya antara dua planet itu terdapat jurang
besar yang namanya ‘temperamen artistik’, setidaknya
kata mereka.
Sejauh
ini keduanya berdampingan tanpa insiden-insiden yang membahana,
meski sekali-sekali terjadi pelanggaran batas wilayah.
Pelintas-batas
ini biasanya seseorang dari Planet Waras yang, karena tak memperoleh
kebebasan yang diinginkannya di sana, menyeberang ke Planet Seni
lantaran di tempat itu orang gila adalah penduduk sehari-hari.
Para pelintas batas ini, sedihnya, tak pernah sadar bahwa para
penduduk Planet Seni kebanyakan punya bakat lebih dulu, baru kemudian
gila. Bukan sebaliknya.
Ada
seorang tukang kayu yang tiba-tiba saja ingin jadi pemusik, di
kampung saya. Selama fase transisi, dia hidup dari wesel kiriman
ibunya. Kini sudah lima tahun sejak proklamasi orang itu. Dia
belum juga berhasil menaklukkan gitar yang dibelikan ibunya dulu.
Pak RT sampai bludrek lantaran keluhan tetangga kanan-kiri si
mantan tukang kayu.
Ada
yang bahkan lebih menyedihkan lagi. Orang itu mewakili spesiesnya
yang tipikal. Kerjanya semula menjual polis asuransi. Lantas mendadak
dia putar haluan dan mengiklankan diri sebagai orang ‘gila’,
dengan harapan agar semua orang di dunianya berpikir demikian,
dan selama bertahun-tahun dia selalu sibuk membuat citra-diri
yang baru dengan kadar kegilaan yang kian meningkat, terutama
sejak istrinya yang sudah kontan minta cerai pada saat ‘kegilaan’
ini bermula menuntut tunjangan anak. Kasihan sekali karena orang
yang mengaku ‘gila’ dan ‘nyeni’ itu sama
nyentriknya dengan tiap bungkus burger McDonald’s. Dia juga
tak bisa melukis, tak bisa mematung, tak mampu menulis, tak kompeten
berakting, kikuk berjoget.
Sebagian
pelintas-batas tak perlu pasang iklan untuk dianggap gila di Planet
Waras yang mereka huni. Mereka sudah dianggap gila oleh para dokter
spesialis saraf. Karena itu mereka lalu beremigrasi ke Planet
Seni. Di sana, mereka sukses memperagakan kegilaan tulen. Persoalannya
adalah, mereka sama sekali tak becus membuat karya seni.
Kadang
kericuhan di Planet Seni disebabkan oleh benturan antara orang-orang
yang gila dan benar-benar seniman, dengan mereka yang hanya gila
saja.
Di
jagat saya, ‘gila’ itu oke, dan ‘jahat’
itu tak apa, asal jangan bodoh.
Beberapa
orang ‘gila’ yang saya kenal sangat brilian.
Sisanya,
sayang sekali, selain gila dan jahat juga bodoh tak terkira.
Namun
tak ada hukum yang melarang mereka berkeliaran di Planet Seni,
tak di Indonesia, tak di Inggris, tak di Jerman, sekalipun mereka
secara intelektual jelas-jelas anti-gravitasi dan melanggar semua
jenis hukum jasmaniah.
Itu
karena orang-orang di Planet Waras menyamaratakan kesenimanan
dengan ‘kegilaan’.
Padahal
bukan vodka dan bukan shabu-shabu yang melukis dan memahat, juga
bukan penyakit dengan nama latin yang panjang dan hanya dimengerti
maksudnya oleh para psikiater di Puri Nirmala.
7.
Bumi Ditampar Tak Kena: Bob, Filsafat, Kebebasan
Bob
baru saja membaca Bertrand Russell dan mengklaim pembebasan dari
‘sickness’.
Duapuluh
empat jam kemudian, sesudah dua gelas gin, dia mengklaim kembali
‘sickness’-nya.
Biasanya
gagasan-gagasan praktis memang muncul kalau habis baca Bertrand
Russell. Apa pun kata Russell, kita selalu berpikir, “Lho,
aku juga mikir gitu tadi pagi!”. Kecuali ramalan-ramalannya
yang sungguh-sungguh ngawur, kebanyakan isi buku-buku Russell
adalah filsafat yang Bob pun kalau terpaksa bisa membuatnya.
Sudah
jelas kita butuh filosofi yang gampang dimengerti, lebih baik
lagi filosofi yang bisa ditenteng ke ruang tunggu dokter dan bandara
dan halte bus kota. Itu dia dilemanya: filsafat tak pelak lagi
diciptakan supaya jangan mudah dipahami oleh Liga Awami.
Setiap
orang bisa saja hidup dalam suatu filsafat, tapi filsafat selalu
menjadi kelompok yang keanggotaannya terbatas manakala sampai
ke masalah penjabaran filosofi tadi, lebih-lebih secara tertulis.
Jadi,
yang kita butuhkan adalah filosofi yang bisa menjelaskan kepada
kita tentang falsafah yang kita hidupi.
Dulu
saya suka Russell; dia itu virus yang menjangkiti universitas-universitas.
Tiap-tiap selesai baca bukunya, saya benci komentar-komentarnya
yang kelewat menyamaratakan, tapi setidaknya secara linguistik
mereka itu baik dan benar meski secara filosofis tak senonoh.
Dan
dalam filsafat yang linguistik ini besar artinya. Lebih dari sastra,
karena novelis tak perlu mencari-cari cara baru untuk menggunakan
kata-kata lama (dan menjelaskan mengapa dan bagaimana), sedangkan
penyair kelihatannya hanya harus menjadikan kata-kata yang itu-itu
juga jadi tak jelas maknanya atau tak masuk di akal. Mereka tak
usah membuat catatan kaki. Tapi filsuf-filsuf tertentu juga tak
usah membuat catatan kaki; yakni mereka yang sudah jelas gila
(misalnya idola Bob, Nietzsche), atau sudah jelas amat-sangat
jenius (misalnya idola Bob, Nietzsche). Atau Russell, yang tak
masuk kategori gila maupun amat-sangat jenius.
Ada
yang menerjemahkan buku Russell The Conquest of Happiness
ke dalam bahasa Indonesia lebih dari sepuluh tahun silam. Terjemahannya
sangat menyedihkan, karena itu saya mencari buku aslinya. Setelah
repot beberapa lama, dan kartu ajaib (Visa milik tetangga) telah
berhasil dengan abrakadabranya, akhirnya dapat juga buku itu.
Namun saya kecewa bukan main karena aslinya sama menyedihkannya
dengan terjemahannya, meski dalam hal yang berbeda.
Saya
pikir saya ini selalu tak bahagia. Jadi, dengan antusias saya
baca Russell supaya tahu mengapa, secara filosofis, saya selalu
tak bahagia. Lagipula saya berpendapat bahwa kebahagiaan adalah
satu-satunya bahan filsafat yang masuk akal buat dipikir-pikirkan.
Dalam
kategori Russell kelihatannya saya termasuk dalam golongan manusia
yang “tak bahagia dalam cara yang seperti Lord Byron”.
Ini agak canggih, tapi sama saja tak menyenangkan. Soalnya saya
temukan kutipan dari Kitab Pengkhotbah, bagian dari Perjanjian
Lama yang lokasinya di sekitar kidung-kidung raja Sulaiman, yang
persis seperti pikiran saya tentang subjek ketidakbahagiaan itu.
Padahal, kata Russell, pikiran itu keliru. Ini dia:
Sungai-sungai
mengalir ke dalam lautan; namun laut tak pernah penuh. Tiada
yang baru di bawah langit. Tiada ingatan tentang yang telah
lalu. Aku benci segala usahaku di bawah terik matahari ini:
karena aku akan harus meninggalkan hasil kerjaku pada orang
yang akan hidup sesudahku.
Russell,
tentu saja (saya harap Anda tahu bagaimana gaya menulisnya), menginjak-injak
habis tuturan para Pengkotbah Kristen itu. Kalau apa yang ditulisnya
dikonversi ke bahasa saya, kira-kira bunyinya akan begini: bagaimana
dengan tsunami? Bukanlah air meluap ke daratan sama saja dengan
‘laut sudah penuh’? Plato meninggalkan hasil kerjanya
pada orang lain, tapi dia belum pernah bermimpi menemukan internet,
bukan? Guy Fawkes berubah jadi nuklir, apa bukan kemajuan namanya?
Tak ada peninggalan yang tak diubah dan dikembangkan oleh pewarisnya,
bukan? Jadi, kenapa musti pelit dengan pewarisan hasil jerih-payah
kita sekarang pada generasi yang akan datang?
Russell
tak mau tahu bahwa logika saya mengatakan tsunami tidak menguras
air lautan. Plato sudah logged-in ke sesuatu yang bisa disebut
inter-nets; dia punya jaringan. Bubuk mesiu jadi hulu ledak berkepala
nuklir, tapi kepribadiannya, bahkan jatidirinya, tak berubah sedikit
pun. Dan saya keberatan mencangkuli ladang tanpa pernah memanen
hasilnya dan harus merelakannya semata-mata demi keponakan saya
Akira yang nakalnya bukan main itu.
Sedangkan
Russell menuduh para penulis Kitab Pengkotbah ketinggalan zaman
karena tak pernah dengar tentang listrik dan telepon. Padahal,
jangankan rekening telepon, para penulis itu juga belum pernah
dengar ‘ketinggalan’, ‘zaman’, ‘karena’,
‘tak’, ‘pernah’, ‘dengar’,
dan seterusnya – sebab mereka tidak mengenal bahasa Indonesia.
Menurut
Russell, ada tiga penyebab ketidakbahagiaan manusia: 1). ‘pandangan-pandangan
yang keliru mengenai dunia’, 2). ‘etika yang keliru’,
dan 3). ‘kebiasaan-kebiasaan hidup yang keliru’.
Bukanlah
adat saya untuk memaki-maki filsuf Inggris yang sudah almarhum,
namun nyaris saja saya melakukannya, padahal saya baru sampai
ke halaman 27.
‘Keliru’,
kata Eyang Russell.
‘Keliru’
itu berat sekali. Siapa bilang, menurut siapa, ‘keliru’?
Yang ‘benar’ yang bagaimana? Apa memang ada yang ‘benar’?
Kata siapa? Mengapa? Dan seterusnya – belum lagi ‘pandangan
tentang dunia’, ‘etika’, dan ‘kebiasaan
hidup’, dan ‘hidup’ itu sendiri – semuanya
konsep bikinan manusia, dan tak pernah tidak siap-pakai kecuali
bila Anda ini Tarzan.
Singkatnya,
yang ‘tidak keliru’ itu ‘masyarakat’.
Komunitas. Kompromi. Konformitas.
Alamak.
Bagaimana
mungkin ada makhluk yang bahagia bila dia mengikuti apa yang ‘tidak
keliru’ itu tanpa benar-benar menerimanya? Kalau dia tidak
ingin apa-apa dan mengadopsi semua konsep siap-pakai itu begitu
saja, okelah. Dia mungkin akan bahagia karena menurut tafsir Russell
kebahagiaan itu sama saja dengan menyamakan persepsi dengan semua
orang lainnya (itu yang saya tangkap, paling tidak). Tapi kalau
orang yang malang itu, yang tak bahagia itu, tak ingin sekadar
diterima oleh lingkungannya, dan seterusnya, bahkan tak ingin
‘berbahagia’ bila hanya karena mengikuti arus, lalu
bagaimana?
Jawab
Russell: “................”
(Dia
tidak menyinggung itu sama sekali.)
Yang
disinggungnya adalah nasib orang-orang yang pandangannya tentang
dunia keliru, etikanya salah, dan kebiasaan hidupnya tak benar:
“Dia akan memperoleh watak penghancur, yang akan memustahilkan
tercapainya hal-hal yang memungkinkan kebahagiaan, yakni semangat
alamiah dan gairah hidup yang wajar.”
Hal-hal
Yang Mungkin, saya kira, sangatlah terbatas. Hanya sejauh yang
manusia mampu bayangkan saja. Tampang, kehendak, impian, dan sebagainya,
sangat sedikit jenisnya, meskipun Anda mungkin mengira tak terbatas
adanya. Dalam kebanyakan kasus, segala sesuatu tampak seolah tak
berujung hanya karena kita tidak memiliki akses terhadap hal-hal
yang kita tak akan pernah temukan (dan ini tak berarti mustahil
ditemukan oleh orang-orang lain).
Kata
Russell, ada hal-hal Puncak (‘Ultimate’) yang memungkinkan
kebahagiaan. Kata saya, siapa bilang? Tak semua orang ingin jadi
Tuhan, bahkan tanpa cekokan agamis habis-habisan pun. Sebagian
besar orang tak ingin jadi Tuhan karena memang tak ingin jadi
Tuhan. Begitu sulitkah kenyataan ini dibayangkan?
Orang-orang
gila, kata Russell, ada kalanya bahagia tulen, namun kebahagiaan
mereka “bukanlah jenis kebahagiaan yang akan menyebabkan
orang waras sirik.”
Tentu
saja tak seorang gila pun, kalau benar-benar gila, akan menulis
buku panjang-lebar tentang cara mencapai kebahagiaan dan menjabarkan
mengapa orang-orang waras tidak berbahagia. Seandainya dia menulis
buku seperti itu, orang waras juga takkan paham, karena gagasan-gagasannya
pasti tak ada kesamaan dengan yang bisa dicerna akal mereka. Kita
bisa iri pada seseorang karena sesuatu yang bagi kita tak jelas.
Namun kita tidak bisa sirik mengenai sesuatu yang tak kita pahami,
bukan?
Jadi,
pengalaman saya membaca buku Russell itu berakhir dengan kejengkelan
total, karena, sesudah beberapa bab lamanya melindas habis gagasan-gagasan
orang tentang pelarian dan pengalihan perhatian, Russell memberikan
resep kebahagiaan yang persis sama.
Kalau
Anda tidak bahagia ketika memikirkan Presiden SBY, begitu katanya
kira-kira, sebaiknya Anda berpikir tentang Nyonya Suharti saja
(merek ayam goreng Yogya itu lho).
Saya
pikir, satu-satunya jalan menghindarkan ketidakbahagiaan memang
cuma dengan melarikan diri atau mengalihkan perhatian, karena
itu sudahlah, tak usah repot merangkai kata-kata mutiara yang
akhirnya toh bermuara ke situ juga.
Tapi
Russell belum selesai menjengkelkan saya. Katanya:
Mereka
yang secara tulus menganggap diri mereka tidak berbahagia akibat
pandangan-pandangan mereka mengenai alam semesta dan segala
isinya ibarat orang yang memasang kereta di depan hidung kuda
dan bukan di belakangnya. Yang benar adalah: mereka ini tidak
berbahagia karena sesuatu sebab yang tak mereka ketahui. Karena
itu, mereka lalu mengarahkan perhatian mereka kepada aspek-aspek
buruk dalam kehidupan ini. (halaman 25)
Akibatnya,
sampai sekarang saya tetap tidak bahagia, gara-gara baca buku
Russell itu tadi.
Bagaimana
dengan Bob? Apakah Bob ‘sakit’, atau ‘hanya’
tak bahagia?
Apakah
‘sakit’ adalah sama dengan ‘tak bahagia’?
Sepanjang
kariernya, termasuk sepanjang pensiun temporernya, Bob mengklaim
‘sakit’ sebagai daya pendorongnya dalam berkarya.
Apa
pun bisa jadi daya dorong untuk menciptakan apa pun. Bahkan ‘sakit’.
Terutama ‘sakit’. Lebih banyak lagu tentang patah
hati ketimbang mengenai cinta yang berakhir bahagia, kan?
Tapi
tiap kali ‘sakit’ itu diangkat-angkat, dinaikkan ke
panggung, ditaruh di pedestal dan dibingkai rapi dan debunya disedot
setiap hari, saya jengkel sekali.
Sebab
bila ‘sakit’ itu sudah hilang, Bob takkan bisa membuat
apa-apa lagi.
Dan
‘sakit’ bisa hilang, lho. Meski mungkin makan waktu
lama, biarpun mungkin sepanjang hidup kalau dia terus-menerus
dipiara seperti sekarang ini.
Dan
saya jengkel karena barangkali Bob tak bisa menerima kenyataan
bahwa dirinyalah yang melukis dan menyair, bukannya ‘sakit’.
Lebih
sulit lagi menerima kenyataan bahwa ‘sakit’ itu sendiri
adalah salah satu karyanya yang pertama-tama.
Penuhkah
lautan sehingga ada tsunami?
8.
Kalau Bunga Tidak Sekuntum: Bob, Potret, Diri
“Aku
tak akan mengubah apa pun dalam potretnya. Memangnya salahku
bahwa tampangnya persis telur kocok, dan wajahnya merat-merot
tak keruan seperti itu?”
(Edouard
Manet, 1878)
Bob
jadi ‘foto model’ untuk urusan tato sejak awal abad
ke-21. Dia sudah biasa dipotret-potret dan dijadikan sampul buku,
majalah dan tabloid; dan di sela-sela kesibukan ini dia jadi figuran
beberapa kelompok musik punk dan rock dan ska dan reggae dan keroncong
dan dangdut di Yogya, sebagai tukang joget di panggung.
Dia
juga membuat potret-diri yang tak terhitung lagi jumlahnya. Semuanya
persis seperti makhluk-makhluk yang digambarnya untuk disablon
ke atas kaos, yang dijualnya lewat warung-warung tato di sekujur
Yogya.
“Semua
orang kelihatan seperti itu di mataku,” kata Bob, “termasuk
aku sendiri.”
Itu
sebabnya saya bersyukur tak pernah dilukis oleh Bob. Saya masih
sakit hati karena dibuat boneka yang menyeramkan oleh Ugo Untoro
dan dilukis seperti memedi sawah oleh S. Teddy D.
Definisi
‘potret’ dalam kepala saya adalah sepotong sesuatu
– gambar, patung, boneka – yang sama sekali tidak
mirip orangnya.
Ugo
dan Teddy kelihatannya tidak setuju dengan saya.
Dalam
hal ini Bob agak lebih masuk akal. Di kebanyakan waktu, dia tidak
mengambil model manusia hidup mana pun yang dia kenal.
Maka
saya kaget setengah mati bahwa ada yang benar-benar bersedia membayar
Bob untuk melukis orang-orang(an) atas nama seni lukis potret.
Kalaupun orang yang bersedia membayarnya ini cuma ada dalam mimpi
Bob sendiri, sudah sangat mengejutkan, apalagi bila memang ada
di muka bumi. Soalnya, definisi yang beredar di luaran adalah,
melukis potret adalah kegiatan mengorangkan kembali seseorang
lewat media tertentu; artinya hasil kegiatan itu nanti idealnya
bisa dikenali oleh orang-orang lain (meski tak pernah oleh orang
yang dilukis itu sendiri) sebagai seseorang yang memang dilukis
potretnya tadi. Bagaimana Bob bisa membuat yang seperti ini?
Sebetulnya
bahkan, bagaimana bisa pelukis-pelukis yang begitu tergiur oleh
diri mereka sendiri bisa membuat representasi fisik siapa pun
selain mereka sendiri? Jadi proyek ini buat saya adalah misteri.
“Sebenarnya
Bob bisa sih bikin potret,” kata seorang kenalan Bob. “Sayangnya
dia itu nggak punya sikap.”
S.
Teddy D. dan Ugo Untoro dua-duanya adalah sikap. Mereka bisa bertahan
hidup dengan mengandalkan apa pun yang disetor oleh sistem mereka,
asalkan mereka belum melewati ambang konsumsi barang-barang pemanggil
halusinasi. Mereka, kalaupun entah karena apa memakai acuan jasmaniah
seseorang yang benar-benar ada (meskipun ini relatif), bersikap
terhadap si model ini atau bayangan tentangnya, dan yang digambar
adalah sikap itu.
Tetapi
Bob itu, sungguh sayang, normal.
Kalau
Anda normal dan kerja menghasilkan gambar-gambar, Anda takkan
bersikap.
Jadi
Bob tak pernah hadir dalam karya-karyanya, termasuk dalam potret
diri.
Ini
luarbiasa, tapi semua kebenaran memang begitu adanya.
Sementara
dalam citra ekspresionis yang seperti ‘setoran’ ketiga-tiganya,
absennya Diri sama dengan cangkang tanpa penghuni. Saya tak tahu
bagaimana Bob mengatasi perkara ini.
Toh
kadang-kadang dia mengklaim keunikan sampai sebegitunya.
“Aku
sudah melukis sejak sebelum aku bisa ngomong,” kata Bob.
Meski
demikian, klaim-klaim Bob tak seutuhnya bohong.
Dia
dulu jenius untuk ukuran mahasiswa yang ingin jadi pelukis di
tahun 1991. Tak ada yang melukis seperti dia kecuali mungkin Eddie
HaRa dan Heri Dono, dua-duanya sekarang sudah jadi pengelana.
Waktu itu bahkan Heri Dono belum kedengaran. Ugo Untoro dan S.
Teddy D. juga belum disebut-sebut orang.
Bob
merangkum mimpi-mimpi buruknya dalam warna-warna terang dan sapuan-sapuan
yang seperti asam pelarut (menghabiskan cat minyak milik orang
lain), dan siang-malam membuat kolase-kolase dari kanvas, kertas,
kaca, tali, logam, kayu, dan apa pun yang dipulungnya dari rumah
neneknya. Melukis, buat dia waktu itu, adalah kendaraan untuk
mengangkut gagasan-gagasan kacau (atau lebih sering lagi, perasaan-perasaan)
dari dalam kepalanya keluar. Acuannya adalah yang remeh-temeh
dan di pinggiran sejauh menyangkut referensi manusia beradab intelek;
dia hanya mau atau hanya bisa membentangkan hal-hal yang adanya
di anak-cabang budaya (subkultur) kaum muda setempat. Musick rock,
reggae, dan stiker masuk ke cara ungkap Bob, begitu juga poster-poster
jalanan dan corat-coret di tembok-tembok kota.
Apa
yang dibuatnya waktu itu menjadi genre lokal.
Tentu
saja Eddie HaRa yang memulai semua itu kira-kira lima tahun sebelumnya,
tapi di luar sana Bob juga memiliki sektenya sendiri, lantaran
apa yang dibuatnya lebih ‘gelap’ ketimbang bikinan
Mas Eddie. Tidak ada yang cerah-ceria dalam gegap-gempita kanvas
si Bob waktu itu. Sama sekali tak ada optimisme. Pada dasarnya
malah nihilis.
Ternganga
oleh gesitnya Bob membuang kanvas ke rumah-rumah kolektor, terkagum-kagum
oleh caranya melukis yang penuh gaya, tercengang oleh abainya
Bob pada duit yang dibiarkan berceceran dari kantongnya, para
mahasiswa yang ingin jadi pelukis mengikutinya ke mana-mana, sama
seperti yang terjadi sekarang pada Agus Suwage, Ugo Untoro dan
S. Teddy D.
Tapi
lantas semuanya ambrol (saya masih belum begitu mengerti bagaimana
prosesnya) dan Bob tersepak keluar gelanggang.
Dia
di sana selama ini.
Karena
S. Teddy D., entah bagaimana, telah berhasil – di antara
sadar dan tidak – mengangkat objek-objek menjadi isi melalui
sikapnya terhadap objek-objek itu.
Sebab
Ugo Untoro, apa pun yang dia tunjukkan di permukaan, menemukan
cara-cara terbaik untuk memuntahkan isi perut intelektualnya.
Sementara
Agus Suwage berhasil meyakinkan orang untuk membeli lukisan-lukisan
yang objeknya dirinya sendiri, sesuatu yang kebetulan cocok dengan
arus zaman ketika orang melakukan apa saja untuk memperoleh pegangan
di dunia yang centang-perenang ini, di mana parodi laris gila-gilaan,
karena segala hal yang terlalu mengerikan untuk dibicarakan lebih
baik ditertawakan, terutama di khasanah seni pop, dalam skala
yang pasti tak terbayangkan oleh kritikus senirupa Inggris Lawrence
Alloway pada saat menemukan istilah itu di tahun 1954.
Ke
sekitar pelukis-pelukis itulah Bob beredar, sebagai salah satu
di antara lusinan ‘pengikut’.
Umur
25, dia sudah carut-marut oleh Sindroma Pensiunan.
Katanya,
“Apa sih seni konseptual itu? Aku nggak ngerti sama sekali,
padahal hidup-matiku tergantung padanya sekarang.”
Seniman
dari Kalifornia, Edward Kienholz, menemukan istilah itu di awal
1960’an, satu dasawarsa penuh sebelum Bob dilahirkan.
Bob
masih Melakukan Sesuatu, meski Sesuatunya tak dianggap memiliki
eksistensi konseptual dan karenanya terus-terusan dipinggirkan.
Tanpa S. Teddy D. dan tanpa Ugo Untoro dia mungkin selamanya terkapar
di ketiadaan. Yang dua itu, terutama Teddy, karena Ugo selalu
lebih sibuk dengan urusannya sendiri, entah mengapa selalu menganggap
perlu memasang pengungkit di bawah Bob untuk melentingkannya kembali
ke rel kesenian.
Makanya
Bob kalut ketika S. Teddy D. bicara soal ‘seni konseptual’
sementara dia tak tahu apa itu artinya.
Tapi
salah satu sumber penderitaan saya adalah mengapa ‘seni
konseptual’ tidak eksis secara konseptual saja, dan bukannya
mengganggu pemandangan orang awam dengan eksis secara visual.
Jadi
saya tak bisa menghibur Bob.
Kini
setelah ‘seni kontemporer’ mengizinkan segala sesuatu
(dengan kata lain: mewajibkan semua orang untuk mengizinkan segala
sesuatu), mungkin saja Bob memperoleh kesempatan untuk bangkit
kembali.
Retorika
anti-otoritarianisme yang diusung posmodernisme sudah lewat. Puja-puji
yang diikuti daftar nama-nama yang layak dikutip (hampir semuanya
nama Prancis), yang menyesaki esai buatan para kurator dan kritikus
senirupa Indonesia selama ini, sudah surut. Kerumunan istilah-istilah
ruwet yang telah menjadikan sembarang Doktor sebagai ‘pakar’
senirupa posmodernis sudah kembali normal, alias kosong-bolong.
Kini
Bob membuat potret.
Ini
gagasan seorang pemilik galeri, yang menjala orang-orang tertentu
di antara kenalan-kenalannya untuk dilukis di tempat secara bersamaan
oleh tiga atau empat seniman sekaligus, komplet dengan segenap
antitesis dari definisi ‘adibusana’ yang mereka kebetulan
kenakan waktu itu.
Di
Malioboro, Yogya, satu resimen pelukis dan penggambar potret telah
rutin menyisir pejalan kaki untuk dimodelkan seperti itu sejak
Bob masih pakai popok. Dalam sekejap, tak lebih lama ketimbang
waktu yang dibutuhkan untuk mengucap ‘Malioboro’ (terutama
bila Anda orang Australia), potret sudah rampung dan honornya
sudah dipakai bayar utang. Jadi kegiatan berpose untuk digambar
adalah kejadian biasa buat lingkungan RT saya. Kami juga tidak
akan heran melihat para pelukis dan penggambar potret di Malioboro
mengerek gambar-gambar para tokoh masyarakat sebagai cara menarik
konsumen di antara anggota-anggota Liga Awami; meski kami harus
diberitahu bahwa gambar-gambar itu serangkaian potret tokoh-tokoh
masyarakat; sesuatu yang tak terduga dan sering merupakan kejutan
karena segala petunjuk yang kasat mata tidak menuju ke arah itu.
Tokoh-tokoh
masyarakat dan apa yang dinamakan ‘selebriti’ bisa
menjual segala sesuatu.
Memang
tidak terbukti demikian dalam kasus para pelukis potret di Malioboro,
tapi juga bukan salah mereka bahwa ‘masyarakat’ yang
mereka acu tidak pernah sama dengan ‘masyarakat’ Anda,
dan biasanya juga tak cocok dengan gagasan saya tentang ‘tokoh’
maupun ‘masyarakat’. Umpamanya, saya tidak bakal terkesan
andai mereka pamer pernah melukis potret Britney Spears dan Avril
Lavigne dan seluruh finalis Indonesian Idol; sebaliknya mereka
juga tak akan mengerti mengapa saya menokoh-masyarakatkan Oda
Nobunaga.
Tidak
pernah ada yang namanya ‘tokoh masyarakat’, titik;
kalau mereka punya saluran, maka ada khalayaknya, namun di luar
khalayak ini mereka sama sekali bukan siapa-siapa.
Lebih
dari itu, di Planet Seni selalu siaga beberapa peleton manusia
non-artistik yang bisa dijumpai kapan saja di mana pun, meski
kehadiran mereka yang kontinu ini tidak bisa dicarikan justifikasi.
‘Kolektor’ yang belum pernah satu kali pun dalam kurun
waktu 20 tahun membeli apa pun, misalnya. Atau para penggemar
lukisan-lukisan tertentu (lebih tepatnya para penggemar pelukis-pelukis
tertentu, dan pelukis-pelukis tertentu ini digemari dalam situasi-situasi
tertentu). Mereka selalu ada, dan tak bisa dipaksakan pada kita
(pada saya, bila Anda keberatan disamaratakan) sebagai ‘tokoh
masyarakat’ – mereka ini ‘tokoh khalayak’
pun bukan.
Sebenarnya
Orang-orang Awam lebih senang seandainya yang dilukis itu siapa
sajalah asalkan cantik dan lukisannya realistis, ketimbang ‘tokoh
masyarakat’ yang mana pun juga, yang umumnya dicirikan oleh
kehadiran yang substansial (ini bahasa Jerman; bahasa Indonesianya
‘kegemukan’), mimik muka yang kontemplatif (kelihatan
capek dan bosan), gaya berpakaian yang sederhana (benar-benar
tanpa selera), dan seterusnya.
Tokoh
masyarakat, buat Orang Awam, cukup dijadikan gambar prangko dan
uang kertas saja, karena di luar kedua pencitraan itu mereka akan
kelihatan.
Lagipula
kegiatan seperti mengumpulkan nama-nama orang terkenal dalam daftar
nomor di ponsel, misalnya, adalah hobi yang menyedihkan; di sebuah
bandara, saya pernah terpaksa menggapai Satpam lantaran ada orang
yang ngotot memaksa saya melihat-lihat koleksi foto-fotonya bersama
sekitar separuh penduduk Hollywood, meski di situ Demi Moore dan
Bruce Willis-nya masih pra-perceraian. “Anda tahu Jennifer
Aniston? Paris Hilton? Jennifer Garner? Saya kenal semuanya,”
dia bilang. Saya tak habis pikir mengapa dia marah waktu ditanya
“Apa mereka kenal Anda?”. Seandainya Jennifer Aniston
membawa-bawa potret bersama dia ke mana-mana, dan memaksa sesama
penumpang pesawat untuk melihatnya, nah, itu baru ada artinya.
Saya
tak tahu apakah kegiatan lukis potret Bob ini juga mencakup teks
dan citra-citra hasil memulung, tapi di sekitar saya kelihatannya
orang-orang seperti kehilangan sesuatu yang asasi sejak posmodernisme
pergi dan tinggal kenangan. Sering saya jumpai esai senirupa yang
nostalgis tentang itu, meski pura-pura ‘kontemporer’.
Tren
memang mengerikan. Kalau tak ikut arus, sulit mengharap kelangsungan
hidup.
Yang
jelas, fenomena ajaib bahwa Ugo Untoro melukis model-model hidup
yang dikumpulkan oleh orang yang bukan dirinya sendiri (sungguh
mati saya tak mengerti mengapa; kalau Teddy mah terbayangkan),
adalah orang-orang Ugo sendiri yang tak dikumpulkan oleh dirinya
sendiri.
Jadi,
gagasan pemilik galeri itu di titik tertentu masuk akal: bila
S. Teddy D., Ugo Untoro, Bob, dan entah siapa lagi, semuanya melukis
Anda, hasilnya adalah beberapa Anda yang berbeda-beda, meskipun
sudah tentu tak satu pun di antara potret-potret itu bisa dipakai
untuk mendaftar pencalonan Lurah, karena kini tak ada lagi Basuki
Abdullah.
Alasan
Bob untuk melukis potret-potret ini adalah alasan tertua di dunia.
Tapi tak ada bedanya buat dia, karena dia masih menggambar ‘di
luar kehendaknya sendiri’ sekarang.
Setelah
dua istri, dua anak dan tujuh pacar, dia masih ingin jadi pelukis,
sama seperti 14 tahun silam tatkala dia hanya sendirian.
Karena
buat Bob tiap hari adalah sebuah zaman, dan tiap peristiwa itu
historis, kritik tajam akan melukai agak dalam.
Sebagai
anggota kerumunan Yang Tak Melukis, saya ucapkan turut berbelasungkawa
atas kebutuhan yang tak bisa diredam itu, untuk bertelanjang secara
mental di bawah lampu sorot di hadapan khalayak galeri senirupa
yang sering tak peduli apa sebenarnya yang dikatakan pelukis lewat
karyanya.
Itu
sudah takdir. Anda hanya bisa berjalan terus saja dan bayar berdasarkan
argonya. Atau kalau benar-benar mustahil maju tak gentar, harap
pertimbangkan karier lain yang lebih meyakinkan, seperti, jadi
juragan.
©
2000, 2001, 2002, 2003, 2004, 2005 NIN.
Pengantar pameran Bob 'Sick' Yudhita, S. Teddy D. & Ugo Untoro
di Galeri Langgeng, Magelang, 2005. Kurator: Hendro Wiyanto.
|