amemorikaze
FINE ART ESSAYS: INDONESIAN VERSION OF CATALOG PREFACE FOR BOB 'SICK' YUDHITA AGUNG, S. TEDDY D, UGO UNTORO 2005

 

I N D O N E S I A N-----I D L E
alias Riwayat Seni Rupa Bob ‘Sick’ Yudhita Agung,
dengan aksiden S. Teddy D. & Ugo Untoro
1991 – 2005

Bob Sick, Ugo Untoro, S. Teddy D.

1. Adat Rimba Raya: Bob, Gerombolan, Seniman, Realisme, Sosialisme

Saat ini umat manusia terbagi secara politis menjadi seperti ini: satu orang bijak, sembilan penjahat, dan sembilan puluh orang pandir, per 100 KK. Itu pun menurut hitungan pengamat yang optimis.

(T.H. White, The Book Of Merlyn, 1977)

“Aku cuma pengen jadi seniman,” kata Bob.

Kalimat semacam itu sudah rutin diluncurkannya.

Selama 14 tahun saya mengenalnya, kira-kira sudah tiga triliun kali dia mengucapkan kalimat yang sama; sejak 1991. Waktu itu dia masih muda.

“Memangnya mau apa kalau kamu sudah jadi seniman?” tanya saya. Waktu masih muda, biasanya saya bertanya.

“Mmmm.....yah.....entahlah.....Aku akan melakukan sesuatu,” jawabnya.

Orang-orang yang Melakukan Sesuatu umumnya termasuk golongan yang tak tertahankan kecuali kalau Anda sedang siap-siap melangsungkan upacara pernikahan yang gilang-gemilang – kalau sudah begitu, kebanyakan dari mereka akan mendadak berubah menjadi Orang-orang yang Mengacaukan Sesuatu, selamanya saling meniadakan, umpamanya Orang-orang yang Mengerjakan Dekorasi merusak segalanya yang dilakukan oleh Orang-orang yang Mengurus Piranti Listrik, and semuanya berpuncak pada pembatalan pesta itu sendiri gara-gara Orang-orang yang Mengurus Katering.

Saya kira Bob tak punya pilihan lain. Satu-satunya jalan supaya kelihatan seperti orang yang Melakukan Sesuatu padahal sebenarnya menganggur, dan biar tampak menganggur sementara sesungguhnya Melakukan Sesuatu, memang dengan cara dikenal sebagai seniman.

Segala jenis manusia diasuh oleh masyarakat supaya mencibir pada orang yang Tidak Melakukan Apa-apa. Mereka tak pernah mau tahu bahwa segala jenis prestasi manusia selama ini dicapai manakala orang sedang menganggur. Bukan hanya penemuan tapi juga penelitian berakhir dengan Tidak Melakukan Apa-apa, dan hasil akhirnya semata-mata kebetulan saja. Columbus berlayar ke India tapi menemukan Amerika. Fleming mendapat penisilin hanya karena malasnya. Kita berangkat mencari sesuatu dan pulang mencangking sesuatu yang lain; saya pernah mengetik esai tentang keshogunan Tokugawa dan yang rampung adalah artikel tentang peternakan.

Seniman adalah orang yang Melakukan Sesuatu, meskipun ibu mertuanya mati-matian membantah gagasan ini dengan mengemukakan bukti-bukti seperti atap yang bocor tak tertambal sejak 1971, dan timbunan rekening tak terbayar yang entah bagaimana selalu saja berdatangan. Sebagian seniman juga bakal menolak gagasan itu, dan mereka ini berusaha keras supaya semua orang tahu bahwa yang mereka lakukan hanyalah menjadi diri mereka sendiri. Itulah realisme sosial versus humanisme universal menurut orang awam seperti saya.

Persoalannya, buat Bob, terletak pada kata-kata ‘dikenal sebagai‘, bukan pada ‘seniman’. Namun pertanyaan terdini yang serta-merta mengemuka adalah, apa itu seniman?

Hegel barangkali akan berkata “Orang-orang yang Melakukan Hal-hal Kelas Kambing” – di bawah Orang-orang yang Berfilsafat dan Orang-orang yang Berkutat dengan Masalah-masalah Keagamaan – tapi definisi ini akan membawa-bawa perusahaan-perusahaan penerbangan tertentu, jadi tak bisa saya gunakan. Penyair Arthur Thomson akan berucap, “Makhluk-makhluk yang berkecenderungan untuk menaiki kapal yang sedang tenggelam”, namun pemerian ini terlalu luas – yang direngkuhnya bukan cuma seniman, tapi juga segenap warganegara Republik Indonesia. Sumber-sumber adiluhung seperti Kamus Besar memberi batasan seperti “orang yang panggilan hidup atau mata pencahariannya dalam kesenian”, tapi definisi seperti ini akan meniscayakan pencarian makna kata-kata seperti ‘panggilan hidup’ dan ‘mata pencaharian’, sebab mereka yang di sekitar Bob agak sulit menelan kata-kata bersuku lebih dari dua.

Sebenarnya definisi yang diwariskan oleh nenek saya paling afdol, tetapi luar biasa luas cakupannya hingga seplanet penuh akan termasuk seluruhnya: “Seniman adalah seseorang yang melakukan sesuatu walaupun tidak ada seorang atau sesuatu pun yang menyuruhnya melakukan sesuatu itu, yang akan tetap dilakukannya karena dia tak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya” (sekarang Anda tahu mengapa cara bicara saya seperti ini; ini perkara DNA). Dalam jabaran nenek, segala jenis orang bisa masuk, misalnya sepupu saya Dessy, yang selalu terbirit-birit ke kamar mandi ke mana pun dia pergi, tepat pada saat tiba di sana. Sangat mirip dengan anjing piaraan adik saya.

Jadi tidak ada definisi kebal-gugatan tentang apa yang menjadikan seorang seniman seorang seniman, kecuali bahwa mereka ini terus-terusan melakukan sesuatu, membuat sesuatu, merusak sesuatu, membuat sesuatu dari sesuatu yang sudah dirusak tadi, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali menurut orang-orang lain. Untuk mendapatkan definisi yang agak praktis kita terpaksa merujuk pada kegiatan-kegiatan seperti pencemaran kanvas perawan dengan cat, pemenggalan batang-batang kayu yang kemudian dijadikan sesuatu yang tak pernah diniatkan oleh Tuhan atas batang kayu, menaruh barang-barang secara tak pada tempatnya, dan sebagainya. Seniman itu seperti itu orangnya.

Toh ‘apa itu seniman’ tetap saja masuk ke gelanggang perdebatan di Planet Seni. Satu-satunya fungsi diskusi di situ, saya kira, adalah untuk membangunkan orang, supaya tidak disangka sebagai Orang-orang yang Tidak Melakukan Apa-apa. Sedangkan Tidak Melakukan Apa-apa adalah dosa sosial sekarang ini. Maka kita pun sering mendengar beberapa seniman dibantai secara verbal lantaran mereka itu formalis, lalu mereka membalas dengan penggebukan verbal atas seniman-seniman lain yang kata mereka kapitalis, sementara para seniman lain lagi gencar terlibat huru-hara verbal mengenai siapa yang berseni untuk rakyat dan siapa yang terimbas Sindrom Menara Gading. Mereka juga saling tikam secara verbal tentang perkara-perkara dasar visual, umpamanya garis dan warna dan tekstur, gaya dan tema dan guna dan harga (yang terakhir ini membangunkan lebih banyak orang yang semula ketiduran selama diskusi). Istilah-istilah yang dibongkar di pabean dari antara petikemas barang impor, kata-kata yang baru keluar dari bengkel ‘kata-kata sulit’, dan yang digubah sendiri oleh orang-orang tertentu dan karenanya kikuk dan ajaib di telinga, beterbangan ke segala penjuru selama diskusi seni berlangsung. Kata-kata dan istilah-istilah itu sendiri juga menjadi bahan perdebatan tersendiri. Dari teritis orang awam sih, tak terlihat apa pun yang baru.

Baru-baru ini saya kebetulan menguping sebuah perdebatan semacam itu, antara seorang seniman dan seorang kritikus senirupa (oh ya, saya kebetulan punya stok definisi ‘kritikus senirupa’ yang lumayan gemuknya – silakan kirim surat digital kalau berminat). Topik debat itu adalah “apakah seni yang bermanfaat itu?”

Pertanyaan yang suam-suam kuku takkan mendapat jawaban yang matang, dan pertanyaan yang keliru tidak bakal pernah memperoleh jawaban yang benar.

Apakah seni yang bermanfaat itu? Anda pasti bergurau. Iya, kan? Mengaku sajalah bahwa Anda cuma guyon. Mustahil Anda lontarkan pertanyaan semacam itu kecuali kalau cuma bercanda. ANDA TAK MUNGKIN SERIUS, KAN?

Nun jauh di masa penciptaan jagat raya, ketika belum ada korupsi alam semesta semisal limbah bahan-bahan kimia, Istana Kepresidenan, jalan tol, dan lukisan yang harganya setara dengan penghasilan nasional tiga negara digabung jadi satu, segala hal ada manfaatnya. Tak seorang pun menamai sesuatu pun ‘seni’, dan jagat jasmaniah serta kosakata yang tersedia waktu itu, yang memuat kata-kata sifat, sungguh-sungguh tenteram adanya, karena belum ada apa pun yang dikenai sebutan ‘artistik’. Mitos dan cerita rakyat. Jimat dan rajah. Lambang-lambang dan sabda para dewa. Sebut saja; segalanya punya kegunaan yang jelas, dan fungsi ini praktis semua.

Ketidakbergunaan, ketiadaan tujuan, kondisi tanpa arah, semua itu diciptakan dengan sepenuh hati dan digarap secara serius dan dikampanyekan dengan getol – jauh sesudah bumi menjadi makin panas dan sekte-sekte Hari Kiamat merajalela.

Jadi, pada mulanya dan sejatinya, tidak ada yang namanya ‘seni yang bermanfaat’. Bahkan kredo sosialis-realis yang kira-kira bunyinya “realisme itu bukan gaya, bukan musiman, melainkan adidaya seni mendasar,” tergolong igauan semata.

Sepotong kanvas yang diwarnai, umpamanya, yang digantungkan di dinding, apa sih gunanya? Apa saja. Anda bisa memelototinya berjam-jam dalam upaya yang salah kaprah untuk meneladani para bijak-bestari Zen. Anda dapat merenung-renungi warna-warnanya dan bentuk-bentuknya dan – renungan ini yang paling besar maslahatnya – harganya. Anda mungkin bersibuk diri mencari-cari tempat yang paling pas untuk memajang kanvas itu, yang cocok dengan pola dan warna tirai ruangannya. Atau Anda dapat melempar saja kanvas itu ke dalam api dan menganggapnya tak pernah ada.

Kadang, buat orang awam seperti saya, berat nian menghindarkan gangguan dari Planet Seni. Orang-orang yang Melakukan Sesuatu di sana menciptakan apa yang sekarang sudah disepakati oleh seluruh penduduk Planet Seni – ketidakbergunaan, dan sebagainya – lalu sekarang mereka saling gempur tentang itu. Benar-benar ketidakbergunaan yang luar biasa. Namun, tentu saja, keberadaan Planet Seni itu sendiri tergantung pada perdebatan-perdebatan tak berujung semacam itu. “Bila Anda tidak melukis, bikin ribut sajalah.” Hanya di Planet Seni doktrin semacam ini mendapat pengikut. Seorang tukang kayu tulen pasti menganggapnya edan dan tak praktis sama sekali.

Realisme apa, sih? Realitasnya siapa?

Orang-orang awam itu nyata, dan tanpa banyak bunyi kami ini semuanya realis. Kalau tidak, mana mungkin bertahan hidup. Itu sebabnya saya sulit menganggap realisme sosialis di senirupa sebagai sesuatu yang secara sosial mulia.

Ketika Republik ini menjadi saksi jual-beli sebuah lukisan yang terus-terang saja terlalu besar ukurannya untuk sesuatu yang warna-warnanya mengingatkan saya pada kain lap di bengkel mobil, yang menggambarkan seekor babi liar yang limbung kena tombak atau apa, yang katanya melambangkan penyakit sosiopolitis negeri kita, apa yang didapat oleh wilayah sosial dari penjualan spektakuler (angka nol-nya banyak sekali!) itu? Mengapa saya tidak mendapat apa-apa? Dari ‘realisme sosial’, saya termasuk yang ‘sosial’nya, kan? Kok cek-nya tidak terciprat ke sini?

Sejak saya menulis beberapa potong esai yang isinya dianggap melecehkan ‘seni untuk rakyat’, ada beberapa orang yang mengira saya ini pembela karya-karya seni yang laris dan promotor segala sesuatu yang ringkasnya dinamakan ‘komersialisme seni’.

Ya ampun. Coba tengok lagi riwayat seni itu.

Mula-mula, tidak ada yang namanya ‘seni’. Lalu, apa yang kita sebut ‘seni’ adalah segala sesuatu yang ada gunanya. Lantas, semua itu jadi tak ada gunanya. Kemudian, ketidakbergunaan seni entah bagaimana menghasilkan uang, dan terbentuklah segerombolan penghasil karya-karya seni sebagai suatu profesi. Sesudah itu, muncul kultus sesuatu yang namanya ‘seni’ tanpa ada hubungannya dengan perkara finansial, dan ini pun banyak pengikutnya. Sekarang golongan pembuat ketidakbergunaan yang menghasilkan uang saling kepruk dengan para penghasil ketidakbergunaan yang tak laku dijual. Terus bagaimana? Orang awam mah bilang, “emang gue pikirin!”

Tiba-tiba suatu hari si Bob mampir selepas kondangan pembukaan pameran seseorang dan berkata, “Aku ini seniman biarpun nggak melukis. Aku seniman rakyat.”

“Rakyat yang mana?” tanya saya. Soalnya waktu itu saya masih muda.

“RAKYAT,” jawab si Bob.

Dia habis melalap bacaan wajib di gerombolan pengangguran Yogya yang waktu itu dikuntitnya ke mana-mana, yang menyebut diri ‘komunitas’, dan mengaku ideologis, sedangkan Bob agak repot kalau disuruh menebak arti ‘komunitas’ dan ‘ideologi’, karenanya dia merasa mendapat kawan yang hebat-hebat. Buku yang baru dibacanya berjudul Realisme Sosialis, isinya pikiran-pikiran Georg Lukacs. Sejak itu dia baptis dirinya dengan nama ‘Sick’.

Salah satu kritik terhadap realisme sosialis, misalkan Anda pakai sudut pandang humanisme universal atau apalah namanya, adalah bahwa realisme sosialis terlampau gendut dengan muatan kekeliruan-kekeliruan yang menyeramkan, umpamanya yang melibatkan Josef Stalin. Seni di situ dianggap pendosa kelas kakap yang khas keluaran rezim sosialis, yakni tiap orang punya Mandor, tiap orang musti mengikuti aturan-aturan tertentu ketika Melakukan Sesuatu, dan diharapkan menghasilkan sesuatu yang seragam dengan yang dibuat orang-orang lain, sementara hasil ini sudah ditentukan bentuknya sejak sebelum pembuatannya dimulai. Jadi, untuk melawan semua ini, slogan perangnya adalah “Keseragaman itu Gombal!” atau “Persetan dengan Komando!” atau semacam itulah.

Bagaimana mungkin sebutir kepala yang benar-benar waras bisa antusias membebek peneriakan semboyan semacam itu? Anti-komando? Anti-seragam? Yang benar saja. Apa pun istilah yang dipakai untuk menamainya, bendanya sendiri tetap saja sama: Anda butuh persetujuan kelompok, Anda ikuti apa yang katanya ‘baik’ (‘nya’ di sini mayoritas dalam kelompok, atau lebih parah lagi otoritas dalam kelompok), baik Anda di sisi rezim yang menyeragamkan orang itu ataupun berpihak pada yang memberontak terhadapnya. Sama saja. Anda tetap ikut komando, Anda tetap berseragam.

Di tiap kelompok, sudah takdirnya ada yang mencuat seperti bangau di tengah kawanan bebek. Orang ini, apa pun yang terjadi, akan otomatis menjadi ketua kelompok, secara resmi atau tidak resmi, dan memborong semua penentuan keputusan di dalamnya. Mau realisme sosial kek, komersialisme kek, sama saja.

Di kelompok si Bob itu, umpamanya, tanpa garis komando yang jelas pun, si X menentukan buku apa yang dibaca para pembebeknya, menetapkan kegiatan apa yang akan diproposalkan dan dijajakan ke galeri-galeri komersial yang mereka benci setengah mati itu (kecuali ketika butuh sponsor), bahkan gaya rambut dan pakaian apa yang paling pantas buat seorang realis-sosialis yang mengaku bekerja di senirupa.

Jadi, siapa yang bisa mengelakkan komando? Di Planet Seni, dengan liga yang kadar keterpencarannya terbatas dan jenis spesiesnya sangat sedikit itu, di mana bertahta sosok-sosok bernama ‘kritikus seni’ dan ‘kurator seni’ yang juga berseragam dan bergerak menurut komando: dalam mimpi.

Bahkan definisi dan manifestasi ‘sakit’ pun seragam di Planet Seni Anda ini. Definisi dan manifestasi ‘gila’ juga seragam.

Manusia pada dasarnya tukang mengelompok, dan watak ini nyaris tak mungkin disingkiri, bahkan pun pada saat pengejawantahan niat untuk tampil otentik. Tak ada yang berdiri sendirian di Planet Seni. Tak ada yang berani. Atau tak ada yang bekal dari sononya memungkinkan itu.

‘Sickness’? ‘Madness’? Klaim bahwa seorang seniman sering melihat hantu, mendambakan tindik di mana-mana dan lusinan tato dan literan alkohol dan beberapa kilo pil penenang dan peristiwa-peristiwa yang mematahkan hati dan tampilan-tampilan nyentrik – itu seragam semuanya, biasa saja. Jatuh-bangun kena penyakit saraf tiap tiga bulan sekali, atau digotong ke Rumah Sakit Jiwa acapkali menjelang pameran tunggal? Seragam, biasa saja. Mabuk-mabukan dan kecemplung sumur, menabrak truk yang diparkir, digebuki aparat, dikerjai jago karate di jalanan sampai gigi rompal semua? Seragam, biasa saja. Mengaku dibimbing kekuatan supernatural? Membakar, menyobek kanvas sesudah lukisan selesai? Seragam, biasa saja. Ngotot menjual lukisan seharga 666 dolar Amerika, tak boleh kurang, tak boleh lebih, sehingga makelar lukisan jadi pusing tujuh keliling? Seragam, biasa saja.

‘Sickness’ dan ‘madness’ di Planet Seni sangat tidak kreatif. Semuanya didiktekan oleh Orang-orang ‘Sakit’ dan Orang-orang ‘Gila’ di atas planet itu. Dengan kata lain, oleh kelompok. Seragam. Komando. Ada pelukis sekitar sini yang pameran sambil peragaan melukis dengan tubuhnya sendiri, dalam posisi sanggama dengan istrinya. Ini sesuatu yang baru? Hahahaha. Seragam, biasa saja. Sudah jelas aksi semacam itu akan menimbulkan reaksi seperti apa dan anggapan macam apa. Tak ada hebatnya. Mana lukisannya jelek, pula, yang juga sudah bisa diduga karena kucing terpeleset cat di atas kanvas pun akan menghasilkan ‘lukisan’ yang persis sama dengan pelukis bersanggama itu.

Begitu rentan si Bob terhadap virus gerombolan dan begitu gampang dibuat kagum oleh hal-hal yang tak ada nilainya. Sedangkan orang awam, mereka hanya mengharap agar Orang-orang yang Melakukan Sesuatu di Planet Seni mengerjakannya sebaik mungkin. Kalau harapan sederhana ini pun tak bisa dipenuhi, sedikitnya jangan terlalu bising. Orang awam itu kerja di sela-sela jam tidur, lho.

Dan tentang apa guna seni atau bagaimana seharusnya seni – siapa sih saya, siapa Anda, kok menentukan yang begituan?

Buat orang awam, senirupa itu baik-baik saja, selama tak dilandasi pikiran-pikiran yang secara filosofis jorok – artinya, yang tak bermakna sama sekali buat siapa pun di dunia ini. Untuk orang awam, kalau Anda Melakukan Sesuatu di kesenian, Anda seniman, habis perkara. Mereka tidak berisik menyoal pekerjaan Anda; kenapa Anda harus ribut mengenainya?

Dan kalau orang awam tidak gegap-gempita menyambut karya seni Anda, jangan sewot, jangan lantas menganggap orang awam tidak paham. Sebagian besar kasus penolakan orang awam terjadi justru karena paham betul apa yang Anda sodorkan.

Lagipula ‘memahami’ tidak pernah sinonim dengan ‘menerima’, lebih-lebih dengan ‘menyukai’, bukan?

2. Bersabung Asap: Bob, Nara, Nietzsche, Basquiat, Bob

Bob bukan makhluk yang tanpa kedip memandang ke dalam, seperti Ugo Untoro. Dia juga bukan orang yang tanpa akhir melihat ke luar, seperti S. Teddy D. Jadinya dia tak tahu dirinya itu apa. “Aku nggak tahu aku ini apa,” katanya.

Saya beritahu, deh, Bob itu apa. Bob itu Melakukan Sesuatu.

Bob itu melukis, menggambar, menulis, menjerit, meludah, memuakkan (yang terakhir itu prerogatif saya).

Bob Melakukan Sesuatu di luar kehendaknya sendiri.

Ada istilah yang paling pas untuk membaptis fenomena semacam ini, celakanya cuma ada di bahasa Jepang. Ini dia:

'manga'


‘Manga’. Tak peduli seberapa mirip dengan tuturan Klingon di telinga Anda, kata ini sudah lama menjadi bagian dari kosakata global sedikit-dikitnya sejak 1990. Artinya ‘buku komik’ (klik di sini untuk sejarah komik dan animasi Jepang sejak tahun 600 sampai jam tujuh pagi tadi). Tapi bukan itu yang saya ingin beberkan. Bukan ‘manga’ itu. Melainkan apa yang menjadikan ‘manga’ manga, alias esensinya dalam riwayatnya.

‘Man’ artinya ‘di luar kehendak sendiri’.

‘Ga’ artinya ‘gambar’.

Makna istilah hibrida ‘manga’ ini adalah ‘gambar-gambar yang dibuat orang di luar kehendaknya sendiri’, tanpa melibatkan hal-hal seperti kesurupan dan sebagainya. Mau atau tidak mau, mangaka tetap membuat manga. Jadi, ‘manga’ adalah apa yang dibuat Bob tiap kali dia Melakukan Sesuatu.

Sebab, kalau sedang musimnya, Bob tidak bisa berhenti menggambar. Bahkan pun kala kondisi tubuhnya hanya sedikit lebih baik ketimbang kaleng biskuit dilindas kereta api Jakarta-Malang. Dia terus menggambar manakala terkungkung di ranjang rumah sakit, ketika segenap aparat jasmaniahnya remuk-redam.

Modus operandi yang seperti itu seirama dengan yang dilakoni banyak seniman Jepang, seperti Yoshitomo Nara. Pameran-pameran Nara tak pernah sok nyeni. Sudah terkenal sampai ke pelosok-pelosok planet ini (dan dia tetap saja terkenal sampai ke pelosok-pelosok planet ini sekalipun Anda mungkin belum pernah mendengar namanya sama sekali), Nara tetap sama saja. “Aku tahu ini cuma coret-moret,” tulisnya, “tapi aku menyukainya!”

Jauh sebelum teoretisi mengais reruntuhan modernisme dan posmo dan memaksakan istilah ‘seni kontemporer’, di 1980-an Nara sudah menghalalkan segala cara – menabungi boneka-boneka buatannya sendiri yang bagus-bagus (Ugo Untoro juga pamer boneka di 2000-an), membuat keramiknya sendiri yang halus-halus (saking halusnya sampai selicin benda-benda serat kaca Bunga Jeruk di 2000-an), menulis slogan-slogan konyol yang besar tapi tidak norak-norak (Bunga Jeruk, S. Teddy D., Ugo Untoro, semua pernah melakukan ini sejak akhir 1990-an), memasang sobekan-sobekan buku tulis dan kartupos dan berbagai macam sampah kertas yang digambarinya di galeri-galeri, yang semuanya bersih-bersih (Eddie HaRa juga melakukan ini di awal 1990-an). Ini malah lebih halal ketimbang umumnya, karena, sejauh yang teramati, Yoshitomo Nara bukan sekadar ingin tampil beda. Dia ingin main-main, kadang-kadang, tapi mainnya serius karena permainannya – senirupa -- juga serius. Dia juga tak bisa berhenti menggambar kalau sedang musimnya.

Dan gambar-gambar Nara amat-sangat khas, sehingga dengan mudah bisa menjadi ikon populer sama seperti bikinan sejawatnya yang sewaktu, Takashi Murakami. Hanya Murakami banyak mencomot yang sudah ada dalam khasanah budaya hibrida Jepang-Cina, sementara Nara bikin sendiri citra-citra yang kemudian identik dengan tandatangannya, terutama sosok gadis balita yang agak jahat, domba kecil yang secara umum malang dan anjing kecil yang biasanya agak sinis.

 

Meja kerja & boneka-boneka buatan Yoshitomo Nara

Yoshitomo Nara menjelang pameran

Studio Yoshitomo Nara

Yoshitomo Nara kala melukis

 

Berkat pameran di Galeri Semarang pada tahun 2004, judul pamerannya No Name, Anda bisa melihat sosok-sosok dan situasi-situasi kanvasiah khas Yoshitomo Nara secara 'langsung', melalui lukisan-lukisan alumnus Fakultas Seni Rupa ITB, Tennessee Caroline. Persis seperti itulah ‘merk dagang’ Yoshitomo Nara yang orang sejagat sudah hapal – kecuali Bob dan, mungkin, kurator pameran di Galeri Semarang itu, karena tak ada disebut-sebut Yoshitomo Nara sama sekali di sana, padahal gambar khas Nara, lewat lukisan nona Caroline, dipajang tepat di sampul depan katalog pameran itu.

Pameran tunggal Bob yang kesekian, di Lembaga Indonesia-Prancis (dikuratorinya sendiri) dan di Studio Tanah Liat (kuratornya Ugo Untoro), Yogyakarta, keduanya hampir-hampir merupakan fotokopi pameran Nara yang kesekian juga, yang judulnya I Don’t Mind, If You Forget Me (2001). Tapi yang di’pinjam’nya dari Yoshitomo Nara bukan bentuk, watak, warna, dan sikap seperti yang dilakukan Tennessee Caroline, melainkan gagasan untuk pameran itu sendiri. Judul pameran Nara yang cara pikirnya dipinjam ini tepat sekali. Bob juga tak ambil pusing kalau dilupakan, meski cuma untuk sebelas menit. Bahwa tak ada yang melupakan pameran Nara itu sementara tak ada yang ingat pameran Bob, itu tak lain dan tak bukan Nasib namanya.

Seolah sebagai pengimbang, Bob sendiri tak pernah bisa mengingat kata-kata ‘Yoshitomo Nara’ biarpun itu hanya nama yang pendek. Dia tetap tak bisa ingat nama itu meski gagasan pamerannya dari sana (“Saya mendapat ide untuk memasang gambar-gambar ini dari....eh....siapa namanya itu....orang Jepang. Tokyo atau apa,” ujarnya dalam pidato pembukaan pameran). Sampai sekarang dia tetap tak ingat.

“X bilang aku ini bego banget,” kata Bob, “soalnya aku nggak ngerti siapa sih seniman-seniman Amerika yang mereka diskusikan. Kata X, kalo’ nggak punya acuan, aku bakalan jadi seniman kelas kambing.”

Saya kenal si X ini. Dia sendiri tidak bakal bisa membedakan antara George W. Bush dengan kambing. Itu menunjukkan cangkok apa yang dia butuhkan, meskipun perbedaan antara dua hal yang saya contohkan di atas memang tidak ada.

Terus-terang saja, kapasitas intelektual Bob juga tak pernah membalap kemampuan si X. Tapi dia masih muda.

Saya kira saya mengerti mengapa orang bilang anak muda itu sungguh malang nasibnya dalam hal ketiadaan panutan yang layak.

Kata kuncinya 'layak’.

Anda harus punya tokoh panutan yang layak, sebab bila tidak maka orang bilang Anda ini sungguh malang tak ketulungan dan akan terjerembab ke kelas kambing seperti Bob.

Ini situasi yang agak mengerikan, dan Anda musti paham bahwa orang-orang yang lebih tua memang sengaja menjebloskan Anda ke keadaan yang demikian karena mereka sendiri terperangkap di dalamnya. Malah lebih menyedihkan lagi, sebab mereka sudah telanjur muak dengan segala-galanya untuk bisa mengangkat siapa pun juga sebagai panutan, sementara mereka juga susah untuk hidup tanpa panutan sama sekali.

Saya akan percaya saja seandainya Anda bilang tak punya tokoh panutan. Banyak orang bisa bertahan hidup tanpa otak, karena itu tanpa panutan pun pasti bisa. Sebagian orang yang tergolong ekstremis juga hidup tanpa panutan. Soalnya mereka sendiri begitu digdaya sehingga selalu terancam untuk dijadikan panutan orang lain.

Dan saya memakai kata yang diskriminatif, ‘mereka’. Entitas seperti itu bukan ‘kita’.

Masalah yang dihadapi orang awam seperti saya dan mungkin tetangga Anda adalah, kami diharapkan punya tokoh panutan yang layak. Sudah terhampar sumber data nan luas di luar sana, dan yang harus Anda lakukan (umpama Anda jadi orang awam seperti saya) adalah mencomot salah satu nama dari sana, maka semua orang lain akan berhenti merongrong Anda karena sejak saat itu rongrongan seperti yang dihadapi Bob akan menjadi terlalu mesum untuk dilakukan.

Bilang saja Einstein, misalnya. Einstein ini pilihan yang brilian. Tentu saja tak seorang pun mengerti apa sih yang dikerjakan Einstein untuk umat manusia, tapi tak akan ada yang merongrong Anda mengenai itu, karena ketidakmengertian tentang dayaguna Einstein adalah keteledoran tak terampunkan, maka Anda akan mendapat imunisasi mental sekaligus sosok panutan yang meyakinkan.

Bahkan orang seperti Immanuel Kant pun masih merupakan pilihan yang jitu. Tidak semua orang kenal namanya, tapi ada beberapa yang tahu, dan Anda selalu bisa mencerahkan kegelapan cakrawala orang-orang yang tak tahu itu dengan membocorkan sekelumit pengetahuan mengenai siapa Immanuel Kant (“Masyaallah.” + tatapan penuh belas kasihan langsung ke mata orang yang bertanya itu). Itu sudah bisa membungkam para calon interogator, yang akan merasa geblek sekali karena telanjur bertanya.

Biasanya ABG-lah yang paling gencar dirongrong lantaran mereka ini cenderung menandatangani hidup dalam segala cara dan tak satu pun di antaranya yang adem-ayem. Anak belasan tahun selalu merupakan kandidat pengadopsi modus operandi yang paling geblek dalam hidup ini. Dan biasanya nama-nama orang yang mereka puja tak bertahan lebih dari semalam di puncak tangga lagu-lagu Billboard. Sebetulnya bahkan lebih parah lagi. Nama apa pun yang mereka sebut, orang tua-tua otomatis menganggapnya nama artis atau makhluk jejadian yang oleh televisi Indonesia dinamakan ‘selebriti’. Jadi tak ada yang serius menanggapi lontaran-lontaran ABG ini.

Intinya, tua atau muda, semua orang sesungguhnya punya masalah tentang tokoh panutan. Bukan hanya si Bob.

Tentu saja ada aturan-aturan tertentu dalam menentukan tokoh panutan.

Sebagaimana Anda mungkin sudah menyana, peraturan diciptakan dengan satu tujuan mulia, yakni untuk menambah ruwet hidup Anda yang sudah dari sononya centang-perenang ini.

Tokoh panutan Anda harus dikenal namanya sedikitnya oleh sekelompok manusia melek huruf, dan dikenal karya atau pekerjaannya oleh sebagian orang yang sudah ‘mapan’. Contoh-contohnya sudah saya berikan di muka. Tapi ada pilihan lain: Anda bisa menyebut nama seseorang yang rute peredarannya hanya sebatas lingkup keluarga Anda sendiri saja. Pasti orang-orang lain bakal berkerut-kening; tapi mustahil ada yang mempersoalkan tokoh pilihan Anda itu, sebab menyoal yang beginian sangatlah barbar.

Tokoh panutan Anda akan lebih baik jika termasuk ‘benar secara politis’; yaitu, dia sama ras dan kebangsaannya dengan Anda sendiri, sehingga dengan begitu Anda adalah bagian dari ke’kita’an ketimbang menjadi anggota ‘mereka’.

Tokoh itu juga akan lebih afdol bila berkecimpung di bidang yang Anda sendiri tekuni. Orang akan skeptis bila Anda seorang insinyur nuklir sementara panutan Anda Anton Chekhov, atau Anda seorang pelukis tetapi panutan Anda Red Hot Chilli Peppers. Itu tidak akan mendiskon gengsi tokoh yang anda panuti, tapi mengisyaratkan seolah-olah Anda tidak benar-benar memahami pekerjaan Anda sendiri.

Namun bila kita bicara tentang panutan yang umum saja, kegemaran Anda di waktu senggang adalah lahan panen panutan yang bisa diterima oleh semua orang. Pemain sepakbola, petenis dari segala kelas di atas RT, penyanyi yang muncul di televisi sedikitnya tiap Lebaran, sudah oke. Hanya saja, hati-hatilah meniti perbedaan antara panutan dengan kesayangan. Seorang panutan musti menyeluruh, kecuali bila Anda mau bersusah-payah membuat daftar apanya yang Anda panuti dari dia.

Pilihan lain adalah, Anda bisa mengambil panutan yang benar-benar ‘membumi’, yang akan mengangkat derajat Anda ke tingkat empu, karena, sesuai dengan kadar kemunafikan sosial yang menjala masyarakat intelektual di Indonesia ini, makin rendah pangkat sosial-ekonomi-politik orang yang kata Anda merupakan sosok yang Anda teladani itu, kian menjulang sakti citra Anda di mata mereka. “Panutan saya adalah Pak Wongso, pensiunan tukang pijit di kampung,” adalah proklamasi yang benar-benar sakti untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi seandainya Anda diwawancarai koran Minggu. Mempertanyakan kesahihan panutan yang semacam ini akan merupakan tindakan tak berkemanusiaan dan pretensius dan sebagainya.

Untuk pilihan ini sebenarnya Bob punya kandidat di Yogya. Tukang sampah yang datang untuk menguras bak di depan rumah neneknya tiap Minggu pada jam-jam yang mustahil (enam tiga puluh). Itu, atau ibu tua penjual buah-buahan di Beringharjo, yang pernah menyebut Bob ‘tampan’, yang mana merupakan isyarat bahwa dia butuh dokter mata.

Semua itu ampuh untuk konteks gerombolan ‘RAKYAT’-nya Bob.

Di atas segalanya, kala menentukan tokoh panutan, Anda harus melalaikan segenap naluri asli Anda.

Tokoh-tokoh panutan tidak harus Anda sukai, tidak musti selaras dengan selera Anda, dan tidak selalu merupakan manusia-manusia yang akan menyenangkan Anda untuk dijadikan teman. Yang harus mereka penuhi adalah syarat ini: mereka musti disukai atau disetujui oleh Semua Orang Selain Anda.

Kredibilitas Anda sepenuhnya tergantung kepada pendapat mereka tentang tokoh panutan Anda.

Jadi, bila Anda berkutat di senirupa, Anda bisa menyebut Frieda Kahlo atau orang yang rambutnya awut-awutan itu, siapa namanya, Basquiat. Mereka ini dijamin melumasi citra Anda, memberi paspor ke jagat keterhormatan. Malah mungkin juga menghasilkan tepuk-tangan.

Basquiat sudah jelas laku dijajakan di dunia ini pada saat Bob berada di titik ini, ketika dia masih muda. Basquiat adalah produk yang siap-saji, sudah dikemas baik-baik, dijuduli, dan segalanya telah dikunyah lebih dulu di pabriknya, Anda tinggal telan saja. Kahlo yang selalu murung dan tampangnya menakut-nakuti keponakan saya itu adalah pilihan yang baik juga; di gudang persediaan tokoh-tokoh yang sakit luar-dalam, dia akan nampak mentereng bertengger di biografi Anda dalam katalog pameran.

Untuk itu, pura-puralah tak tahu atau tak peduli bahwa semua seniman lain di kota ini, bahkan mungkin di negeri ini, juga menyebut tokoh-tokoh panutan yang sama, terutama dalam jajaran ‘konsep artistik’ (entah apa ini, tentu saja saya tak tahu; nanti saya tanyakan dulu pada Yang Berwenang). Pura-puralah belum pernah mendengar bahwa ada seniman-seniman yang bahkan sebegitu jauh melangkah sampai-sampai menuliskan ‘Frieda’ dan/atau (‘dan’ lebih parah ketimbang ‘atau’) ‘Basquiat’ di atas kanvas mereka yang tadinya begitu indah halus-mulus tak kurang suatu apa.

Basquiat Anda bukan Basquiat mereka.

Kalau dipikir-pikir, Basquiat Anda maupun Basquiat mereka juga bukan Basquiat. Basquiat-nya Basquiat sendiri pun bukan Basquiat.

Sekali Anda comot sesuatu dan menjadikannya milik Anda, ia milik Anda. Jangan sampai ada yang mempersoalkannya. Jangan biarkan siapa pun menuduh Anda salah memahami, keliru mengartikan, atau menyalahgunakan entah Basquiat entah Kahlo entah tukang sampah dari Jalan Kaliurang tadi.

Apa sih yang mereka ketahui tentang Basquiat Anda, misalnya? Mereka kan punya Basquiat-Basquiat sendiri.

Di titik ini, dalam karier Bob yang sampai saat itu nir-panutan, Ugo Untoro sudah menyajikan lukisan-lukisan ekspresionis-liris yang musti dirasa-rasakan, sebab mustahil digagas-gagas.

Sedangkan S. Teddy D. telah meluncurkan komposisi-komposisi piktorial yang sarat dengan berbagai macam hal, terutama keresahan-keresahan kiamatologis yang begitu digilai oleh orang-orang di zaman ini.

Bob? Bob hanya memunculkan gambar-gambar.

Ugo Untoro dan S. Teddy D. sama-sama punya daftar yang tegas untuk menjawab pertanyaan seperti “Apa/siapa sih yang mempengaruhi penciptaan karya ini?”.

Bob? Bob cuma geleng kepala kalau ditanyai.

So what?

Ada seniman yang mendapat ilham dari kuda, ada yang terinspirasi oleh Marcel Duchamp, ada yang tergerak untuk mencipta gara-gara wayang, ada yang dimotori puisi.

Ada pula yang sekadar menjadi pencipta sesuatu tanpa sumber dan akar yang pasti.

Ada juga yang mencipta diri mereka sendiri dan kemudian menyembah para penciptanya itu.

Tapi coba dengar. Adalah sepenuhnya waras untuk menjawab pertanyaan “Siapa tokoh panutanmu?” dengan “Aku”.

Kenapa tidak? Jujur sajalah. Bila Anda benar-benar yakin memang begitu soalnya, buat apa buang napas dengan membantahnya demi kesopanan dan kerendahan hati.

3. Berdiang di Abu Dingin: Bob, Kurator, Aparat, Galeri

“Pemilik galeri itu bilang aku nggak bisa pameran di sana,” kata Bob, “soalnya lukisanku nggak laku, dan itu karena kata Dr. XYZ lukisanku jelek. Dan lagi, kata Dr. XYZ, aku nggak produktif. Maksudnya, nggak produktif bikin lukisan yang bener, yang di atas kanvas.”

Dr. XYZ adalah seorang kurator senirupa. Beliau juga seorang penjaja obat penambah gairah seksual dari rumah ke rumah. Dan dari jam lima sampai tujuh malam beliau beralih menjadi agen kredit sepeda motor (bisa lewat SMS). Di hari Minggu, beliau (masih beliau yang sama) kembali menjalani proses transformasi yang berujung pada eksistensi warung tenda dengan menu bubur ayam. Hari Senin, beliau menunggang mobil butut ke kampus untuk mengajar mahasiswa semester lima. (Berat nian hidup di Indonesia Raya ini kalau hanya mengandalkan satu macam jabatan.)

Lantaran ketidakterspesialisasikannya Dr. XYZ, Bob tidak pernah benar-benar menghargai apa vonis beliau, kecuali tentang jamu-jamuan pemacu gairah seksual. Sialnya, pemilik galeri yang ditemuinya melekatkan nilai mutlak pada sabda sang Dr. (selain juga memborong jamu penambah gairah seks itu). Ini melukai Bob. Dia mencanangkan gerakan tertentu yang bukan tak mirip dengan kucing bersin, lalu menyetel televisi.

Waktu itu sedang diputar sebuah film kuno di mana seorang ‘ahli fisika nuklir’ (ini diucapkan dengan gentar sepanjang film) sedang diburu oleh sejumlah besar tenagakerja yang tergabung dalam Yang Berwenang (juga diucapkan dengan genting setiap kali).

Orang malang yang ahli fisika nuklir itu, yang bakat aktingnya sedikit lebih baik ketimbang semua pelakon lainnya kecuali anjing milik rekan sejawatnya dalam film ini, memilih untuk bermain petak-umpet melawan Yang Berwenang karena dia menolak meneruskan penelitian ilmiah yang bakal berakhir dengan penemuan sesuatu bahan menyeramkan bernama ‘fusi hitam’ (apa pun maksudnya itu). Bahan ini bila jatuh ke tangan Yang Berwenang akan memberi daya luarbiasa kepada Amerika Serikat untuk menguasai seluruh sistem tatasurya (mengapa pula, bahkan Amerika pun, sampai punya gagasan untuk menguasai sesuatu yang seperti itu, tak ada dalam skenario).

Di suatu saat sepanjang film ini, seorang Inspektur polisi yang diharapkan berakting meyakinkan sebagai Orang Awam Yang Tak Tahu Apa-apa bertanya pada para agen Badan Intelijen Amerika yang seram-seram itu: “Kenapa sih orang itu musti dikejar-kejar hanya karena nggak mau riset lagi? Kalau sudah tertangkap pun, dia tetap nggak mau riset lagi, toh?”

Seorang agen yang pirang sekali dan kelihatan cukup kejam menjawab, “Bisakah kamu bayangkan Einstein mendadak mengunci laboratoriumnya, lalu berkata ‘Udah ah, aku nggak mau nerusin ini, biar orang lain aja yang menemukan teori relativitas’? Apa kamu pikir kita akan membiarkan saja dia melakukan sesuatu yang tak bertanggung jawab seperti itu?”

Inspektur, yang masih diharuskan untuk menunjukkan kelakuan Orang Awam Yang Tak Tahu Apa-apa, bergumam sendiri, “Memangnya siapa sih yang butuh relativitas atau ‘fusi hitam’ atau apalah namanya itu?”

Sang agen yang sangat pirang melangkah mendekatinya dengan gaya mengancam, dan berkata, “Dasar udik.”

Itu katanya.

Saya sependapat dengan Inspektur, biarpun masuk ke kategori Orang Awam Yang Tak Tahu Apa-apa bukanlah sesuatu yang sangat menggiurkan.

Kenapa? Sebab saya juga orang udik. Ke mana pun saya pergi, keudikan ini saya bawa, dan saya pikir semua orang begitu juga, sebab tak peduli seberapa luas cakrawala seseorang, tetap saja bagi yang bercakrawala lain (tak perlu lebih luas, hanya ‘lain’ saja cukup) dia itu udik.

Anda dapat mengajukan argumen bahwa, umpamanya, apel-apel Newton mau tak mau akan tetap mengilhami seseorang untuk menemukan sesuatu ‘demi kemaslahatan umat manusia’. Saya percaya bahwa si agen yang sangat pirang dalam film tadi pasti akan berupaya mencegah Newton bila dia ingin ke luar kota, malah mungkin akan menjatuhi status tahanan rumah pada Newton sampai ‘tugas’ menemukan konsep abstrak yang ‘demi kemaslahatan umat manusia’ itu rampung. Mereka sudah pernah melakukan yang semacam itu, terhadap para pengungsi Ibrani berbahasa Jerman yang akhirnya memproduksi bom atom di awal 1940-an.

Mereka, alias Yang Berwenang, hanya mampu mengenali dua hal sebagai tugas mereka terhadap umat manusia: entah melarang orang menemukan sesuatu, atau menjadikan penemuan sesuatu itu kewajiban seseorang. Dan dua-duanya dikatakan sebagai ‘demi kemaslahatan umat manusia’.

Inilah riwayat spesies kita.

Yang menjambak kesadaran saya saat ini adalah kecenderungan yang kedua.

Kalau saya mah, biar saja Einstein, Newton, Paijo, Bu Atmo, semuanya pergi piknik ke Kaliurang. Kalau memang mereka maunya begitu, kenapa tidak? Jika Shakespeare dan Picasso ingin menghabiskan umur mereka mengejar-ngejar kupu-kupu, mengapa kita harus sewot? Bermanfaat atau merugikan umat manusia dua-duanya konsep ciptaan manusia. ‘Umat manusia’ itu sendiri cuma konsep, dan, sejauh yang saya tahu, konsep yang ini bahkan belum ditemukan. Kalau sudah, tentunya tak bakalan ada orang yang saling bunuh berdasarkan agama atau suku atau ras atau yang sejenisnya.

‘Yang Berwenang’ itu ada di mana-mana.

Mereka membuat Anda jadi merasa bersalah bila berhenti melukis dan hanya keluyuran saja.

Mereka menjadikan seniman merasa berdosa bila tidak artistik dan membuat penulis jadi apologetik kalau sedang kehabisan kata.

Mereka ini biang impotensi.

Saya percaya, mereka tak punya hak untuk melakukan itu atas nama ‘kemaslahatan umat manusia’ pun. Lebih baik rehat bila sedang tak ingin mengerjakan apa pun, ketimbang terus saja menggarapnya sepanjang proses yang tak nyaman dilakoni dengan hasil yang tak memuaskan diri sendiri.

Planet Seni ini entah sadar atau tidak sebenarnya memakai seluruh isi kamus istilah industri tahun 1920-an. Yang tak ‘produktif’ tak masuk hitungan.

Itu jelas keliru, dan tak menyenangkan.

Bahkan batang sungai pun kering saat bukan musim penghujan, dan Alkitab bilang Tuhan pun pakai jeda saat merilis dunia.

Bahkan badut pun kadang mengeluarkan airmata.

4. Air Titik ke Batu: Bob, Tato, Hitler, Van Gogh

Bob mencat rumah orang.

Adolf Hitler juga.

“Ibuku bilang dia senang akhirnya aku melakukan sesuatu yang berguna,” kata Bob.

Senang juga ibunya Hitler dulu.

Lebih dari 200 puisi karangan Bob, dalam bahasa Indonesia dan Inggris, sudah diterbitkan di internet sejak 1999 (sebagian di’kurator’i pemusik Italia Marco Ambrosini), ketika nyaris tak satu pun seniman Indonesia, kritikus seni, kurator senirupa, kolektor, pemilik galeri, makelar, dan sebagainya, pernah dengar kata ‘internet’. Dari kehadirannya di internet selama enam tahun ini, dia panen fans dari mana-mana, termasuk dua atau tiga calon mantan pacar (itu tadi bukan salah ketik).

Adolf Hitler juga menulis beberapa kilo puisi, meskipun situsnya diblokir secara permanen pada tahun 1999, para fans-nya dilarang menyentuh komputer sama sekali, dan dia tak pernah dapat pacar dari sana.

Tapi, menurut orang-orang, Bob seharusnya menjadi pelukis, bukan tukang cat, dan bukan pelukis yang menyair (penyair itu pelit-pelit; mana mau mengakui orang semacam Bob sebagai kaumnya). Para mahasiswa yang ingin menjadi pelukis mengolok-oloknya lantaran semua itu.

Saya pernah ketemu anjing bego, kucing bego, situs bego, fakultas bego, kurator bego, bahkan piranti elektronik dan jam weker bego. Tapi kandidat nomor satu untuk meraih gelar paling bego se-Bimasakti adalah mahasiswa bego yang ingin jadi pelukis.

Penyair bego mana pun masih lebih baik, seandainya Anda berdua saja yang selamat saat kapal karam di Pasifik. Tapi bila orang lain yang selamat itu mahasiswa bego yang ingin jadi pelukis, pasti terjadi pembunuhan di pulau terpencil ke mana Anda berdua berenang dari kepingan kapal karam itu. Hal pertama yang Anda ingin lakukan sesudah menyelamatkan diri adalah mencekiknya.

Beberapa tahun belakangan ini, di sela-sela migren dan cucian, saya kebetulan kenal satu atau dua lusin mahasiswa yang ingin jadi pelukis; setidaknya kenal nama dan wajah mereka.

Saat saya katakan ‘wajah’, ini berarti dua mata, satu hidung, satu mulut.

Yang merisaukan saya adalah mulut itu.

Karena dari situlah kata-kata berluncuran, dan kata-kata, sampai derajat tertentu, termasuk daerah yurisdiksi saya, kalaupun gambar-gambar sama sekali bukan.

Orang-orang yang malang ini tahu segalanya tentang harga cat minyak dan siapa yang menjual kanvas serta pigura termurah di dunia. Mereka juga tahu apa yang paling modis dari saat ke saat – musim kemarau ini, mereka semua cukur gundul dan membolongi tubuh di segala tempat dan menguping sejenis bunyi-bunyian yang mengganggu telinga, yang mereka namakan ‘musik alternatif’, yang, dari sudut pandang saya (orang yang salah-asuhannya berlangsung pada waktu Warkop sedang ngetop dan semua orang tergila-gila Betharia Sonata) merupakan alternatif dari musik.

Musim lalu, urusannya gaya rambut Rasta warna-warni yang panjang berjumbai-jumbai atau dreadlocked, serta reggae dan grunge. Sebelum itu, musimnya musim Suku-suku Asli Amerika dan thrash metal ditimpali aksesori S&M (kalau lihat dua huruf dengan ‘&’ ini di internet, jangan di-klik, kecuali bila Anda memang sedang kebelet sadomasokisme) yang bergelantungan di segala penjuru pakaian.

Unsur-unsur – bukan, emblem-emblem – yang tetap galak sepanjang masa adalah tato, berbagai jenis cairan memabukkan seperti vodka atau setidak-tidaknya bahan mudah terbakar yang rasanya seperti bekas air pencuci motor, alkohol rumahan buatan Bekonang itu; serta pil-pil beraneka-warna. Dan ribut-ribut yang melibatkan pisau komando atau sejenisnya. Dan juga senantiasa modis, motor besar (yang paling ditaksir adalah Harley Davidson, tapi bila mereka tak mendapat pinjaman motor yang itu, apa pun boleh asalkan besar dan STNK-nya atas nama orang lain). Motor ini gunanya untuk dicongklang kencang-kencang di jalan raya, lalu ditabrakkan ke truk, bus, atau pohon; ada kalanya kios rokok dan pejalan kaki yang tak pernah mimpi bakal ketabrak sama sekali karena mereka parkir sangat jauh dari jalanan.

Itulah tanda-tanda yang digunakan oleh masyarakat Anda ini sedikitnya sejak 1970 untuk membedakan orang-orang usia duapuluhan yang sedang belajar pengelolaan perusahaan dengan orang-orang seumur mereka yang tengah belajar senirupa, dan bukannya pembedaan berdasar keahlian – yakni bahwa mahasiswa senirupa bisa membuat karya seni dan yang lainnya tidak bisa. Masyarakat punya akal sehat, jadi saya kira masyarakat melihat bahwa cara pemilahan berdasarkan keahlian tak bisa diterapkan lantaran keahliannya ternyata tak mesti ada.

Dan Bob? Dia kuliah seni lukis, meskipun bagi dia sendiri tak begitu jelas kenapa. Dia juga mahasiswa yang ingin jadi pelukis. Jadi dia ada di antara para mahasiswa yang ingin jadi pelukis itu sampai jauh sesudah berhenti bayar SPP. Dan para mahasiswa ini bukan main kalau bersaing satu sama lain. Semangat kompetisi mereka begitu tingginya hingga setiap minggu pasti ada yang diangkut ke rumah sakit lantaran overdosis.

Sebuah lukisan adalah sesuatu yang amat-sangat sial, karena dia itu kelihatan. Tidak ada yang namanya lukisan yang ‘diam-diam’. Persaingan antar-pelukis juga ke arah yang sama.

Ketika adik saya masih dalam rangka melukis dalam damai (artinya, belum ada kolektor di ufuknya), dia cuma sekadar jadi sasaran belas kasihan. Tak seorang pun menilainya bakal jadi pelukis, dan kalau ada yang tahu dia ingin jadi pelukis seumur hidupnya, pasti hingar-bingar jadinya. Waktu itu dia bukan saingan siapa pun. Dia juga bukan rival para ‘seniman intelek’ yang berkeliaran di kotanya, karena tak betah membaca dan tak suka diskusi model apa pun, yang dianggapnya buang waktu dan membosankan. Dia cuma mahasiswi biasa yang ingin melukis dan mendapat nilai ‘A’ sebanyak yang dapat dilepas oleh para dosennya.

Syahdan, suatu hari lukisannya laku, dan ini kejadian yang kelihatan pula, karena tetangga bisa menyaksikan alat-alat elektronik mengkilap dan mobil yang bercokol di depan rumahnya. Anda bisa bayangkan betapa menyebalkan ketika orang-orang merubung saya dan menginterogasi berapa harga lukisannya. Kalau saya bilang tidak tahu (memang tidak pernah tahu, kok!), mereka masih ngotot memaksa saya memberi ancer-ancer. Buat apa? Untuk bahan kasak-kusuk saja.

Itu masih mendingan dibanding pelukis perempuan lain, yang kala itu konon harga karyanya benar-benar mencapai nirwana, dan secara umum menjadi objek kejengkelan dan kesirikan sejawatnya, Erica Hestu Wahyuni. Erica waktu itu sedang kolosal sinarnya, bahkan media massa Indonesia mengenalnya hanya lewat satu kata saja (contoh yang senada: ‘Madonna’), dan mustahil sampai ada yang bertanya “Erica siapa?”

Kebetulan saya dulu sempat menyukai lukisan-lukisan Erica ketika dia baru saja terpelanting ke status ‘selebriti’ senirupa. Jadi, kabar angin bahwa harga lukisannya selangit merupakan kabar baik buat saya.

Lantaran ada Erica, adik saya belum lagi menjadi papan tembak bagi para mahasiswa yang ingin jadi pelukis pada masa itu. Tapi entah sampai kapan konsep ‘hidup berdampingan secara damai’ ini bakal berjalan, soalnya suatu hari adik saya juga sudah menuai badai, katakanlah, karena dianggap ‘pelukis kaya’ – yang menyebabkan arus peminta-minta sumbangan buat pementasan berbagai macam jenis teater yang tak ada penontonnya sampai sekarang.

Di Planet Seni Indonesia, pelukis selalu dianggap makmur. Mungkin memang makmur, dibanding penyair, penulis cerpen, novelis, teaterwan, dan sebagainya. Yang lain-lain ini cepat sekali menyimpulkan seorang pelukis ‘kaya’, dan secepat Nasirun atau Nyoman Masriadi atau Agus Suwage mencetak skor finansial dalam suatu pameran, secepat itu pula proposal tujuhbelasan dan sebagainya melayang ke rumah-rumah mereka. Dan selalu ada orang-orang yang, sembari minta sumbangan, mengatai mereka macam-macam karena ‘kaya’.

Seorang pelukis tak boleh hidup berkat pekerjaannya? Mereka atau saya yang gila? Ini tidak masuk akal saya, meski menurut para mahasiswa yang ingin jadi pelukis sangat logis – karena mereka belum jadi pelukis.

Salah satu penyebab lain kericuhan di antara para mahasiswa yang ingin jadi pelukis adalah perkara penjiplakan.

Jiplak-menjiplak itu lumrah di Planet Seni, tapi para mahasiswa ini (mahasiswinya hanya lima di antara seratus, jadi tak perlu saya rujuk tersendiri) sungguh khawatir kalau-kalau ada rekannya yang ‘mencuri start’. Seorang di antara mereka, yang menyebut pangkatnya sebagai ‘instalator’, pernah mengomel berjam-jam di teras rumah saya mengenai kasus semacam itu yang katanya menyebabkan dia harus mabuk berminggu-minggu untuk melupakannya (meski dia juga mabuk berminggu-minggu tanpa ada kasus apa pun).

Tentu saja dalam sejarah dunia sudah biasa kalau ada dua penemu atau pemikir yang memunculkan sesuatu yang sama meski kenal pun tidak, dan jarak geografis antara mereka ribuan mil. Sama seperti Scott dan Amundsen yang mencari malapetaka ke Kutub secara kebetulan pada saat yang sama.

Saya sendiri sering melihat yang semacam itu. Orang-orangan buntung model kokeshi Jepang dari anyaman rotan atau bambu yang dibuat Samuel Indratma pada akhir abad lalu, misalnya, nyaris persis bikinan S. Teddy D pada tahun 1995. Lukisan kepala gundul dari samping, yang ditaruh di atas perahu (kadang perahunya beroda), yang khas S. Teddy D. sejak 1996, juga saya lihat di kanvas bertandatangan Syah Fadil sesudah tahun 2000. Lainnya lagi buatan Jumaldy Alfi. Rumah-rumah kukuh yang hanya terdiri dari satu blok warna, di tengah-tengah ketiadaan yang diwarnai, yang dibuat Teddy sejak 1997, bisa dilihat juga di lukisan-lukisan Rudy Mantovani sesudah 2001. Tentu saja saya melihat pencitraan semacam itu pertama kali buatan Teddy, dan yang lainnya baru tampil di tempat-tempat seperti katalog Philip Morris Art Awards tiga sampai lima tahun sesudahnya, tapi saya tidak serta-merta mengatai mereka menjiplak, kan?

Betapapun, mimpi buruk para mahasiswa yang ingin jadi pelukis tadi tidak menyebabkan mereka jadi over-protektif, sebab ada gejolak lain yang lebih kuat: ingin pamer.

Mereka tak tahan untuk tidak memamerkan karya-karya yang belum jadi, setengah jadi, atau batal jadi, dan apa pun yang paling baru bikinan mereka, kepada siapa saja yang kebetulan lewat.

Jadinya serba salah.

Biasanya paranoia menjangkiti orang-orang yang termasuk dalam suatu kelas atau kelompok, dan sasarannya adalah sesama anggota kelompok yang sama.

Ada beberapa kelompok pelukis yang saya tahu. Klasifikasi ini semata-mata berdasarkan cara mereka saling pandang.

Satu kelompok di antaranya terdiri atas para seniman yang tak terlukiskan – mereka ini secara metaforis maupun harfiah tak kelihatan.

Kelompok kedua adalah orang-orang berbakat, yakni orang-orang yang benar-benar bisa menciptakan karya seni yang bagus, tapi mereka tak pernah pamer dan tak pernah menjajakan karya-karya itu sebagai karya-karya senirupa; karena itu mereka bukan saingan siapa pun. Malah mereka ini biasanya dengan senang hati membantu pengerjaan karya-karya orang-orang lain – sesuatu yang niscaya lantaran orang-orang lain itu tak mampu secara teknis, atau sekadar malas tak ketulungan.

Yang ketiga adalah para ‘seniman murni’. Mereka ini dengan lantang mengumumkan bahwa mereka lahir sudah dalam keadaan alergi terhadap sistem moneter dan finansial, berdedikasi penuh pada senirupa, ‘besar bersama rakyat’, atau semacam itulah, pokoknya justifikasi atas ketiadaan transaksi keuangan di antara mereka dengan makelar atau kolektor.

Kelompok keempat sangat kecil ukurannya, meski sepintas seolah anggotanya sangat banyak. Kelompok inilah yang dikerumuni kritikus, disambangi kurator, dikontak pemilik galeri, dan ditraktir juragan tembakau, pemilik pabrik tekstil, pengusaha ekspor mebel, atau apalah profesi para kolektor senirupa Indonesia yang umum. Merekalah satu-satunya kelompok yang dikenai pajak, satu-satunya yang punya rekening bank, dan satu-satunya yang hilir-mudik ke ATM bukan untuk menarik kiriman dari bapak mereka di kampung.

Kelompok inilah yang bertengger tepat di pucuk piramida pelaku senirupa Indonesia Raya.

Namun yang paling kukuh adalah kelompok ketiga, karena yang keempat itu paling longgar ikatannya – satu sama lain bisa jadi ketemu pun belum pernah, rata-rata anggotanya sangat individualistis, karena tidak pernah saling membutuhkan sama sekali. Simbiosis mereka adalah dengan kurator, galeri, kritikus, wartawan, kolektor, bukannya antar-anggota.

Sementara kelompok ketiga, para ‘seniman murni’, hampir-hampir sepadu peleton hansip.

Ada ketuanya, ada wakil-wakilnya, ada juru bicaranya (ketiga jabatan ini sering dirangkap oleh satu orang, tapi anggap saja tak semuanya serakus itu). Dan ada para pengikutnya. Sang ketua didaulat secara tidak resmi, atau mendaulat dirinya sendiri bila para pengikutnya tak pernah cukup sadar untuk melakukannya. Ketua bukan berarti yang paling berbakat atau paling bagus lukisannya. Karena minim kerja intelek, para pengikut akan menempel ketat pada siapa pun (biasanya jebolan universitas non-senirupa) yang paling lancar goyang lidah, sekalipun mungkin ia tak kunjung bisa memegang kuas dengan benar. Berdasar pengamatan selama ini saya kira cukup aman untuk disimpulkan bahwa para ketua kelompok ini biasanya memiliki kadar kecerdasan yang lebih tinggi dibanding segenap kapasitas intelek seluruh pengikut mereka digabung jadi satu. Dan biasanya istri-istri para ketua ini punya restoran atau warung, sehingga kesejahteraan jasmaniah para pengikut kurang-lebih bisa terjamin.

Mereka inilah yang kita jumpai tengah melempar preseden bagi seluruh kelompok di luarnya, menciptakan tren yang lantas diikuti semua orang, dan umumnya menjadi propagandis istilah-istilah ‘sulit’ yang kemudian menjejali tulisan-tulisan senirupa sehingga semuanya seperti dibuat oleh penulis yang sama. Mereka bisa melakukan ini, karena merekalah yang banyak bicara tiap kali ada diskusi senirupa, dan merekalah yang tiap hari baca koran dan membedah esai-esai orang.

Dalam kosakata mereka pernah merajalela istilah-istilah seperti: 1). posmodernisme; 2). pelacuran seni; 3). rakyat; 4). merdeka/bebas/kebebasan/kemerdekaan; 5.) kritik/realisme sosial; 6). Foucault; 7). seni kontemporer; 8.) anarkisme; 9.) archaic; 10.) Tarrantino.

Bila menginginkan seutuh kamus, Anda riset sendiri saja. Untuk saat ini hanya itu yang bisa saya cegat dari arus keluaran kelompok ‘seniman murni’ ini. Itu sudah cukup untuk sekarang guna melihat wataknya.

Istilah pertama (posmo) dan keenam (Foucault) barangkali merupakan pengulangan yang tak perlu, tapi Anda harus mengerti bahwa menurut kelompok di atas tidak demikian halnya.

Istilah kedelapan (anarki) disebar begitu saja dalam segala macam kalimat percakapan, di selebaran dan poster, atau – ini yang paling parah – di atas kanvas.

Kian kacau lagi, maknanya pun tak selalu jelas bagi si pembicara sendiri.

Yang kesembilan (archaic) selalu dinyatakan dalam bahasa Inggris, dan diterapkan pada apa saja, umpamanya (kutipan asli dari seorang mahasiswa yang ingin jadi pelukis, yang menyebut konsep karyanya ‘posmo’): “Bagaimana lukisan ini menurut kamu? Jangan archaic.” Atau (ini juga kutipan asli): "Lama-lama benci betul aku sama Nyoman Gunarsa. Memangnya siapa dia? Siapa yang memberinya hak untuk archaic hanya karena dia orang Bali?”

Kalau Anda bingung mendengarnya, sama, dong, karena saya juga bingung. Namun di kemudian hari saya jadi tahu bahwa bagi para mamalia artistik sektarian ini ‘archaic’ (arti sesungguhnya: ‘kuno’) dan ‘sinis’ adalah sama. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana bisa begitu.

Sayang sekali saya sama sekali tidak tahu mau diapakan istilah kesepuluh (Tarrantino) itu, tapi Anda tak usah pusing. Para mahasiswa yang ingin jadi pelukis itu sendiri tidak benar-benar paham juga, kok.

Di kemudian hari, sesudah 2000, semua tulisan senirupa Indonesia memuat dua kata ini: ‘sensitivity’ dan ‘sensibility’.

Entah siapa yang pertama kali memakainya (Jim Supangkat, barangkali), tahu-tahu semua orang tak bisa lagi menulis apa-apa dalam katalog pameran dan di koran-koran bila dua kata itu tak termaktub. Sering keduanya dijejalkan begitu saja tanpa ada perlunya, atau malah tanpa ada maknanya. Yang penting harus ada dua kata itu.

Baru setelah mereka melihat sendiri bahwa satu atau dua kurator tertentu (dua) yang benar-benar bisa menulis, seperti misalnya Hendro Wiyanto, ternyata kebal, sementara Aminuddin ‘Ucok’ Siregar ternyata bisa hidup tanpa ‘sensitivity’ dan ‘sensibility’, sedangkan honor kuratorial dan wesel dari koran ternyata tidak terpengaruh oleh ketiadaan kata-kata itu, pelan-pelan kedua kata itu luntur dari katalog-katalog pameran.

Sedang saya memikir-mikirkan betapa heroiknya para penulis senirupa Indonesia yang harus selalu siap-siaga menadah istilah-istilah tertentu untuk dipakai terus-terusan sampai jebol dan sampai ada gantinya, Bob memberitahu saya bahwa menurut Tommy F. Awuy ‘senirupa kontemporer’ tidak ada di Indonesia.

Saya tak punya waktu untuk baca koran, apalagi katalog pameran. Tapi Bob sempat banget. Dia punya tukang cuci. Jadi mungkin dia kutip itu apa adanya.

Dan itu membingungkan saya. Apa bisa kekontemporeran tidak ada, di senirupa atau di mana pun? Bukankah yang kontemporer itu yang di sini dan sekarang? Bila Anda melakukan sesuatu saat ini dan di sini, bukankah itu artinya Anda melakukan sesuatu yang kontemporer bagi saya karena saya juga di sini sekarang? Asalkan kita berdua memakai present-tense, kita ini kontemporer, kan?

(Ya ampun, saya benar-benar mual tiap kali kata-kata yang tak bersalah apa-apa tiba-tiba dimumikan jadi istilah-istilah.)

Maksud saya adalah, Bob seharusnya jangan puyeng akibat simpang-siur teori.

Teori hanyalah kata-kata.

Dan Bob, dalam status sebagai pelukis (bukan penulis puisi), seharusnya tak ada urusan dengan kata-kata. Urusannya adalah yang visual, yang bertekstur, yang berwarna. Bila dia repot-repot melakukan konseptualisasi dan kemudian jengkel pada dirinya sendiri karena belum apa-apa sudah macet pada ketidaktercernakannya kata ‘konseptualisasi’, itu buang energi saja.

Apa gunanya melukis kalau yang Anda ingin kemukakan masih harus ditulis dan/atau diucapkan? Apa nilainya ‘bahasa rupa’ (ini juga istilah modis bagi para kurator) yang Anda pakai, jika sesudah lukisan selesai Anda masih harus mengetik penjelasan tentangnya?

Selain sebagai jalan supaya kurator bisa makan, sebenarnya pameran senirupa hanya bertambah ruwet atau malah sebaliknya kedodoran tanpa ada perlunya bila ditingkahi tulisan panjang-lebar yang isinya sama dengan apa yang dipamerkan. Saya sering sakit perut melihat betapa banyak kertas diboroskan untuk tulisan-tulisan dalam katalog yang isinya deskripsi tentang apa yang terlukis di atas kanvas, seolah-olah pembaca katalog semuanya mengalami gangguan penglihatan yang parah sehingga tak mampu menyaksikan sendiri foto-foto besar yang dipasang di sana dan memperlihatkan lukisan-lukisan aslinya apa adanya.

Dan kalau memang pemilik galeri mempekerjakan orang untuk menulis penjelasan tentang lukisan atau patung atau instalasi atau objek atau apa pun yang dipajangnya, berarti si Bob dan kawan-kawan tidak perlu berceloteh tentang hal yang sama, bukan?

Mentalitas anggota geng jangan sampai merasuk ke hulu kesenimanan. Bila sudah telanjur, pokoknya ingat-ingat bahwa yang melukis itu Anda, bukan mereka.

Bila Anda buka telinga untuk mendengarkan hiruk-pikuk gosip dan teorisasi dan istilah-istilah ‘sulit’ dan sebagainya itu, bisa-bisa Anda akan kehilangan telinga itu, seperti Van Gogh.

Padahal yang didengarkan Van Gogh hanya suara-suara di kepalanya sendiri saja.

Alangkah lebih parah kalau menguping semua kata orang lain juga.

5. Bala Lalu Dibawa Singgah: Bob, Senirupa, Kontemporer, China

“Lukisan-lukisanku sekarang indah, manis-manis,” kata Bob; “kelihatannya aku sekarang berubah jadi lemah dan bodoh.”

“Kalau kamu lemah dan bodoh,” kata saya, “itu bukan perubahan.”

Pada waktu itu, Bob ada masalah dengan (atau lebih tepatnya melawan) galeri-galeri senirupa. Meski lukisan-lukisan anyarnya ‘manis-manis’, galeri-galeri itu tak mau memamerkan mereka. Karena itu dia terperosok ke kancah peluncuran komentar-komentar ‘insensitive’ dan pernyataan-pernyataan ‘insensible’ (hehehe….) tentang para pemilik galeri. Saya juga rutin melakukan yang seperti itu, tapi saya kan tidak minta mereka memamerkan lukisan-lukisan saya, jadinya tak apa-apa, sementara dalam kasus Bob keadaannya jadi mengenaskan.

“Nah, kan? Lukisan-lukisanku betul-betul manis. Kata pemilik galeri (lain lagi) tidak kontemporer,” tambahnya sepulang dari Jakarta.

Waktu itu musim panen raya bagi galeri-galeri senirupa Indonesia.

Pada tahun 2002, galeri yang barangkali tertua dan paling tahan banting, Edwin’s di Kemang, Jakarta, memboyong lusinan karya senirupa ‘kontemporer’ dari China dan menggelar mereka di Galeri Nasional.

Ini membuat galeri-galeri lain se-Indonesia kalang-kabut menjadwalkan pameran-pameran serupa.

Semua orang jadi sibuk mengundang dan memamerkan karya-karya seniman China, mengadakan seminar dan diskusi tentang mereka, dan sebagainya. Yang paling tebal muka di antara para kurator, pemilik galeri dan makelar lukisan bahkan melakukan pemulungan besar-besaran atas karya-karya senirupa Indonesia yang ada kaitannya dengan China, dan memajangnya sebagai ‘lukisan China kontemporer’ atau semacam itu.

Termasuk karya-karya yang, bila diukur dengan skala yang lebih waras, merupakan lukisan-lukisan bergaya China klasik. Anda tahu yang seperti apa – gunung-gemunung berkabut, sungai-sungai berbusa, semak-semak berbunga, awan-gemawan berdansa, ikan emas berenang-renang, dan seterusnya, yang di zaman baheula memang mencirikan seni lukis China (kira-kira pada zaman Tiga Kerajaan sampai dengan akhir pemerintahan Maharani Tzu Hsi), tapi yang, sejak acara ‘bersih negeri’ Mao di 1970-an, merupakan tampilan rutin warung-warung cenderamata di sekitar Tembok Besar yang misinya adalah menguras dompet wisatawan dari Indonesia.

Yang terakhir inilah yang membuat Bob berang tak kepalang.

‘Lukisan-lukisan’ (gulungan) ‘kontemporer’ (klasik) ‘China’ (Indonesia) itu indah. Lantas kenapa gambar-gambar (lukisan) buatan Bob yang ‘manis’ (berwarna pastel) dan ‘indah’ (cocok dengan tirai ruang tamu) tidak kontemporer?

Ketika para seniman berhenti maraton ke arah Yang Indah dan mulai menyemai ambisi untuk mengganggu pemandangan, Anda tahu pasti ada yang amat-sangat tak beres.

Ada masanya para seniman mengambil kuas dan meraih alat pemahat dan memproduksi sesuatu – namun kemudian kiamat datang dan mereka mengambil produk tanpa pernah meletakkannya lagi. Sungguh suatu bencana bagi orang awam!

Pikiran semacam itu dikunyah oleh otak saya saban kali bertemu secara kebetulan dengan apa yang dinamakan ‘senirupa kontemporer’. Padahal baru beberapa kali migren yang lalu ada Bad Art. Punk Art. Stupid Art.

Pikiran berikutnya yang melintas adalah: “Gombal.”

Saya pernah melihat, di sebuah galeri, sebuah piyama koyak dan sepasang sandal yang sama kusamnya dan sudah bolong tumitnya dijejalkan begitu saja ke dalam sebuah mantan laci. Bila tidak ada secarik kertas yang dilekatkan di situ, yang bertuliskan “Seni Instalasi - The Misfit - Oleh: XYZ - 1999", bisa jadi saya sudah akan mengajukan keluhan tentang betapa tak kompeten pembersih ruangan yang dipekerjakan oleh galeri itu.

Di dekat ‘instalasi’ tadi ada karya lain yang benar-benar memaksa orang memandang. Ada beberapa ratus bongkah batu di lantai. Dari langit-langit, terjulur ke bawah sebuah boneka plastik gundul yang matanya hilang sebelah dan kakinya separoh terbakar, dan semua ini oleh senimannya dijuduli “Under Tyranny”. Saya tanya seseorang yang tampangnya seperti kurator yang kebetulan ada di dekat situ, kenapa kok dibilang ‘under’ padahal bonekanya kan jelas-jelas ‘above’. Jawab orang yang seperti kurator itu, saya harus membalik sudut pandang.

Ada juga karya yang saya pikir lukisan, karena terdiri dari kain tebal kasar berlabur putih kesat yang biasanya dinamai ‘kanvas’, yang direntang kuat-kuat di atas bingkai kayu murahan, dilumuri cat minyak, kemudian keduanya dijepit oleh bingkai yang agak lebih mahal dan berukir sedikit. Lukisan itu warnanya antara hijau kotor dan hitam kusam, dan tidak ada apa-apanya lagi selain beberapa garis tipis kehijauan serta kata-kata. “In”, bunyinya, di sudut kanan atas; “Out”, di sudut kiri atas, dan beberapa kata lagi dilempar ke sana-sini: "Conspiracy", "Fear", "Power". Saya juga tak mengerti apa maksud pelukisnya, tapi saya pura-pura mengerti sesudah melihat dua orang laki-laki muda yang mengenakan aura reggae dan carut-marut seperti laiknya mahasiswa yang ingin jadi pelukis mengangguk-angguk di depan lukisan tadi. Kalau memang karya itu masuk akal di kepala-kepala yang seperti itu – yang dimahkotai rambut rasta palsu dan diwarnai dengan zat-zat kimia dari dalam botol – harusnya kepala saya, dengan rambut asli yang kata Alkitab dibuat dan diwarnai oleh Tuhan, juga bisa memahaminya.

Tapi persoalannya tetap mengganggu saya sepanjang hari.

Tak ada kata lain yang saya temukan. Cuma sampah. Sampah murni. Sampah yang seharusnya berada di tempat lain dan jangan ke mana-mana sebelum mandi.

Mengambil barang-barang dari tong sampah dan menaruhnya di tempat lain bukanlah displacement; melainkan benar-benar misplacement.

Orang dilarang buang sampah sembarangan di tempat-tempat umum, namun tampaknya Hukum lupa mencantumkan ketentuan yang mencakup galeri senirupa.

Sementara itu, Bob melabur kembali lukisan-lukisan ‘indah’nya menjadi putih, kemudian ditorehkannya gambar-gambar yang tak keruan di sana sebagai ganti.

“Kamu nggak tahu sih apa yang dilakukan Ugo Untoro pada lukisan-lukisannya yang indah,” katanya pada saat saya kerutkan kening.

6. Tak Beban Batu Digalas: Bob, Gila, Sakit, Gila

Mustahil saya bisa menyembah sesosok Tuhan pikun yang kerjanya berjalan-jalan keliling taman dengan sebilah tongkat di tangannya, memasukkan teman-temannya ke perut ikan paus, dan mati sambil menangis memanggil-manggil BapakNya, lalu hidup kembali setelah tiga hari; semua itu sama sekali tidak masuk akal, absurd, dan, lebih parah lagi, berlawanan dengan segenap hukum ilmiah.....

(Gustave Flaubert, Madame Bovary, 1857)

Di jagat yang saya diami, ‘gila’, ‘edan’, ‘sinting’, ‘aneh’, ‘nyentrik’, ‘sakit’, dan seterusnya adalah kosakata sehari-hari. Seniman-seniman di sekitar saya kelihatannya tak bisa berkomunikasi tanpa kata-kata semacam itu untuk menggambarkan teman-teman mereka, dan terutama untuk membuat potret diri.

Makin ‘gila’ seseorang di sana, makin bangga dia.

Saya kira yang begini ini sudah kuno, sudah terlalu lama diadopsi sejak zaman Sanggar Bambu, tapi sampai sekarang nyatanya masih dilakoni dan dianut sekencang-kencangnya di luar sana.

Seorang seniman yang saya kenal baru saja dilarikan ke Gawat Darurat gara-gara membelah perutnya sendiri, katanya sih bukan dalam rangka percobaan bunuh diri gaya Jepang tapi karena “Aku ingin tahu seperti apa isi perutku”. Dokter-dokter serumah sakit itu tak ada yang percaya padanya, tapi saya bisa karena saya kenal dia. Lukisan-lukisannya belakangan ini disesaki sosok-sosok tembus-pandang yang isi perutnya berkelakuan tak seperti jamaknya isi perut manusia.

Ada lagi yang kerjanya keluar-masuk RSJ meski semua itu tak mengubah apa pun selain saldo rekening bank ayahnya. Orangnya sendiri bilang dirinya tak apa-apa. Cuma dia sering mendengar suara-suara tanpa wujud, yang memberitahunya bagaimana cara membuat jembatan besi – yang sebulan kemudian dipamerkannya di sebuah galeri.

Ada juga yang belum pernah diapa-apakan sama sekali oleh aparat kesehatan mental, meskipun hidupnya sangat tak biasa. Tiap Jumat, pelukis ini tak mau mandi. Begitu juga tiap Selasa. Katanya, jiwanya akan dirampas setan kalau berani mandi pada hari-hari itu. Setan ini konon celingukan tiap jam 3:13 pagi di dekat kulkas.

Di dekat situ ada pelukis lain lagi, yang mengumpulkan batu-batu kasar berbagai ukuran di studionya. “Ini semua datang sendiri padaku,” ujarnya, “terbang melalui udara, masuk ke sini, dan minta disimpan. Biasanya pada jam 11 malam, tapi mereka nggak mau datang kalau ada tamu.”

Tetangganya, Bob, menambah tato baru tiap kali patah hati. Padahal dia patah hati kira-kira tiap Kamis per minggu.

Masih banyak lagi kasus di Yogya saja, belum lagi di Bandung, di Jakarta, di Nusakambangan. Bisa ludes hutan se-Kalimantan kalau saya pakai mencetak daftar semacam itu selengkapnya.

Buat sebagian besar penghuni Planet Seni, Planet Waras itu sama sekali tak menarik, membosankan, omongannya tanpa logat dan pemandangannya tanpa karakter. Karenanya antara dua planet itu terdapat jurang besar yang namanya ‘temperamen artistik’, setidaknya kata mereka.

Sejauh ini keduanya berdampingan tanpa insiden-insiden yang membahana, meski sekali-sekali terjadi pelanggaran batas wilayah.

Pelintas-batas ini biasanya seseorang dari Planet Waras yang, karena tak memperoleh kebebasan yang diinginkannya di sana, menyeberang ke Planet Seni lantaran di tempat itu orang gila adalah penduduk sehari-hari. Para pelintas batas ini, sedihnya, tak pernah sadar bahwa para penduduk Planet Seni kebanyakan punya bakat lebih dulu, baru kemudian gila. Bukan sebaliknya.

Ada seorang tukang kayu yang tiba-tiba saja ingin jadi pemusik, di kampung saya. Selama fase transisi, dia hidup dari wesel kiriman ibunya. Kini sudah lima tahun sejak proklamasi orang itu. Dia belum juga berhasil menaklukkan gitar yang dibelikan ibunya dulu. Pak RT sampai bludrek lantaran keluhan tetangga kanan-kiri si mantan tukang kayu.

Ada yang bahkan lebih menyedihkan lagi. Orang itu mewakili spesiesnya yang tipikal. Kerjanya semula menjual polis asuransi. Lantas mendadak dia putar haluan dan mengiklankan diri sebagai orang ‘gila’, dengan harapan agar semua orang di dunianya berpikir demikian, dan selama bertahun-tahun dia selalu sibuk membuat citra-diri yang baru dengan kadar kegilaan yang kian meningkat, terutama sejak istrinya yang sudah kontan minta cerai pada saat ‘kegilaan’ ini bermula menuntut tunjangan anak. Kasihan sekali karena orang yang mengaku ‘gila’ dan ‘nyeni’ itu sama nyentriknya dengan tiap bungkus burger McDonald’s. Dia juga tak bisa melukis, tak bisa mematung, tak mampu menulis, tak kompeten berakting, kikuk berjoget.

Sebagian pelintas-batas tak perlu pasang iklan untuk dianggap gila di Planet Waras yang mereka huni. Mereka sudah dianggap gila oleh para dokter spesialis saraf. Karena itu mereka lalu beremigrasi ke Planet Seni. Di sana, mereka sukses memperagakan kegilaan tulen. Persoalannya adalah, mereka sama sekali tak becus membuat karya seni.

Kadang kericuhan di Planet Seni disebabkan oleh benturan antara orang-orang yang gila dan benar-benar seniman, dengan mereka yang hanya gila saja.

Di jagat saya, ‘gila’ itu oke, dan ‘jahat’ itu tak apa, asal jangan bodoh.

Beberapa orang ‘gila’ yang saya kenal sangat brilian.

Sisanya, sayang sekali, selain gila dan jahat juga bodoh tak terkira.

Namun tak ada hukum yang melarang mereka berkeliaran di Planet Seni, tak di Indonesia, tak di Inggris, tak di Jerman, sekalipun mereka secara intelektual jelas-jelas anti-gravitasi dan melanggar semua jenis hukum jasmaniah.

Itu karena orang-orang di Planet Waras menyamaratakan kesenimanan dengan ‘kegilaan’.

Padahal bukan vodka dan bukan shabu-shabu yang melukis dan memahat, juga bukan penyakit dengan nama latin yang panjang dan hanya dimengerti maksudnya oleh para psikiater di Puri Nirmala.

7. Bumi Ditampar Tak Kena: Bob, Filsafat, Kebebasan

Bob baru saja membaca Bertrand Russell dan mengklaim pembebasan dari ‘sickness’.

Duapuluh empat jam kemudian, sesudah dua gelas gin, dia mengklaim kembali ‘sickness’-nya.

Biasanya gagasan-gagasan praktis memang muncul kalau habis baca Bertrand Russell. Apa pun kata Russell, kita selalu berpikir, “Lho, aku juga mikir gitu tadi pagi!”. Kecuali ramalan-ramalannya yang sungguh-sungguh ngawur, kebanyakan isi buku-buku Russell adalah filsafat yang Bob pun kalau terpaksa bisa membuatnya.

Sudah jelas kita butuh filosofi yang gampang dimengerti, lebih baik lagi filosofi yang bisa ditenteng ke ruang tunggu dokter dan bandara dan halte bus kota. Itu dia dilemanya: filsafat tak pelak lagi diciptakan supaya jangan mudah dipahami oleh Liga Awami.

Setiap orang bisa saja hidup dalam suatu filsafat, tapi filsafat selalu menjadi kelompok yang keanggotaannya terbatas manakala sampai ke masalah penjabaran filosofi tadi, lebih-lebih secara tertulis.

Jadi, yang kita butuhkan adalah filosofi yang bisa menjelaskan kepada kita tentang falsafah yang kita hidupi.

Dulu saya suka Russell; dia itu virus yang menjangkiti universitas-universitas. Tiap-tiap selesai baca bukunya, saya benci komentar-komentarnya yang kelewat menyamaratakan, tapi setidaknya secara linguistik mereka itu baik dan benar meski secara filosofis tak senonoh.

Dan dalam filsafat yang linguistik ini besar artinya. Lebih dari sastra, karena novelis tak perlu mencari-cari cara baru untuk menggunakan kata-kata lama (dan menjelaskan mengapa dan bagaimana), sedangkan penyair kelihatannya hanya harus menjadikan kata-kata yang itu-itu juga jadi tak jelas maknanya atau tak masuk di akal. Mereka tak usah membuat catatan kaki. Tapi filsuf-filsuf tertentu juga tak usah membuat catatan kaki; yakni mereka yang sudah jelas gila (misalnya idola Bob, Nietzsche), atau sudah jelas amat-sangat jenius (misalnya idola Bob, Nietzsche). Atau Russell, yang tak masuk kategori gila maupun amat-sangat jenius.

Ada yang menerjemahkan buku Russell The Conquest of Happiness ke dalam bahasa Indonesia lebih dari sepuluh tahun silam. Terjemahannya sangat menyedihkan, karena itu saya mencari buku aslinya. Setelah repot beberapa lama, dan kartu ajaib (Visa milik tetangga) telah berhasil dengan abrakadabranya, akhirnya dapat juga buku itu. Namun saya kecewa bukan main karena aslinya sama menyedihkannya dengan terjemahannya, meski dalam hal yang berbeda.

Saya pikir saya ini selalu tak bahagia. Jadi, dengan antusias saya baca Russell supaya tahu mengapa, secara filosofis, saya selalu tak bahagia. Lagipula saya berpendapat bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya bahan filsafat yang masuk akal buat dipikir-pikirkan.

Dalam kategori Russell kelihatannya saya termasuk dalam golongan manusia yang “tak bahagia dalam cara yang seperti Lord Byron”. Ini agak canggih, tapi sama saja tak menyenangkan. Soalnya saya temukan kutipan dari Kitab Pengkhotbah, bagian dari Perjanjian Lama yang lokasinya di sekitar kidung-kidung raja Sulaiman, yang persis seperti pikiran saya tentang subjek ketidakbahagiaan itu. Padahal, kata Russell, pikiran itu keliru. Ini dia:

Sungai-sungai mengalir ke dalam lautan; namun laut tak pernah penuh. Tiada yang baru di bawah langit. Tiada ingatan tentang yang telah lalu. Aku benci segala usahaku di bawah terik matahari ini: karena aku akan harus meninggalkan hasil kerjaku pada orang yang akan hidup sesudahku.

Russell, tentu saja (saya harap Anda tahu bagaimana gaya menulisnya), menginjak-injak habis tuturan para Pengkotbah Kristen itu. Kalau apa yang ditulisnya dikonversi ke bahasa saya, kira-kira bunyinya akan begini: bagaimana dengan tsunami? Bukanlah air meluap ke daratan sama saja dengan ‘laut sudah penuh’? Plato meninggalkan hasil kerjanya pada orang lain, tapi dia belum pernah bermimpi menemukan internet, bukan? Guy Fawkes berubah jadi nuklir, apa bukan kemajuan namanya? Tak ada peninggalan yang tak diubah dan dikembangkan oleh pewarisnya, bukan? Jadi, kenapa musti pelit dengan pewarisan hasil jerih-payah kita sekarang pada generasi yang akan datang?

Russell tak mau tahu bahwa logika saya mengatakan tsunami tidak menguras air lautan. Plato sudah logged-in ke sesuatu yang bisa disebut inter-nets; dia punya jaringan. Bubuk mesiu jadi hulu ledak berkepala nuklir, tapi kepribadiannya, bahkan jatidirinya, tak berubah sedikit pun. Dan saya keberatan mencangkuli ladang tanpa pernah memanen hasilnya dan harus merelakannya semata-mata demi keponakan saya Akira yang nakalnya bukan main itu.

Sedangkan Russell menuduh para penulis Kitab Pengkotbah ketinggalan zaman karena tak pernah dengar tentang listrik dan telepon. Padahal, jangankan rekening telepon, para penulis itu juga belum pernah dengar ‘ketinggalan’, ‘zaman’, ‘karena’, ‘tak’, ‘pernah’, ‘dengar’, dan seterusnya – sebab mereka tidak mengenal bahasa Indonesia.

Menurut Russell, ada tiga penyebab ketidakbahagiaan manusia: 1). ‘pandangan-pandangan yang keliru mengenai dunia’, 2). ‘etika yang keliru’, dan 3). ‘kebiasaan-kebiasaan hidup yang keliru’.

Bukanlah adat saya untuk memaki-maki filsuf Inggris yang sudah almarhum, namun nyaris saja saya melakukannya, padahal saya baru sampai ke halaman 27.

‘Keliru’, kata Eyang Russell.

‘Keliru’ itu berat sekali. Siapa bilang, menurut siapa, ‘keliru’? Yang ‘benar’ yang bagaimana? Apa memang ada yang ‘benar’? Kata siapa? Mengapa? Dan seterusnya – belum lagi ‘pandangan tentang dunia’, ‘etika’, dan ‘kebiasaan hidup’, dan ‘hidup’ itu sendiri – semuanya konsep bikinan manusia, dan tak pernah tidak siap-pakai kecuali bila Anda ini Tarzan.

Singkatnya, yang ‘tidak keliru’ itu ‘masyarakat’. Komunitas. Kompromi. Konformitas.

Alamak.

Bagaimana mungkin ada makhluk yang bahagia bila dia mengikuti apa yang ‘tidak keliru’ itu tanpa benar-benar menerimanya? Kalau dia tidak ingin apa-apa dan mengadopsi semua konsep siap-pakai itu begitu saja, okelah. Dia mungkin akan bahagia karena menurut tafsir Russell kebahagiaan itu sama saja dengan menyamakan persepsi dengan semua orang lainnya (itu yang saya tangkap, paling tidak). Tapi kalau orang yang malang itu, yang tak bahagia itu, tak ingin sekadar diterima oleh lingkungannya, dan seterusnya, bahkan tak ingin ‘berbahagia’ bila hanya karena mengikuti arus, lalu bagaimana?

Jawab Russell: “................”

(Dia tidak menyinggung itu sama sekali.)

Yang disinggungnya adalah nasib orang-orang yang pandangannya tentang dunia keliru, etikanya salah, dan kebiasaan hidupnya tak benar: “Dia akan memperoleh watak penghancur, yang akan memustahilkan tercapainya hal-hal yang memungkinkan kebahagiaan, yakni semangat alamiah dan gairah hidup yang wajar.”

Hal-hal Yang Mungkin, saya kira, sangatlah terbatas. Hanya sejauh yang manusia mampu bayangkan saja. Tampang, kehendak, impian, dan sebagainya, sangat sedikit jenisnya, meskipun Anda mungkin mengira tak terbatas adanya. Dalam kebanyakan kasus, segala sesuatu tampak seolah tak berujung hanya karena kita tidak memiliki akses terhadap hal-hal yang kita tak akan pernah temukan (dan ini tak berarti mustahil ditemukan oleh orang-orang lain).

Kata Russell, ada hal-hal Puncak (‘Ultimate’) yang memungkinkan kebahagiaan. Kata saya, siapa bilang? Tak semua orang ingin jadi Tuhan, bahkan tanpa cekokan agamis habis-habisan pun. Sebagian besar orang tak ingin jadi Tuhan karena memang tak ingin jadi Tuhan. Begitu sulitkah kenyataan ini dibayangkan?

Orang-orang gila, kata Russell, ada kalanya bahagia tulen, namun kebahagiaan mereka “bukanlah jenis kebahagiaan yang akan menyebabkan orang waras sirik.”

Tentu saja tak seorang gila pun, kalau benar-benar gila, akan menulis buku panjang-lebar tentang cara mencapai kebahagiaan dan menjabarkan mengapa orang-orang waras tidak berbahagia. Seandainya dia menulis buku seperti itu, orang waras juga takkan paham, karena gagasan-gagasannya pasti tak ada kesamaan dengan yang bisa dicerna akal mereka. Kita bisa iri pada seseorang karena sesuatu yang bagi kita tak jelas. Namun kita tidak bisa sirik mengenai sesuatu yang tak kita pahami, bukan?

Jadi, pengalaman saya membaca buku Russell itu berakhir dengan kejengkelan total, karena, sesudah beberapa bab lamanya melindas habis gagasan-gagasan orang tentang pelarian dan pengalihan perhatian, Russell memberikan resep kebahagiaan yang persis sama.

Kalau Anda tidak bahagia ketika memikirkan Presiden SBY, begitu katanya kira-kira, sebaiknya Anda berpikir tentang Nyonya Suharti saja (merek ayam goreng Yogya itu lho).

Saya pikir, satu-satunya jalan menghindarkan ketidakbahagiaan memang cuma dengan melarikan diri atau mengalihkan perhatian, karena itu sudahlah, tak usah repot merangkai kata-kata mutiara yang akhirnya toh bermuara ke situ juga.

Tapi Russell belum selesai menjengkelkan saya. Katanya:

Mereka yang secara tulus menganggap diri mereka tidak berbahagia akibat pandangan-pandangan mereka mengenai alam semesta dan segala isinya ibarat orang yang memasang kereta di depan hidung kuda dan bukan di belakangnya. Yang benar adalah: mereka ini tidak berbahagia karena sesuatu sebab yang tak mereka ketahui. Karena itu, mereka lalu mengarahkan perhatian mereka kepada aspek-aspek buruk dalam kehidupan ini. (halaman 25)

Akibatnya, sampai sekarang saya tetap tidak bahagia, gara-gara baca buku Russell itu tadi.

Bagaimana dengan Bob? Apakah Bob ‘sakit’, atau ‘hanya’ tak bahagia?

Apakah ‘sakit’ adalah sama dengan ‘tak bahagia’?

Sepanjang kariernya, termasuk sepanjang pensiun temporernya, Bob mengklaim ‘sakit’ sebagai daya pendorongnya dalam berkarya.

Apa pun bisa jadi daya dorong untuk menciptakan apa pun. Bahkan ‘sakit’. Terutama ‘sakit’. Lebih banyak lagu tentang patah hati ketimbang mengenai cinta yang berakhir bahagia, kan?

Tapi tiap kali ‘sakit’ itu diangkat-angkat, dinaikkan ke panggung, ditaruh di pedestal dan dibingkai rapi dan debunya disedot setiap hari, saya jengkel sekali.

Sebab bila ‘sakit’ itu sudah hilang, Bob takkan bisa membuat apa-apa lagi.

Dan ‘sakit’ bisa hilang, lho. Meski mungkin makan waktu lama, biarpun mungkin sepanjang hidup kalau dia terus-menerus dipiara seperti sekarang ini.

Dan saya jengkel karena barangkali Bob tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinyalah yang melukis dan menyair, bukannya ‘sakit’.

Lebih sulit lagi menerima kenyataan bahwa ‘sakit’ itu sendiri adalah salah satu karyanya yang pertama-tama.

Penuhkah lautan sehingga ada tsunami?

8. Kalau Bunga Tidak Sekuntum: Bob, Potret, Diri

“Aku tak akan mengubah apa pun dalam potretnya. Memangnya salahku bahwa tampangnya persis telur kocok, dan wajahnya merat-merot tak keruan seperti itu?”

(Edouard Manet, 1878)

Bob jadi ‘foto model’ untuk urusan tato sejak awal abad ke-21. Dia sudah biasa dipotret-potret dan dijadikan sampul buku, majalah dan tabloid; dan di sela-sela kesibukan ini dia jadi figuran beberapa kelompok musik punk dan rock dan ska dan reggae dan keroncong dan dangdut di Yogya, sebagai tukang joget di panggung.

Dia juga membuat potret-diri yang tak terhitung lagi jumlahnya. Semuanya persis seperti makhluk-makhluk yang digambarnya untuk disablon ke atas kaos, yang dijualnya lewat warung-warung tato di sekujur Yogya.

“Semua orang kelihatan seperti itu di mataku,” kata Bob, “termasuk aku sendiri.”

Itu sebabnya saya bersyukur tak pernah dilukis oleh Bob. Saya masih sakit hati karena dibuat boneka yang menyeramkan oleh Ugo Untoro dan dilukis seperti memedi sawah oleh S. Teddy D.

Definisi ‘potret’ dalam kepala saya adalah sepotong sesuatu – gambar, patung, boneka – yang sama sekali tidak mirip orangnya.

Ugo dan Teddy kelihatannya tidak setuju dengan saya.

Dalam hal ini Bob agak lebih masuk akal. Di kebanyakan waktu, dia tidak mengambil model manusia hidup mana pun yang dia kenal.

Maka saya kaget setengah mati bahwa ada yang benar-benar bersedia membayar Bob untuk melukis orang-orang(an) atas nama seni lukis potret. Kalaupun orang yang bersedia membayarnya ini cuma ada dalam mimpi Bob sendiri, sudah sangat mengejutkan, apalagi bila memang ada di muka bumi. Soalnya, definisi yang beredar di luaran adalah, melukis potret adalah kegiatan mengorangkan kembali seseorang lewat media tertentu; artinya hasil kegiatan itu nanti idealnya bisa dikenali oleh orang-orang lain (meski tak pernah oleh orang yang dilukis itu sendiri) sebagai seseorang yang memang dilukis potretnya tadi. Bagaimana Bob bisa membuat yang seperti ini?

Sebetulnya bahkan, bagaimana bisa pelukis-pelukis yang begitu tergiur oleh diri mereka sendiri bisa membuat representasi fisik siapa pun selain mereka sendiri? Jadi proyek ini buat saya adalah misteri.

“Sebenarnya Bob bisa sih bikin potret,” kata seorang kenalan Bob. “Sayangnya dia itu nggak punya sikap.”

S. Teddy D. dan Ugo Untoro dua-duanya adalah sikap. Mereka bisa bertahan hidup dengan mengandalkan apa pun yang disetor oleh sistem mereka, asalkan mereka belum melewati ambang konsumsi barang-barang pemanggil halusinasi. Mereka, kalaupun entah karena apa memakai acuan jasmaniah seseorang yang benar-benar ada (meskipun ini relatif), bersikap terhadap si model ini atau bayangan tentangnya, dan yang digambar adalah sikap itu.

Tetapi Bob itu, sungguh sayang, normal.

Kalau Anda normal dan kerja menghasilkan gambar-gambar, Anda takkan bersikap.

Jadi Bob tak pernah hadir dalam karya-karyanya, termasuk dalam potret diri.

Ini luarbiasa, tapi semua kebenaran memang begitu adanya.

Sementara dalam citra ekspresionis yang seperti ‘setoran’ ketiga-tiganya, absennya Diri sama dengan cangkang tanpa penghuni. Saya tak tahu bagaimana Bob mengatasi perkara ini.

Toh kadang-kadang dia mengklaim keunikan sampai sebegitunya.

“Aku sudah melukis sejak sebelum aku bisa ngomong,” kata Bob.

Meski demikian, klaim-klaim Bob tak seutuhnya bohong.

Dia dulu jenius untuk ukuran mahasiswa yang ingin jadi pelukis di tahun 1991. Tak ada yang melukis seperti dia kecuali mungkin Eddie HaRa dan Heri Dono, dua-duanya sekarang sudah jadi pengelana. Waktu itu bahkan Heri Dono belum kedengaran. Ugo Untoro dan S. Teddy D. juga belum disebut-sebut orang.

Bob merangkum mimpi-mimpi buruknya dalam warna-warna terang dan sapuan-sapuan yang seperti asam pelarut (menghabiskan cat minyak milik orang lain), dan siang-malam membuat kolase-kolase dari kanvas, kertas, kaca, tali, logam, kayu, dan apa pun yang dipulungnya dari rumah neneknya. Melukis, buat dia waktu itu, adalah kendaraan untuk mengangkut gagasan-gagasan kacau (atau lebih sering lagi, perasaan-perasaan) dari dalam kepalanya keluar. Acuannya adalah yang remeh-temeh dan di pinggiran sejauh menyangkut referensi manusia beradab intelek; dia hanya mau atau hanya bisa membentangkan hal-hal yang adanya di anak-cabang budaya (subkultur) kaum muda setempat. Musick rock, reggae, dan stiker masuk ke cara ungkap Bob, begitu juga poster-poster jalanan dan corat-coret di tembok-tembok kota.

Apa yang dibuatnya waktu itu menjadi genre lokal.

Tentu saja Eddie HaRa yang memulai semua itu kira-kira lima tahun sebelumnya, tapi di luar sana Bob juga memiliki sektenya sendiri, lantaran apa yang dibuatnya lebih ‘gelap’ ketimbang bikinan Mas Eddie. Tidak ada yang cerah-ceria dalam gegap-gempita kanvas si Bob waktu itu. Sama sekali tak ada optimisme. Pada dasarnya malah nihilis.

Ternganga oleh gesitnya Bob membuang kanvas ke rumah-rumah kolektor, terkagum-kagum oleh caranya melukis yang penuh gaya, tercengang oleh abainya Bob pada duit yang dibiarkan berceceran dari kantongnya, para mahasiswa yang ingin jadi pelukis mengikutinya ke mana-mana, sama seperti yang terjadi sekarang pada Agus Suwage, Ugo Untoro dan S. Teddy D.

Tapi lantas semuanya ambrol (saya masih belum begitu mengerti bagaimana prosesnya) dan Bob tersepak keluar gelanggang.

Dia di sana selama ini.

Karena S. Teddy D., entah bagaimana, telah berhasil – di antara sadar dan tidak – mengangkat objek-objek menjadi isi melalui sikapnya terhadap objek-objek itu.

Sebab Ugo Untoro, apa pun yang dia tunjukkan di permukaan, menemukan cara-cara terbaik untuk memuntahkan isi perut intelektualnya.

Sementara Agus Suwage berhasil meyakinkan orang untuk membeli lukisan-lukisan yang objeknya dirinya sendiri, sesuatu yang kebetulan cocok dengan arus zaman ketika orang melakukan apa saja untuk memperoleh pegangan di dunia yang centang-perenang ini, di mana parodi laris gila-gilaan, karena segala hal yang terlalu mengerikan untuk dibicarakan lebih baik ditertawakan, terutama di khasanah seni pop, dalam skala yang pasti tak terbayangkan oleh kritikus senirupa Inggris Lawrence Alloway pada saat menemukan istilah itu di tahun 1954.

Ke sekitar pelukis-pelukis itulah Bob beredar, sebagai salah satu di antara lusinan ‘pengikut’.

Umur 25, dia sudah carut-marut oleh Sindroma Pensiunan.

Katanya, “Apa sih seni konseptual itu? Aku nggak ngerti sama sekali, padahal hidup-matiku tergantung padanya sekarang.”

Seniman dari Kalifornia, Edward Kienholz, menemukan istilah itu di awal 1960’an, satu dasawarsa penuh sebelum Bob dilahirkan.

Bob masih Melakukan Sesuatu, meski Sesuatunya tak dianggap memiliki eksistensi konseptual dan karenanya terus-terusan dipinggirkan. Tanpa S. Teddy D. dan tanpa Ugo Untoro dia mungkin selamanya terkapar di ketiadaan. Yang dua itu, terutama Teddy, karena Ugo selalu lebih sibuk dengan urusannya sendiri, entah mengapa selalu menganggap perlu memasang pengungkit di bawah Bob untuk melentingkannya kembali ke rel kesenian.

Makanya Bob kalut ketika S. Teddy D. bicara soal ‘seni konseptual’ sementara dia tak tahu apa itu artinya.

Tapi salah satu sumber penderitaan saya adalah mengapa ‘seni konseptual’ tidak eksis secara konseptual saja, dan bukannya mengganggu pemandangan orang awam dengan eksis secara visual.

Jadi saya tak bisa menghibur Bob.

Kini setelah ‘seni kontemporer’ mengizinkan segala sesuatu (dengan kata lain: mewajibkan semua orang untuk mengizinkan segala sesuatu), mungkin saja Bob memperoleh kesempatan untuk bangkit kembali.

Retorika anti-otoritarianisme yang diusung posmodernisme sudah lewat. Puja-puji yang diikuti daftar nama-nama yang layak dikutip (hampir semuanya nama Prancis), yang menyesaki esai buatan para kurator dan kritikus senirupa Indonesia selama ini, sudah surut. Kerumunan istilah-istilah ruwet yang telah menjadikan sembarang Doktor sebagai ‘pakar’ senirupa posmodernis sudah kembali normal, alias kosong-bolong.

Kini Bob membuat potret.

Ini gagasan seorang pemilik galeri, yang menjala orang-orang tertentu di antara kenalan-kenalannya untuk dilukis di tempat secara bersamaan oleh tiga atau empat seniman sekaligus, komplet dengan segenap antitesis dari definisi ‘adibusana’ yang mereka kebetulan kenakan waktu itu.

Di Malioboro, Yogya, satu resimen pelukis dan penggambar potret telah rutin menyisir pejalan kaki untuk dimodelkan seperti itu sejak Bob masih pakai popok. Dalam sekejap, tak lebih lama ketimbang waktu yang dibutuhkan untuk mengucap ‘Malioboro’ (terutama bila Anda orang Australia), potret sudah rampung dan honornya sudah dipakai bayar utang. Jadi kegiatan berpose untuk digambar adalah kejadian biasa buat lingkungan RT saya. Kami juga tidak akan heran melihat para pelukis dan penggambar potret di Malioboro mengerek gambar-gambar para tokoh masyarakat sebagai cara menarik konsumen di antara anggota-anggota Liga Awami; meski kami harus diberitahu bahwa gambar-gambar itu serangkaian potret tokoh-tokoh masyarakat; sesuatu yang tak terduga dan sering merupakan kejutan karena segala petunjuk yang kasat mata tidak menuju ke arah itu.

Tokoh-tokoh masyarakat dan apa yang dinamakan ‘selebriti’ bisa menjual segala sesuatu.

Memang tidak terbukti demikian dalam kasus para pelukis potret di Malioboro, tapi juga bukan salah mereka bahwa ‘masyarakat’ yang mereka acu tidak pernah sama dengan ‘masyarakat’ Anda, dan biasanya juga tak cocok dengan gagasan saya tentang ‘tokoh’ maupun ‘masyarakat’. Umpamanya, saya tidak bakal terkesan andai mereka pamer pernah melukis potret Britney Spears dan Avril Lavigne dan seluruh finalis Indonesian Idol; sebaliknya mereka juga tak akan mengerti mengapa saya menokoh-masyarakatkan Oda Nobunaga.

Tidak pernah ada yang namanya ‘tokoh masyarakat’, titik; kalau mereka punya saluran, maka ada khalayaknya, namun di luar khalayak ini mereka sama sekali bukan siapa-siapa.

Lebih dari itu, di Planet Seni selalu siaga beberapa peleton manusia non-artistik yang bisa dijumpai kapan saja di mana pun, meski kehadiran mereka yang kontinu ini tidak bisa dicarikan justifikasi. ‘Kolektor’ yang belum pernah satu kali pun dalam kurun waktu 20 tahun membeli apa pun, misalnya. Atau para penggemar lukisan-lukisan tertentu (lebih tepatnya para penggemar pelukis-pelukis tertentu, dan pelukis-pelukis tertentu ini digemari dalam situasi-situasi tertentu). Mereka selalu ada, dan tak bisa dipaksakan pada kita (pada saya, bila Anda keberatan disamaratakan) sebagai ‘tokoh masyarakat’ – mereka ini ‘tokoh khalayak’ pun bukan.

Sebenarnya Orang-orang Awam lebih senang seandainya yang dilukis itu siapa sajalah asalkan cantik dan lukisannya realistis, ketimbang ‘tokoh masyarakat’ yang mana pun juga, yang umumnya dicirikan oleh kehadiran yang substansial (ini bahasa Jerman; bahasa Indonesianya ‘kegemukan’), mimik muka yang kontemplatif (kelihatan capek dan bosan), gaya berpakaian yang sederhana (benar-benar tanpa selera), dan seterusnya.

Tokoh masyarakat, buat Orang Awam, cukup dijadikan gambar prangko dan uang kertas saja, karena di luar kedua pencitraan itu mereka akan kelihatan.

Lagipula kegiatan seperti mengumpulkan nama-nama orang terkenal dalam daftar nomor di ponsel, misalnya, adalah hobi yang menyedihkan; di sebuah bandara, saya pernah terpaksa menggapai Satpam lantaran ada orang yang ngotot memaksa saya melihat-lihat koleksi foto-fotonya bersama sekitar separuh penduduk Hollywood, meski di situ Demi Moore dan Bruce Willis-nya masih pra-perceraian. “Anda tahu Jennifer Aniston? Paris Hilton? Jennifer Garner? Saya kenal semuanya,” dia bilang. Saya tak habis pikir mengapa dia marah waktu ditanya “Apa mereka kenal Anda?”. Seandainya Jennifer Aniston membawa-bawa potret bersama dia ke mana-mana, dan memaksa sesama penumpang pesawat untuk melihatnya, nah, itu baru ada artinya.

Saya tak tahu apakah kegiatan lukis potret Bob ini juga mencakup teks dan citra-citra hasil memulung, tapi di sekitar saya kelihatannya orang-orang seperti kehilangan sesuatu yang asasi sejak posmodernisme pergi dan tinggal kenangan. Sering saya jumpai esai senirupa yang nostalgis tentang itu, meski pura-pura ‘kontemporer’.

Tren memang mengerikan. Kalau tak ikut arus, sulit mengharap kelangsungan hidup.

Yang jelas, fenomena ajaib bahwa Ugo Untoro melukis model-model hidup yang dikumpulkan oleh orang yang bukan dirinya sendiri (sungguh mati saya tak mengerti mengapa; kalau Teddy mah terbayangkan), adalah orang-orang Ugo sendiri yang tak dikumpulkan oleh dirinya sendiri.

Jadi, gagasan pemilik galeri itu di titik tertentu masuk akal: bila S. Teddy D., Ugo Untoro, Bob, dan entah siapa lagi, semuanya melukis Anda, hasilnya adalah beberapa Anda yang berbeda-beda, meskipun sudah tentu tak satu pun di antara potret-potret itu bisa dipakai untuk mendaftar pencalonan Lurah, karena kini tak ada lagi Basuki Abdullah.

Alasan Bob untuk melukis potret-potret ini adalah alasan tertua di dunia. Tapi tak ada bedanya buat dia, karena dia masih menggambar ‘di luar kehendaknya sendiri’ sekarang.

Setelah dua istri, dua anak dan tujuh pacar, dia masih ingin jadi pelukis, sama seperti 14 tahun silam tatkala dia hanya sendirian.

Karena buat Bob tiap hari adalah sebuah zaman, dan tiap peristiwa itu historis, kritik tajam akan melukai agak dalam.

Sebagai anggota kerumunan Yang Tak Melukis, saya ucapkan turut berbelasungkawa atas kebutuhan yang tak bisa diredam itu, untuk bertelanjang secara mental di bawah lampu sorot di hadapan khalayak galeri senirupa yang sering tak peduli apa sebenarnya yang dikatakan pelukis lewat karyanya.

Itu sudah takdir. Anda hanya bisa berjalan terus saja dan bayar berdasarkan argonya. Atau kalau benar-benar mustahil maju tak gentar, harap pertimbangkan karier lain yang lebih meyakinkan, seperti, jadi juragan.

© 2000, 2001, 2002, 2003, 2004, 2005 NIN. Pengantar pameran Bob 'Sick' Yudhita, S. Teddy D. & Ugo Untoro di Galeri Langgeng, Magelang, 2005. Kurator: Hendro Wiyanto.

 

Catatan kaki, berdasarkan urutan tampilnya:

  • TENTU SAJA judul esai ini jauh dari kesahihan gramatik. Bila Anda sama sekali belum pernah dengar apa itu ‘Indonesian Idol’ [ancer-ancer: 1). lomba, 2). nyanyi, 3). interaktif, 4.) televisi, 5). pakai, 5). karantina, 6). seperti, 7). American Idol], lupakan saja judul di atas.
  • Diolah berdasarkan prakata-prakata pembukaan pameran tunggal Bob 'Sick' Yudhita Sick is a Blessing di Galeri Millennium, Jakarta, Indonesia, 2000; Aku Cinta Bapakku, di Lembaga Indonesia-Prancis (LIP), Yogyakarta, Indonesia, 2001; S.O.S, di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, Indonesia, 2003; New Kid On the Block, di Studio Tanah Liat, Yogyakarta, 2004; dan pameran di Galeri Langgeng, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, 2005.
  • Tokugawa: dinasti panglima perang yang men-shoguni Jepang sejak 1603 sampai 1868. Klik di sini.
  • Hegel, Georg: seseorang di zaman kuno yang kenal Karl Marx.
  • Thomson, Arthur: seorang penyair Inggris yang gagasannya tentang romantisme melibatkan pasar gelap Eropa.
  • Dessy: sepupu saya; Anda tak mungkin kenal.
  • Zen: suatu cabang Buddhisme, yang terkenal antara lain karena dampaknya terhadap orang yang tak tahu apa-apa adalah mirip dengan efek samping vodka sesudah 12 jam. Klik di sini.
  • Stalin, Josef: seorang tokoh dari Rusia yang pekerjannya mendiktatori negeri itu.
  • Lukacs, Georg: yang dibaca Bob bukan buku Lukacs, melainkan skripsi tentang buku Lukacs, yang diterbitkan dengan judul ‘Realisme Sosialis’, bertandatangan Ibe Karyanto. Waktu itu Bob juga baca buku seniman Jawa Timur Mulyono yang sampulnya bergambar pincuk daun pisang berisi kembang-menyan itu. Saya tidak baca, jadi mustahil ingat judulnya.
  • Untoro, Ugo: satu di antara empat pelukis Indonesia yang bisa melukis.
  • S. Teddy D.: pembuat objek-objek senirupa. Sebenarnya dia itu tergolong pemikir senirupa, tapi sejauh ini belum ada yang menobatkannya.
  • Klingon: spesies jinak dalam serial yang kedodoran tapi suksesnya bukan main, Star Trek.
  • Bush, George W.: Presiden Amerika di bawah pemerintahan Osama bin Laden.
  • Nara: selain sebagai nama orang, juga nama salah satu kota tertua di Jepang, ibukota negeri itu di sekitar tahun 600-an. Lihat kampung halaman perupa Jepang Asada Kanae. Klik di sini.
  • Kant, Immanuel: orang Jerman zaman kuno yang kerjanya terus-menerus menatap Tuhan, atau semacam itulah.
  • Duchamp, Marcel: seniman Amerika, yang kerjanya menemukan barang-barang yang sudah ditemukan semua orang lainnya bertahun-tahun sebelumnya.
  • Newton, Isaac: orang Inggris yang konon mengalami pencerahan ketika kejatuhan apel saat ketiduran di halaman.
  • Einstein, Albert: penemu suatu rumus fisika yang setahu saya tidak ada gunanya di dalam rumah tangga.
  • Shakespeare, William: pereka naskah drama di zaman Ratu Elizabeth I yang menemukan Macbeth dan para pembunuh sejenisnya.
  • Sonata, Betharia: kalau Anda lahir sesudah 1980, tanya ibu Anda.
  • Warkop: ibid.
  • Chekhov, Anton: tukang cerita dari Rusia, dicirikan oleh optimisme tak tersembuhkan mengenai sisi baik manusia.
  • Adik saya: Bunga Jeruk Satyawan. Lihat www.bungajeruk.com
  • Keponakan saya: anak adik saya. Klik di sini.
  • Wahyuni, Erica Hestu: pelukis Indonesia yang konon beraliran naif.
  • Awuy, Tommy F.: tanya Bob.
  • Red Hot Chilli Peppers: empat pemusik dari Kalifornia yang sangat populer sejak 1990-an.
  • Flaubert, Gustave: kutipan itu tentang Yesus Kristus (yang kerjanya ‘jalan-jalan di taman membawa tongkat’); sedangkan ‘teman’ yang ‘dimasukkan ke perut ikan paus’ adalah (Nabi) Yunus.
  • Van Gogh, Vincent: orang Belanda yang telinganya tinggal satu, dulu pernah melukis.
  • Kahlo, Frieda: orang Meksiko yang menghabiskan bermeter-meter kanvas untuk menggambar dirinya sendiri. Bagian ini saya tulis pada tahun 2000. Saya tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian ada pameran di Jakarta yang sepenuhnya bertema Frieda Kahlo, di mana bahkan para pelukis terlaris pun membuat tiruan lukisan Kahlo, atau melukis diri mereka sendiri bersama sosok Kahlo, atau semacam itu, sampai-sampai ada yang mengisi kanvas dengan tulisan nama Kahlo. Sejauh yang saya pikirkan, ini adalah peragaan dedikasi yang sama sekali tak bermakna, dan sebenarnya agak merendahkan harga diri karena kental sekali rasa ‘Sindrom Dunia Ketiga’ yang saya sangka sudah lama mati dan dikuburkan seiring dengan tersingkirnya Pembangunanisme. Sumbangan Frieda Kahlo kepada dunia senirupa Indonesia tidak pernah lebih besar ketimbang kontribusi kucing saya. Kalau memang Anda harus mempersembahkan suatu pameran lukisan kepada sesuatu yang diimpor dari seberang lautan, kenapa tidak McDonald’s saja? Kontribusinya pada kesehatan pelukis lebih jelas.
  • Basquiat, Jean-Michel: sebuah paket yang terdiri dari pelukis yang memborong semua gejala ketidaksehatan mental di dunia, beberapa selebriti Amerika, dan beberapa ratus liter alkohol. Selama ini diiklankan dengan gencar sampai diterima sebagai sosok brilian dalam sejarah senirupa dunia. Sungguh khas Indonesia bahwa lebih dari sepuluh tahun sesudah ketenaran Basquiat, lukisan-lukisannya dipamerkan di Bali di abad 21. Dan koran-koran berciap seolah di Amerika pun Basquiat sedang tenar-tenarnya.
  • Bad Art, Punk Art, Stupid Art: sayang sekali bukan saya yang mengarang istilah-istilah ini. Mereka itu istilah-istilah resmi senirupa internasional, setidaknya kata Oxford Dictionary of 20th Century Art. Oknum yang tersangkut di dalamnya antara lain Julien Schnabel.
  • Bob benar-benar mencat rumah Bunga Jeruk, studio Bunga Jeruk, rumah kos milik pamannya, rumah ibunya, sebuah kafe, dan sebuah galeri, semuanya di tahun 2003.
  • Penjuru yang terlupakan: Nyoman Mantra, pelukis dan seniman multimedia yang bermarkas di Lombok, Nusa Tenggara, barangkali adalah orang pertama dari kalangannya yang punya eksistensi maya pada saat nyaris tak seorang pun di antara seniman, kritikus, kurator, galeri, makelar seni Indonesia pernah dengar kata ‘internet’. Situsnya lahir pada tahun 1996, dengan rancangan grafis yang canggih untuk waktu itu, komplet dengan forum interaktif untuk diskusi seni. Alamatnya www.artmantra.com, meskipun saya tak tahu apakah masih ada di sana – sebab harga sewa wilayah maya saat ini bukan main mahalnya.
  • Foucault, Michel: orang Prancis, dianggap sebagai pemikir posmodernis.
  • Tarrantino, Quentin: orang Amerika, sutradara beberapa film yang sebenarnya bagus seandainya dia tidak ikut tampil di dalamnya. Filmografinya meliputi antara lain Reservoir Dogs, Curdled, Jackie Brown, dan serial Kill Bill. Ngomong-ngomong, ada yang tahu nggak, siapa pelukis yang pinjam film Clockwork Orange saya dan tak pernah mengembalikannya sejak 1998?
  • Gunarsa, Nyoman: seniman Bali, di Yogya menjadi patron para seniman yang lebih muda yang berasal dari pulau yang sama.
  • Russell, Bertrand: orang Inggris, yang gaya menulisnya sedemikian rupa sehingga lebih sering dianggap sebagai orang normal ketimbang filsuf.
  • Byron, Lord: penyair aristokrat Inggris
  • Fawkes, Guy: warganegara Inggris yang berniat meledakkan gedung parlemen dengan mesiu di zaman Mataram atau malah sebelum itu.
  • Manet, Edouard: pelukis dari abad ke-19. Kutipan di atas tentang potret yang dilukisnya, yang mengambil objek temannya Moore. Kutipan yang sama saya jadikan semboyan salah satu situs saya. Klik di sini.
  • Spears, Britney: sudahlah.
  • Lavigne, Avril: ibid. Tapi dia bisa main gitar.
  • Oda, Nobunaga: satu-satunya nama Jepang yang saya tulis sesuai adat aslinya, yakni nama keluarga dicantumkan lebih dulu. Dia ini idola saya waktu saya masih muda. Klik di sini.
  • Sejarah senirupa Indonesia, galeri-galeri, kurator, kolektor, dan sebagainya ada di situs saya yang lain, klik di sini.
  • Alamat situs pribadi Bob ‘Sick’ Yudhita Agung: www.geocities.com/infobobsick.

Humor Pictures
HUMOR PICTURES

 

Real life Oda Nobunaga
ODA NOBUNAGA

 

Best Asian movies
BEST ASIAN MOVIES

 

Shinsengumi
SHINSENGUMI

 

Real samurai legends
SAMURAI LEGENDS

 

All about anime movies
ANIME MOVIES

 

Real Life in Heian Era
HEIAN REAL LIFE

 

The Shadow Warrior
KUROSAWA AKIRA

 

Minamoto and Taira Clans
GREATEST SAMURAI CLANS

 

A L L -- C O N T E N T S

P R O F I L E

P I C T U R E S

P E R S O N A L

I N S U L T S

P E O P L E

A N I M A N I A

I N D O N E S I A

J A V A

E S S A Y S

S T O R I E S

P O E T R Y

H U M O R

M O V I E S

I L L U S T R A T I O N S

S A M U R A I

 

Nin

All rights reserved.
Every borrowed image at this site is put
for non-profit educational purposes only.

 

All Picture Pages at this site

 

HOME LINKS CONTACT
CREDITS COMMENTS



Site & rap
© 1996, 1997, 1998, 1999, 2000, 2001, 2002,
2003, 2004, 2005 Nin.

 

SEE NEW PAGES AT

RAINFORESTWIND U.K.

 

1